Ted Lasso (2020-2023)

Kali ini saya akan membahas salah satu series dari Apple TV+ yang berjudul Ted Lasso. Saya ingat betul sekitar tahun 2014, terdapat sebuah parodi dari NBC Sports yang diperankan oleh Jason Sudeikis, dimana ia berperan sebagai american football coach bernama Ted Lasso yang mendapatkan tugas untuk melatih salah satu klub di Liga Inggris, Tottenham Hotspurs. Parodi tersebut cukup viral pada masanya, hingga di tahun 2020, Jason Sudeikis, Bill Lawrence, Brendan Hunt, dan Joe Kelly mengembangkan series Ted Lasso di Apple TV+ dengan karakter yang sama dan latar belakang cerita yang sedikit berbeda.

Dalam series ini, Ted Lasso merupakan seorang coach di Amerika, yang mendapatkan tugas di Inggris untuk melatih sebuah klub sepakbola fiksional bernama AFC Richmond. Ini merupakan klub papan tengah (bahkan seringkali berada di urutan terbawah) yang seringkali kesulitan mempertahankan posisinya di Premier League. Saat Ted Lasso datang, AFC Richmond sedang berada di ambang relegasi. Ted sendiri diundang oleh sang pemilik club, Rebecca, yang ternyata memiliki tujuan balas dendam. Rebecca baru saja bercerai dengan suaminya, Rupert, yang merupakan mantan pemiliki AFC Richmond. Tanpa sepengetahuan Ted, Rebecca berencana untuk menghancurkan klub tersebut dengan mendatangkan pelatih yang tidak memiliki pengetahuan apapun tentang sepakbola di Inggris. Namun karakter Ted yang tulus dan apa adanya, dan gaya melatih serta kepemimpinannya yang unik, ternyata malah membuat klub tersebut mampu meraih banyak hal yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Series ini dikemas ke dalam 3 season, yang isinya menceritakan perjalanan AFC Richmond bertahan di Premier League, Championship, hingga ada masa dimana mereka berjaya kembali di EPL. Jika Anda mengharapkan series ini membahas lebih dalam tentang sepakbola, seperti teknik yang digunakan, strategi dan taktik dalam bermain bola dan semacamnya, sayangnya memang tidak terlalu banyak dari aspek tersebut yang dibahas secara detail. Melainkan series ini lebih banyak membahas tentang kehidupan, pertemanan, keluarga, dan teamwork yang dikemas secara apik lewat cerita olahraga.

Ted Lasso berisikan Slice of Life stories, yang tidak hanya mengcover kehidupan sang karakter utama, namun berhasil menyajikan cerita menarik untuk banyak karakter pendukung lainnya. Mulai dari Rebecca dengan kisah women empowerementnya, Roy Kent sang mantan atlet yang kesulitan melepaskan masa jayanya, Jamie Tartt dengan pengembangan karakternya, Nate dengan jatuh bangunnya mencari jati dirinya, dan masih banyak lagi karakter lain yang diceritakan dengan menarik di series ini. Series ini juga membawa topik-topik yang sedang hangat dibicarakan oleh show business seperti inklusivitas, hingga kesehatan mental.

Alur ceritanya juga go with the flow, tidak memaksakan setiap episode memiliki scene atau cerita yang terlalu dramatis. Bahkan ada beberapa episode yang menurut saya agak “out of nowhere” karena sama sekali tidak berhubungan dengan klub sepakbola, atau karakter utamanya. Kita seakan-akan melihat kisah asli dari klub fiktif ini, menjalani jatuh bangunnya dalam membangun hubungan dan kepercayaan dengan fans, mengatur manajemen klub untuk terus bertahan, dan yang terpenting adalah mencoba memperkuat tim untuk dapat memenangkan seluruh pertandingan hingga liga yang diikuti.

Selain itu, hal yang amat sangat saya senangi dan patut diacungi jempol untuk series ini adalah ceritanya yang tidak pernah klise. Hal ini saya rasa konsisten dari awal episode di season 1, hingga akhir episode di season 3. Series atau film bertemakan olahraga seringkali menggunakan alur yang cukup serupa, dimana tim akan mengalami kesulitan di awal, mencoba untuk melakukan perubahan, berjuang tanpa menyerah, hingga akhirnya memenangkan pertandingan atau turnamen yang diikuti. Untuk Ted Lasso, saya rasa justru lebih banyak pertandingan yang menunjukan kekalahan mereka, atau menang namun kalah gol di menit-menit terakhir, pertandingan berakhir seri, hingga ada saat dimana mereka betul-betul terelegasi. Ini sangat menarik bagi saya karena justru penonton tidak bisa menebak alur cerita yang akan disajikan. Hal yang ditonjolkan justru dinamika kelompok yang terjadi saat mereka menghadapi situasi yang justru tidak ideal.

Melihat series ini jarang menceritakan kisah yang dramatis membuat saya juga tidak bisa menebak bagaimana ending dari series ini. Bahkan untuk mencurigai series ini memiliki happy ending pun saya tidak yakin. Namun ternyata series ini memiliki alur closure yang luar biasa indahnya. Setiap karakter yang memiliki struggle dari awal cerita, akhirnya mendapatkan happy ending yang pantas didapatkan tanpa terkesan dipaksakan (untuk semua berakhir bahagia). Masih banyak kisah yang tidak sempurna, pertanyaan yang tidak terjawab, namun pada akhirnya, that’s life. Begitu banyak hal yang terjadi, bisa sesuai dengan kemauan kita, dan bisa juga tidak. Tinggal bagaimana kita menerima, menjalani, dan terus mencoba. That’s exactly the message yang saya betul-betul dapatkan dari series ini.

Let’s talk about acting, for one particular person, Jason Sudeikis. Sejujurnya saya cukup jarang mengikuti karya-karya Jason Sudeikis. Fakta bahwa ia tidak hanya memerankan Ted Lasso namun juga menjadi produser di series ini membuat saya kagum. Jason berhasil mengangat tokoh fiksional yang dulunya adalah parodi dan memerankan tokoh tersebut di dunia fiksional yang betul-betul terasa nyata. Berbicara tentang akting, di awal season saya mengira bahwa Ted Lasso memang sosok yang sempurna layaknya malaikat. Penuh optimisme, tidak ada aura negatif walaupun banyak pihak yang tidak bisa menerima kehadiran dirinya, dan selalu membantu orang lain dan merasa bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Seiring berjalannya series, penonton ditunjukan bahwa sosok Ted Lasso yang sebenarnya hanyalah manusia biasa. Dirinya memiliki masalah yang begitu besar di kehidupan pribadinya, sehingga seringkali memaksakan untuk terus terlihat bahagia, tidak meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalahnya, memendam semuanya sendiri sehingga seringkali terserang panic attack. Karakter dan kisah ini membutuhkan seseorang dengan range acting yang luar biasa. Saya betul-betul amazed melihat Ted Lasso yang bisa ceria dan terlihat tidak ada masalah di satu scene, menjadi panik, bahkan menangis dan terlihat tak berdaya dan penuh masalah di scene lainnya. Saya tidak bisa membayangkan tokoh ini diperankan oleh aktor selain Jason Sudeikis. He really did a great job in this series, no wonder cukup banyak penghargaan yang diberikan kepada Jason mulai dari Emmy Awards hingga Golden Globe Awards.

Hal pelengkap lainnya yang saya senangi adalah color grading dari series ini. AFC Richmond memiliki warna merah, biru, dan sedikit kuning untuk warna khas klub. Somehow setting di negara Inggris dengan color grading yang diatur sedemikian rupa dan cinematography yang baik mampu membuat gambar dari setiap scene Ted Lasso menjadi sangat sederhana, real, namun cantik. Selain itu, saya juga mengapreasiasi tim series ini dalam membuat klub fictional ini seakan-akan terlihat nyata. Mulai dari stadion away game yang diperlihatkan di beberapa permainan (ada Emirates Stadium, Etihad Stadium, Wembley Stadium hingga Johan Cruyff Arena), tim lawan yang walaupun tidak menggunakan pemain asli namun berhasil menunjukan detail jersey serta sponsor yang digunakan di musim tersebut, hingga penonton di stadion yang terlihat real walaupun sebetulnya adalah CGI. Berkat hal-hal ini series ini terasa begitu nyata, didukung juga oleh marketing yang baik dengan memasukan klub dan pemain AFC Richmond di FIFA 23, menjual jersey dan kit Ted Lasso lengkap yang disponsori oleh Nike, dan detail-detail kecil lain yang membuat penggemar Ted Lasso merasa “attached” dengan series ini.

Soundtrack yang digunakan juga menurut saya cukup pas. Ada beberapa momen yang sangat sesuai dengan lagu yang dimainkan. Saya ingat betul ada satu episode dimana AFC Richmond mengalami kekalahan tidak terduga di menit-menit terakhir. Pada saat itu lagu yang dimainkan adalah You’ll Never Walk Alone, lagu yang identik dengan klub Liverpool. Saking iconicnya, saya masih ingat betul scene tersebut dan momen saat lagu tersebut diputar. Tidak ada dialog, pure lirik dari lagu yang seakan-akan membantu jalannya kisah tersebut diceritakan. Original scorenya juga betul-betul menggambarkan series slice of life, terasa ringan dan sederahana, namun hangat untuk di dengar. Marcus Mumfod dan Tom Howe berperan banyak di musik series ini, yang membuat saya justru penasaran dengan karya-karya mereka yang lain.

Secara keseluruhan, saya mengakui bahwa series ini merupakan salah satu series terbaik yang pernah saya tonton. Hampir seluruh aspek dari series ini terlihat sempurna di mata saya. Saya pun tidak ragu untuk merekomendasikan series ini untuk mereka yang bahkan tidak terlalu menyukai sepakbola. Saya amat sangat jarang memberikan rating untuk series atau film yang saya tonton, unless memang sangat melekat di hati dan pikiran saya. Ted Lasso berhasil membuat saya melakukan hal tersebut, sehingga saya berani memberikan rating 9/10 untuk series ini.

Reborn Rich (2022)

2022 adalah tahun dimana saya tidak terlalu banyak menonton series khususnya drama korea. Entah kenapa akhir-akhir ini saya merasa begitu banyak drama korea on going yang cuplikannya lalu lalang di media sosial. Hal ini membuat saya kurang tertarik untuk mengikuti episodenya (walaupun ceritanya banyak yang menarik) karena tanpa menonton pun, saya sudah tahu jalan ceritanya lewat potongan video yang beredar. 

Namun ada satu drama korea yang saya (dan Ayah saya) cukup tertarik untuk ikuti, yakni Reborn Rich, drama JTBC yang tayang pada akhir 2022.

Sebelum membahas tentang Reborn Rich, saya ingin terlebih dahulu membahas drama keluaran JTBC yang menurut saya punya pattern unik. Untuk ukuran drama series dari saluran TV kabel di Korea, JTBC masih sering kalah dengan saingan besarnya, TVN. Sepemahaman saya, rating drama TV Kabel di korea tidak akan memiliki rating setinggi drama di TV Nasional (KBS, SBS, dll). Dengan kondisi seperti ini, jika ada drama dari TV kabel memiliki rating tinggi (diatas 15%), maka drama tersebut akan terbilang sangat sukses. Karena bisa dibilang proporsi pemilik akses TV kabel (yang jauh lebih sedikit dibandingkan TV Nasional), memiliki proporsi/rating tinggi untuk penonton drama tersebut. 

JTBC sendiri seringkali bersaing dengan saluran TV kabel lainnya, yakni TVN dalam hal rating drama yang ditayangkan. Namun jika diurutkan rating drama dari TV kabel di korea, bisa dibilang top 5 bahkan top 3 nya selalu didominasi oleh JTBC, yakni Sky Castle, The World of the Married, Itaewon Class, sampai Reborn Rich. Selanjutnya barulah drama-drama dari TVN yang biasanya di pimpin oleh CLOY, Reply 1988, hingga Hospital Playlist. 

Reborn Rich sendiri bercerita tentang Yoon Hyeon Woo, seorang karyawan loyal dari perusahaan besar Soonnyang Group yang mendapatkan kesempatan untuk lahir kembali ke tahun 80an menjadi cucu termuda dari group keluarga Soonyang, Jin Do Jun. Yoon Hyeon Woo yang melihat Soonyang berkembang menjadi perusahaan yang berada di kepempimpinan yang salah, bertekad untuk mengubah keadaan saat dirinya diberi kesempatan hidup sebagai Jin Do Jun. Konflik antar anggota keluarga, perebutan kekuasaan, jual beli saham, hingga kisah dibalik keterkaitan konglomerat dengan pemerintahan diceritakan dengan cukup menarik di drama ini. 

Hal unik lain yang saya sadari adalah saat pertama saya menghabiskan episode pertama drama ini, saya betul-betul tidak menyadari bahwa genre drama ini adalah fantasi. Cukup membingungkan di awal, namun latar dan setting era 80an yang muncul di akhir episode pertama sangat menarik bagi saya. Walaupun sama dengan penonton yang lain, saya cukup bingung kemana alur cerita ini akan dibawa. Sebetulnya pun bukan hal aneh jika drama korea mengangkat tema reinkarnasi, karena konsep kesempatan untuk hidup di kehidupan selanjutnya merupakan hal yang saya rasa cukup diyakini oleh sebagian besar warga korea. 

Cukup banyak opini saya mengenai drama ini, namun secara garis besar saya ingin membahas terkait acting para pemain (well mostly akan ada di Lee Seung Min), alur cerita, dan juga genre/konsep dari drama ini.  

Sedikit intermezzo, saat saya menulis ulasan ini, salah satu pemeran utama Reborn Rich sedang hangat-hangatnya dibahas netizen, yakni Song Joong Ki. Sebagai disclaimer, di ulasan ini saya tidak akan membahas apapun terkait  kehidupan pribadi sang aktor. 

Jadi kalau berbicara tentang actingnya, entah saya yang kurang banyak menonton karya SJK, saya merasa ini salah satu series yang acting SJK amat sangat “kebanting” dengan main lead lainnya, Lee Seung Min. Selama ini kita melihat SJK mampu memerankan peran iconic di dramanya yang hits, seperti DOTS ataupun Vincenzo. Ketika membicarakan kedua drama tersebut, sontak yang orang-orang akan ingat adalah sosok pemeran utamanya. 

Kali ini di reborn rich, proporsi scene dan dialog tetap didominasi oleh SJK. Ditambah lagi SJK perlu memerankan 2 tokoh yang berbeda di masa waktu yang berbeda pula. Namun presence dari SJK, bisa dibilang kalah oleh Lee Seung Min yang bahkan tidak muncul sampai akhir episode. 

Di drama ini, Lee Seung Min berperan sebagai Jin Yeong Chul, pemimpin sekaligus pendiri dari Soonyang Group, salah satu group perusahaan besar yang berperan penting dalam perekonomian Korea Selatan di era tahun 80an hingga saat ini. Jin Yeong Chul merupakan pebisnis sejati, yang akan menggunakan akal dan taktiknya untuk menaklukan para pesaingnya. Hal yang saya tangkap adalah Jin Yeong Chul tidak ingin Soonyang jatuh ke tangan yang salah. Berdasarkan kesepakatan, tahta kepemimpinan akan jatuh kepada anak pertama serta cucu pertama. Melihat kapabilitas anak-anaknya, terlihat Jin Yeong Chul belum memiliki kepercayaan penuh untuk menurunkan Soonyang Group, sampai hadir sosok Jin Do Jun. 

Walapun demikian, dinamika hubungan dan scene yang memunculkan kakek & cucu ini juga merupakan salah satu faktor penting yang membuat drama ini menarik. Dalam dramanya, terlihat betul perkembangan hubungan mereka, dari yang tidak diakui hingga menjadi andalan sang kakek. Kepercayaan yang ditimbulkan pada akhirnya dapat menekankan bahwa sosok Jin Yeong Chul bukanlah sosok jahat, namun hanya seorang pebisnis murni yang tau cara mendapatkan untung sebesar-besarnya dan mempertahankan martabat Soonyang Group. 

Kembali ke sosok Lee Seung Min, yang merupakan salah satu aktor senior di korea ini memiliki perjalanan karir yang cukup unik. Karena di usianya yang menginjak 54 tahun, saya baru menyadari bahwa Lee Seung Min baru mendapatkan peran main lead di usianya yang memasuki kepala 4. Mulai dari Misaeng, Spy Gone North, The Man Standing Next, Mr. Zoo, etc, hampir semua drama & filmnya memiliki track record yang baik. 

Sosok Jin Yeong Chul hanya muncul hingga episode 14, namun presence Lee Seung Min, dari gesture tubuhnya, cara & suaranya berbicara, ditambah dengan dialog-dialog yang sebetulnya juga tidak terlalu sulit dicerna namun banyak yang diantaranya membuat penonton berfikir, sangat memperkuat pengaruh Lee Seung Min dalam keberhasilan eksekusi cerita Reborn Rich. Mungkin saya tidak banyak menonton korean drama di 2022, namun sepertinya belum ada aktor yang mendapatkan “buzz” seperti Lee Seung Min. Buzz yang biasa muncul adalah karena aktor/aktris tertentu menunjukan penampilan yang luar biasa, namun sejauh ini hanya Lee Seung Min yang netizen harap mendapatkan Daesang (grand prize dalam malam penganugerahan/awards show) untuk Reborn Rich. 

Selanjutnya terkait dengan genre atau konsep dari drama ini sendiri yang sebetulnya mirip dengan selayaknya drama dengan setting 80an pada umumnya. Namun yang menarik adalah karena Jin Do Jun yang dilahirkan kembali di era jauh sebelum Yeon Hyeon Woo lahir. Sekilas memang mirip dengan alur cerita dengan tema time travel, yakni karena sudah terjadi di masa depan, kita bisa menganitisipasi atau memprediksi hal yang nantinya akan terjadi. Namun yang menarik disini adalah keterkaitan cerita masa lalu dengan kondisi korea sesungguhnya, ada pembahasan mengenai reuni Seo Taiji, prediksi World Cup 2022 dimana Korea Selatan berhasil memasuki Semi Final, serta konflik politik & pemerintahan yang terjadi di masa-masa pemberontakan. Terlebih lagi, Soonyang Group juga dianalogikan sebagai salah satu perusahaan besar yang masih bertahan di korea hingga saat ini. Lebih spesifik lagi Soonyang Group dan kondisi di dalamnya dianggap menggambarkan salah satu perusahaan teknologi besar yang berasal dari korea selatan. Hal ini yang membuat drama Reborn Rich cukup relate dengan berbagai rentang usia. Mau tua ataupun muda, banyak kejadian dan momen besar yang sudah terjadi di korea selatan, hanya saja Jin Do Jun memanfaatkan momen-momen ini untuk meraih tujuannya dalam mengambil alih Soonyang Group.

*disclaimer: might contain spoiler.

Acting para pemain yang cukup apik, latar dan setting drama era korea masa lalu yang sangat relatable, sayangnya perlu sedikit “diganggu” dengan ending yang dianggap kurang memuaskan bagi sebagian besar penonton, termasuk saya (dan Ayah saya :)). Dengan build up cerita yang cukup kompleks di 14 episode, banyak penonton yang berharap Jin Do Jun lah yang mengakhiri cerita Reborn Rich dengan memenangkan pengambilan kekuasaan di Soonyang Group. Namun yang terjadi adalah di episode 16, Yoon Hyeon Woo yang diasumsikan sudah tewas di episode pertama, kembali hidup (dari kondisi koma) dan melanjutkan perjalanan Jin Do Jun melalui tubuh Yoon Hyeon Woo. 

Saya rasa sebetulnya hal ini masih make sense untuk dilakukan. Selama tujuan akhirnya tercapai (mengambil alih kekuasaan Soonyang) terlepas siapapun yang menjalani, entah Jin Do Jun atau Yoon Hyeon Woo. Tapi saya rasa ini salah satu hal yang seringkali terjadi di drama korea, yakni build up yang cukup panjang dan intens, terkadang ditutup dengan ending yang antiklimaks. Hal yang sama terjadi dengan drama JTBC yang booming sebelum2nya, World of the Married dengan open ending dari nasib anak pemeran utama, serta Sky Castle yang saking populernya ditambahkan beberapa episode yang pada akhirnya ditutup dengan pemeran utama yang kembali menjadi antagonis. 

Khusus untuk 2 drama tadi, walaupun endingnya mengecewakan, penonton jarang membahas hal tersebut karena mungkin alur cerita yang sudah cukup kuat. Namun Reborn Reach mendapatkan treatment yang cukup berbeda, bahkan dinobatkan sebagai drama korea dengan ending terburuk sepanjang masa. Entah karena memang temanya adalah balas dendam, namun karena ending yang mengecewakan, seakan-akan usaha balas dendam yang dilakukan sebelumnya menjadi sia-sia.

Secara keseluruhan, saya tetap menikmati drama ini. Poin terkuat tetap ada di akting Lee Seung Min, dan konsep era 80an yang mereka angkat. Selain itu, untuk ukuran drama dengan cerita yang kompleks dan juga menggunakan banyak term bisnis & jual beli saham, drama ini tidak membuat penontonnya pusing namun justru membuat penonton yang awam menjadi paham akan topik ini. 

How I Met Your Mother (2005-2014)

Di post kali ini saya akan membahas sebuah series yang amat sangat melekat di diri saya. Series ini merupakan satu-satunya series yang saya tonton ulang seluruh episodenya (kecuali Season terakhir – 9) lebih dari belasan kali. Banyak dialog, lirik OST, alur cerita yang secara tidak sadar saya cukup hafal di luar kepala. Saya bisa bilang bahwa series ini adalah salah satu comfort series saya dalam konteks non korean drama.

Pertama kali menonton series ini adalah saat saya SMP, dimana channel TV kabel yang paling sering saya tonton adalah Star World (saat ini namanya berubah menjadi Fox Life) dan beberapa series US yang saat itu sedang tayang salah satunya adalah How I Met Your Mother (HIMYM). Saya tertarik untuk menontonnya karena saya menganggap konsep series ini cukup unik, dimana series ini merupakan cerita flashback sang Ayah, tentang – seperti judulnya – bagaimana sang Ayah bertemu istrinya, yakni Ibu dari anak-anaknya.

Membahas series ini tidak bisa lepas dari perbandingannya dari series yang jauh lebih sukses dan lebih hits (ya, saya pun mengakui hal tersebut) yakni Friends. Saya pribadi sudah menonton semua episode dari kedua series ini, dan saya menyukai kedua series ini. Disatu sisi saya paham kenapa series ini seringkali dibandingkan, namun disisi lain menurut saya tetap ada beberapa hal yang membuat series ini sebetulnya berbeda satu sama lain.

Hal yang persis sama dan menurut saya juga cukup obvious adalah cerita kedua series ini berkisar tentang a group of friends yang tinggal di kota New York, hangout bersama di suatu tempat secara rutin dan selalu duduk di meja yang sama, masing-masing memiliki kisahnya sendiri terutama dalam urusan cinta dan adanya love interest di dalam group pertemanan ini.

Disisi lain, menurut saya kedua series ini juga memiliki kelebihannya masing-masing. Friends definitely memiliki level of humor yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan HIMYM), Friends juga memiliki storyline yang menarik, dan betapa iconicnya series ini mulai dari tokoh, barang (pintu ungu dengan bingkai kuning misalnya), lay out apartemen, central park cafe, dan lain-lain yang pada akhirnya mampu memberikan inspirasi creator lain untuk membuat cerita seperti ini – salah satunya adalah HIMYM. Sedangkan HIMYM memiliki konsep series yang cukup unik terutama dari segi penyampaian cerita (past stories, way storytelling, bermain dengan waktu) dan HIMYM juga memiliki storyline yang juga menarik.

Namun dari segi cerita dan narasi, saya lebih banyak menemukan insight dari series HIMYM. Ini juga bisa jadi terpengaruh karena saya sendiri tumbuh dengan menyaksikan series ini dari awal sampai tamat. Saya belajar tentang masalah percintaan orang dewasa – during the process of getting to know each other, pacaran, putus, menikah, masalah keinginan punya anak sampai kesulitan memiliki anak, masalah tentang pekerjaan – jobless, finding passion, family issues, dan masalah-masalah hidup lain banyak dibahas di series ini. Dengan usia saya yang masih SMP, SMA dan kuliah saat menonton ini, banyak insight yang saya dapatkan dan ketika saya sudah bekerja seperti saat ini, saya akhirnya melihat sendiri konflik-konflik tersebut secara nyata. Tentunya dengan culture yang berbeda di timur dan barat juga menghasilkan bentuk konflik yang sedikit berbeda. Namun secara garis besar kegelisahan yang dialami seseorang di usia late 20 dan early 30 tidak akan jauh berbeda satu sama lain dimanapun mereka tinggal dan hal tersebut cukup tergambarkan dari series ini.

Jika saya bisa mempoint out beberapa hal yang menurut saya menarik tentang series ini, mungkin ada 5 hal yang ingin saya bagikan:

1. Konsep Series

Saya sudah menyebutkan sebelumnya bahwa konsep series ini dengan bentuk story telling ke masa lalu amatlah menarik perhatian saya, namun saya rasa poin tersebut mudah ditangkap oleh sebagian besar orang yang menonton series ini. Hal lain yang tidak saya sadari adalah betapa seringnya para creator dan sutradara menggunakan konsep timing. Contohnya di episode The Burning Beekeeper (Season 7, Episode 5). Satu episode betul-betul menjelaskan apa yang terjadi hanya dalam waktu 5 menit dari berbagai macam sudut pandang.

The Burning Beekeeper (Season 7, Episode 5)

Ada juga episode Three Days of Snow (Season 4, Episode 13) dimana HIMYM menceritakan kisah 3 hari dan apa yang terjadi untuk 5 karakter ini. Penonton pun tidak menyadari bahwa cerita episode ini terbagi menjadi 3 hari, sampai akhirnya disebutkan di akhir episode.

3 Days of Snow (Season 4, Episode 13)

2. Life Lesson

Saya yakin betul banyak sekali series diluar sana yang membahas tentang slice of life. Baik tentang kehidupan sekolah, perkuliahan, pekerjaan, pernikahan, keluarga dan lain-lain. Untuk HIMYM, hampir semua konflik yang dialami oleh late 20s dan early 30s diceritakan dalam beberapa episode. Salah satu episode yang paling menarik untuk poin ini adalah Robots vs Wrestlers (Season 5 Episode 22).

Robot VS Wrestlers (Season 5, Episode 22)

Episode ini menunjukan bahwa wajar jika kita merasa stuck akan kehidupan kita. Melihat orang lain seakan-akan sudah berjalan bahkan berlari jauh, sedangkan kita masih ada di posisi yang sama. Tapi, yang paling penting adalah pemahaman bahwa Life is not a competition. Semua orang memiliki timelinenya masing-masing. Kita tidak akan stuck di tempat ini selamanya, karena sesuatu yang indah dan berharga sudah menanti kita, walaupun bukan untuk saat ini.

3. Easter Eggs

Setiap series atau film pasti memiliki easter eggs yang secara tidak sengaja ataupun sengaja ditampilkan. Masih berkaitan dengan konsep waktu, menurut saya easter eggs HIMYM cukup menarik karena berhubungan satu sama lain dengan konsep timeline yang amat sangat panjang (dari saat Ted lajang hingga memiliki anak). Dari sekian banyak easter eggs yang menarik, menurut saya easter eggs yang paling legendaris adalah the yellow umbrella. Yellow umbrella muncul dari season 1 hingga season 9, dimana bermula dari payung yang ditinggalkan di sebuah club oleh Tracy, diambil secara tidak sengaja oleh Ted, ditinggalkan di apartement Tracy saat Ted berkencan dengan roomatenya, Tracy secara “ajaib” menemukan kembali payung yang selama ini hilang, sampai akhirnya mereka bertemu di stasiun kereta, di hari pernikahan Robin dan Barney. Secara storyline, untuk yellow umbrella seringkali dimunculkan, tanpa diceritakan secara terburu-buru. Penonton tetap dibuat penasaran dan bahkan tidak sabar melihat muka The Mother. Saya pribadi melihatnya sebagai pertanda bahwa bagaimana pun juga, The Mother ada diluar sana, dan bukan wanita-wanita yang saat itu bersama dengan Ted (Robin, Stella, Victoria, etc).

4. The Characters

Dari 5 main character series ini, saya bisa bilang bahwa setelah menonton ulang series ini berkali-kali, saya menyukai semua 5 karakter ini dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Saya yakin setiap orang yang menonton series apapun dan menyelesaikan semua seasonnya akan merasakan hal yang sama, begitu pula dengan saya. Sosok dan karakter 5 orang ini sangat melekat di hati saya, sehingga tidak jarang saya menemukan sosok-sosok yang memiliki karakter cukup mirip dengan mereka di real life. It was quite an experience.

5. Let’s Talk about the Ending. Alternate ending and the real ending. (Might contain spoilers)

Dari sekian banyak hal yang saya senangi tentang series ini, saya perlu mengakui bahwa ending dari HIMYM pantas untuk masuk ke dalam list one of the worst endings of all time. Hal yang akan saya bahas disini mungkin berisi spoilers, tapi dengan ending buruk yang cukup booming saat itu dan series yang sudah selesai beberapa tahun yang lalu saya rasa hampir semua orang tau ending dari HIMYM.

The mother died.

Ted ended up with Robin.


Dua kalimat itu sudah cukup menggambarkan alasan mengapa saya tidak setuju akan ending yang diberikan.

Hal unik yang saya temukan juga saat menonton series ini berulang-ulang kali adalah, kini saya paham kenapa sang creator menyimpulkan bahwa the whole series adalah cerita tentang bagaimana seorang Ted Mosby amat sangat mencintai Robin. Dari 9 season yang ditayangkan, 8 season (atau mungkin mostly hampir 6 season sendiri) ceritanya tidak bergerak dari Ted dan Robin. Barney adalah selingan yang sebetulnya menyelamatkan series ini untuk ended up in the wrong way (ironinya endingnya betul-betul ke arah yang salah). Wanita-wanita yang hadir di kehidupan Ted juga menurut saya tidak ada yang ceritanya sedalam Robin. Even untuk Stella yang left him at the altar, Ted dan Robin punya sesuatu yang berbeda.

Sampai akhirnya muncul Tracy.

Tracy is great. Perfect. Bahkan at some point way to perfect untuk menjadi jodoh seorang Ted Mosby. Kehadirannya pun sebetulnya tidak terlalu tiba-tiba, karena berbagai hint dengan yellow umbrella sudah sering dimunculkan bahkan dari season pertama. Walaupun sosok aktrisnya (Cristin Milioti) baru muncul di akhir season 8 namun setidaknya clue dari Yellow Umbrella menunjukan bahwa she’s out there and you’ll meet her someday.

Dari clue tersebut pun saya sebagai penonton diyakinkan bahwa Robin is a chapter, but not the last chapter. Robin sebetulnya bisa dijadikan sosok yang membuat Ted semakin mengenal dirinya sendiri.

Hal utama yang saya kurang sukai adalah bagaimana Tracy tiba-tiba meninggal, how season 9 seems rushed dan “kosong”, di sisi lain juga terlalu “padat” namun hancur di episode terakhir. The whole season adalah tentang pernikahan Robin dan Barney yang pada akhirnya mereka bercerai di episode terakhir.

Intinya bukan hanya endingnya saja tapi the whole season 9 menurut saya mengecewakan.

Itulah yang membuat saya juga tidak merasa alternate ending membantu. Karena di alternate ending ini walaupun Ted tetap bersama Tracy, kita belum tau apakah Robin masih bersama Barney atau tetap bercerai.

Jika masih bersama, well good they’re meant to be and perfect for each other. Jika tidak, kemungkinan Robin juga masih mencintai Ted amatlah besar disini.

Terlepas dari ending yang kurang saya sukai, in overall tetap saja ini merupakan comfort series terbaik untuk saya. Sedih juga rasanya saat mengetahui HIMYM sudah tidak ada di Netflix, dan sekarang akan cukup sulit untuk mencari website atau platform legal yang menyediakan seluruh episode secara lengkap.

Kalau saya diminta mengutip best quotes dari series ini, saya akan memilih “The great moments of your life won’t necessarily be the things you do, they’ll also be the things that happen to you.” – Ted Mosby

Thank you HIMYM for the great memories.

You will always be legen..wait for it..DARY!