Succession (2018-2023)

Di post sebelumnya saya membahas tentang series Ted Lasso, yang cukup menarik perhatian saya dikarenakan parodi skitnya di NBC untuk promosi Liga Inggris. Mengikuti berita dan update Ted Lasso hingga award yang didapatkan, membuat saya penasaran akan series lain yang juga mendominasi Golden Globe Awards serta Primetime Emmy Awards selama beberapa tahun terakhir, yakni Succession. Series ini berhasil mendominasi berbagai macam kategori, namun yang lebih menarik perhatian saya adalah fakta bahwa mereka bisa mendapatkan beberapa nominasi sekaligus di dalam satu kategori, contohnya seperti Jeremy Strong dan Kirian Culkin di Best Actor atau Nicholas Braun, Matthew Macfadyen, dan Alexander Skarsgard di Best Supporting Actor. Banyaknya rekognisi yang didapatkan juga menunjukan bahwa Succession merupakan drama yang memiliki kualitas baik dan worth to watch. Saya pun mengakui hal tersebut dan berani mengatakan bawah ini merupakan salah satu series terbaik yang pernah saya ikuti.

Succession sendiri merupakan series dengan genre satirical black comedy yang dibuat oleh Jesse Armstrong, sosok yang memang cukup berpengalaman dalam menghasilkan karya di genre tersebut. Series ini di ditayangkan di HBO serta platform streamingnya yakni HBO GO selama 4 season dari tahun 2018 hingga 2024. Succession sendiri bercerita tentang Logan Roy, yang datang ke Amerika saat jaman perang dunia 2 dan berhasil membangun perusahaan bernama Waystar Royco. Banyak penonton yang menganalogikan keluarga Roy seperti keluarga konglomerat yang memegang kontrol di banyak industri besar, terutama di bidang media. Dimana mereka akan memiliki kendali tidak langsung terhadap pemerintahan melalui berita-berita yang mereka sajikan, serta mempermainkan koneksi-koneksi bisnis yang ada untuk mempengaruhi perekonomian negara. Perusahaan ini juga merupakan perusahaan keluarga yang kekuasaan dan posisi strategisnya cenderung akan diberikan kepada anggota keluarga tersebut. Fokus ceritanya pun membahas tentang pengalihan kekuasaan dari Logan Roy yang mengalami isu kesehatan, kepada 3 anak Logan, yakni Kendall, Siobhan (Shiv), serta Roman. Ada juga Connor yang merupakan anak pertama, namun tidak tertarik dalam kompetisi kekuasaan ini dan lebih memilih untuk menjadi politisi.

Melihat perebutan kekuasaan menjadi topik utama, 3 karakter utama kakak beradik ini sama-sama diperlihatkan akan kelebihan dan kekurangan yang unik, sehingga cukup sulit bagi penonton untuk menebak siapa yang akhirnya akan mendapatkan posisi tersebut. Tidak jarang juga series ini memperlihatkan betapa greedynya mereka terhadap kekuasaan (bahkan uang mungkin sudah tidak jadi pertimbangan utama lagi). Namun uniknya, dibalik itu mereka tetap keluarga yang peduli dan saling menyayangi walau tidak secara eksplisit diperlihatkan.

Sekilas dari segi premis cerita, memang tidak begitu unik karena cukup banyak series yang membawa tema yang serupa. Namun hal yang menurut saya menonjol dari series ini adalah kombinasi dari berbagai aspek yang membuat cerita ini terasa begitu nyata. Mulai dari acting pemain utama dan pendukung yang luar biasa, betapa naturalnya interaksi antar karakter, penyampaikan dialog yang pas, script yang terasa real hingga beberapa detail mulai dari setting tempat, cinematography, original score, ekspresi atau mimik wajah karakter di scene tertentu, hingga beberapa hidden message yang begitu melengkapi sempurnanya series ini.

Cukup banyak hal yang sebetulnya bisa saya bahas, namun di tulisan kali ini saya akan lebih membahas mengenai beberapa karakter yang diperankan dengan sangat baik oleh para aktor dan aktrisnya, sehingga mampu memiliki presence yang setara kuatnya di sepanjang series ini. Saya memang bukan ahli atau tidak memahami betul terkait bermain peran atau akting, namun sebagai penonton saya betul betul mengapresiasi kinerja dari para aktor ini sehingga dapat membuat masing-masing karakternya menjadi ikonik. No wonder jika kita melihat nominasi award untuk series, maka aktor dari Succession dengan mudah mendominasi kategori ini.

Brian Cox as Logan Roy

Logan no doubt merupakan karakter terkuat sepanjang series ini. Jika diperhatikan, cukup banyak dialog yang satire (bahkan one liner) dari Logan yang membuat karakter ini cukup memorable. Logan Roy digambarkan sebagai seorang businessman ahli namun memang sudah tidak terlalu fit, sehingga banyak keputusan yang janggal dan tidak bisa ditebak datang dari Logan. Menurut saya, beberapa plot twist dari series ini memang tidak berasal dari keseluruhan cerita di suatu episode, melainkan dari omongan serta gerak gerik Logan Roy yang membuat anak-anaknya serta staff perusahaannya juga bingung dan sulit memahaminya. Selain itu, walaupun Logan memiliki cara yang berbeda dalam berkomunikasi dengan masing-masing anaknya, menurut saya series ini berhasil membuat anak-anaknya berada di level yang ‘setara’ di mata Logan. Dalam artian penonton pun tidak bisa menebak siapa anak yang sebetulnya Logan paling percaya.

Jeremy Strong as Kendall Roy

Dari keempat anak Logan Roy, menurut saya Kendall memang pantas dijadikan karakter utama dalam perebutan kekuasaan ini. Jika dibandingkan dengan saudara lainnya, Kendall terlihat seperti seseorang yang memiliki pengalaman yang mumpuni di dunia bisnis. Namun uniknya, sejak awal season sebetulnya Kendall diperlihatkan seperti orang yang justru tidak capable, terlepas dari pengalamannya. Saya merasa Jeremy Strong sangat apik dalam memerankan Ken karena cukup banyak momen yang membuat saya tidak nyaman hanya karena pembawaan Kendall Roy saat berbicara. Jeremy Strong sangat mampu menunjukan karakter yang sungguh paranoid dan secara konsisten membutuhkan validasi. Ditambah dengan historical addictionnya terhadap drugs, seluruh penggambaran karakter tersebut secara konsisten digambarkan Jeremy Strong dengan baik hingga episode terakhir.

Kieran Culkin as Roman Roy

Dari keempat kakak beradik di Roy family, karakter Roman merupakan sosok yang amat sangat membutuhkan validasi sang ayah, bahkan lebih dibandingkan Ken. Roman juga merupakan karakter yang tidak bisa ditebak, terutama untuk tingkah serta langkah selanjutnya. Ia seringkali melakukan tindakan yang diluar nalar dan tidak bisa dipahami, namun disatu sisi ia tetap memiliki ambisi yang tinggi. Sayangnya, kombinasi dari karakteristik tersebutlah yang membuat Roman seringkali gegabah dalam mengambil keputusan, sehingga memberikan dampak negatif yang cukup signifikan terhadap perusahaan. Roman pun tidak peduli karena perasaan neglected yang menempel di dirinya dari kecil hingga dewasa membuatnya melakukan segala cara untuk mendapatkan perhatian ayahnya. Karakter ini diperankan oleh Kieran Culkin, yang bisa dibilang sosok aslinya memiliki watak serta cara bicara yang sangat mirip dengan Roman Roy. Hal ini terlihat dari saat Kieran menerima beberapa award atas perannya sebagai Roman, banyak yang melihat bahwa sosok yang sedang melakukan speech di panggung, tidak ada bedanya dengan Roman Roy. Saya melihat ini sebagai suatu keuntungan untuk Kieran, sehingga mampu memerankan Roman dengan sempurna.

Sarah Snook as Siobhan (Shiv) Roy

Sebagai satu-satunya anak perempuan Logan, menurut saya Sarah Snook sangat mampu membuat karakter Shiv iconic dan tidak tertutupi sama sekali oleh karakter lainnya. Hal ini menarik karena Shiv merupakan karakter yang justru tidak terlibat sejak awal dalam hal penerusan kekuasaan, karena Shiv fokus bekerja di dunia politik dan sudah cukup memiliki nama yang baik di bidangnya. Namun seiring berjalannya waktu, Logan menunjukan kepercayaannya serta peluang untuk Shiv dalam mengikuti ‘pertarungan’ antar saudara ini. Mulai saat itu, kita bisa melihat ambisiusnya Shiv dalam mencapai posisi tertentu (terutama CEO), bahkan saya pribadi terkadang lupa bahwa dibandingkan kedua saudaranya, Shiv sama sekali tidak memiliki pengalaman di dunia bisnis. Hal yang menjadi kekuatannya adalah kemampuan bernegosisasi yang ternyata juga tidak cukup. Terbukti bahwa ada momen dimana Shiv memegang kendali akan perusahaan, namun hasilnya tidak berjalan dengan baik dan dengan mudahnya Shiv dikontrol oleh saudaranya sendiri.  

Matthew Macfadyen as Tom Wambsgans

Karakter Tom Wambsgans adalah karakter tipikal dimana ia menikahi Perempuan dari keluarga konglomerat (Shiv) dan berusaha untuk mendapatkan kekuasaan yang setara dengan anggota keluarga lainnya. Awalnya hal tersebut memungkinkan, dikarenakan Shiv yang tidak tertarik masuk ke dunia bisnis. Namun things got complicated ketika Shiv tiba-tiba tergiur akan tawaran kekuasaan sehingga memutuskan untuk ikut ‘berperang’ dengan saudara-saudarannya. Meskipun demikian, secara implisit sebetulnya Tom memiliki power yang cukup signifikan walaupun dengan statusnya yang bukan keluarga kandung. Hal ini dikarenakan Tom dipercaya untuk memegang perusaahan media Waystar yang berperan amat sangat penting untuk hubungan perusahaan dengan negara.

Selain itu, dinamika hubungan antara Tom dan Shiv juga menarik, karena penonton dibuat untuk terus berfikir apa intensi sebenarnya dari hubungan mereka selama ini. Saya pribadi tidak melihat bahwa ini sesederhana Tom yang ingin climbing the ladder dengan memanfaatkan keluarga istrinya. Somehow ada perasaan peduli, protektif, serta pemahaman mendalam antara satu sama lain yang membuat mereka terlihat seperti ditakdirkan untuk bersama. Namun disatu sisi, terlihat juga bahwa hubungan mereka amat sangat painful jika terus dipertahankan.

Nicholas Braun as Greg Hirsch

Jika ditanya siapa karakter favorite saya, saya bisa menyebutkan nama Greg Hirsch atau bagi Sebagian orang melihatnya sebagai Greg Roy. Saya ingat betul saat episode pertama dan sosok Greg muncul, saya tidak mengira bahwa ia merupakan salah satu main cast karena statusnya sebagai keponakan. Selain itu, seluruh gerak gerik, nada bicara, ditambah juga dengan dialog serta penggambaran karakter, membuat karakter Greg amat sangat painful (bahkan sudah melewati level cringe) untuk ditonton. Tidak jarang saya sebagai penonton mengharapkan Greg untuk diam dan pergi, karena presencenya memang berhasil membuat kesan disturbing yang ditunjukan lewat image bodoh dan polos yang dimiliki. Meskipun begitu, Greg punya kecerdasannya sendiri yang saking tidak terlihatnya, banyak memegang kendali akan momen-momen besar yang terjadi di Waystar Royco. Tidak heran bahwa meskipun terlihat mengganggu, tidak pernah sekalipun keluarga Logan betul-betul membuang Greg. Aliansi antara Tom dan Greg juga menurut saya merupakan salah satu highlight dari series ini, interaksi mereka (yang mostly questionable) justru membuat dinamika ceritanya semakin menarik dan juga menghibur.

I can go on and on about the casts, karena tidak hanya main cast, the other supporting cast atau bahkan guest cast yang muncul hanya di beberapa season/episode juga mampu menunjukan karakter yang kuat. The whole dynamic of the story serta penggambaran karakter yang sangat sesuai membuat kita percaya bahwa keluarga ini seakan-akan ada di dunia nyata. Hanya dengan melihat karakternya saling berinteraksi dan berbisnis, hal tersebut memberikan kesan realistis dan amat sangat mungkin (atau bahkan sudah) terjadi dan mampu dilakukan oleh keluarga-keluarga yang berkuasa di belahan dunia manapun.  

Sekilas, Succession juga terlihat tidak memiliki plot yang unik, ditambah dengan setting ‘dunia kerja’ atau ‘keluarga kaya’ yang tidak mengandalkan terlalu banyak produksi yang heboh. Namun menurut saya, justru hal tersebut yang menjadi daya tariknya. Mereka berhasil menghasilkan kualitas yang baik dari segi writing, acting, directing, production, serta detil yang berkaitan dengan jalannya dunia bisnis dari bisnis keluarga. Secara keseluruhan, saya sangat memuji drama ini dan betul-betul merekomendasikannya kepada Anda yang tertarik dengan series genre satire dengan lingkup perusahaan di keluarga konglomerat.

The Woman in the House Across the Street from the Girl in the Window (2022)

[Might Contain Spoilers]

Saat saya menulis sebuah review tentang series atau film di blog ini, saya cenderung menghindari konten spoiler. Simply karena mungkin ada beberapa orang yang bisa saja belum menonton series atau film tersebut. Sehingga saya lebih banyak menekankan kepada pendapat saya tentang keseluruhan film seperti alur cerita secara garis besar, aktor dan aktris yang berperan di dalamnya, original score, cinematography, director, screenplay, dan berbagai hal lainnya yang menurut saya menarik.

Namun, khusus untuk series Netflix ini, saya menulisnya langsung setelah saya menyelesaikan seluruh episodenya. Setelah menonton series ini, menurut saya ada poin utama yang saya ingin share dan hal ini cenderung mengandung spoiler atau plot twist yang terjadi dalam series ini.

Series Netfix ini berjudul “The Woman in the House Across the Street from the Girl in the Window”. Ya, dari segi judul sudah cukup menarik perhatian saya karena amat sangat panjang dan cenderung sulit untuk disebutkan. Series ini tayang hari Jum’at, 28 Januari 2022. Jumlah episodenya hanya ada 8, dengan durasi setiap episode cukup singkat yakni 25 menit (belum termasuk end credits).

Series ini bercerita tentang Anna, yang hidup dengan issue di kesehatan mentalnya. Anna kehilangan putri semata wayangnya tiga tahun lalu dan juga bercerai dengan suaminya. Kondisi mental Anna membuat hidupnya berjalan dengan tidak stabil. Anna seringkali tidak bisa membedakan mana realita dan imajinasinya karena seringnya Anna berhalusinasi.

Cerita memuncak saat rumah kosong di depan rumah Anna kedatangan penghuni baru. Beberapa masalah pun mulai muncul dengan premis dimana Anna seringkali duduk di bangku dekat jendela, meminum obat yang diresepkan sambil meminum berbotol-botol red wine sembari memperhatikan kegiatan tetangga barunya tersebut. Dimana memang pada akhirnya cukup banyak kejadian-kejadian janggal yang terjadi – termasuk pembunuhan.

Series dengan tone gambar yang cukup dark, cerita psychological thriller, dan terdiri dari banyak plot twist ini mengingatkan saya akan series You dan Clickbait. Perbedaannya memang untuk series You, fokus cerita sudah ada di male lead yang memang seorang psikopat. Lalu untuk Clickbait, setiap episodenya memang membahas sudut pandang dari masing-masing tokoh yang ada, sehingga tidak terlalu fokus di main lead.

Namun untuk series The Woman in the House Across the Street from the Girl in the Window, dengan kondisi female lead Anna yang dari awal dijelaskan memiliki issue di kesehatan mental dan seringnya Anna berhalusinasi, menurut saya justru ini membuat penonton tidak henti-hentinya menebak cerita yang sedang berjalan. Saya sebagai penonton seringkali menebak setiap scene dan cerita yang muncul, dengan bertanya apakah ini realita atau hanya halusinasi Anna saja. Sejujurnya pembawaan cerita seperti ini menurut saya cukup menarik sehingga secara alur tidak membosankan.

Selain itu dengan durasi kurang lebih 25 menit di setiap episodenya, dengan fokus cerita tidak terlalu bercabang menurut saya membuat series ini cukup menarik untuk di binge watch. Hal yang membuat series ini terlihat rumit hanyalah ketidakjelasan akan mana realita dan halusinasi Anna, serta beberapa plot twist yang muncul di setiap episode. Tapi hal ini tidak membuat penonton (setidaknya saya) bingung atau merasa lost di tengah jalannya cerita.

[Spoiler Part]

Saat saya pertama kali melihat judulnya, saya sudah berfikir pasti ada alasan kenapa judul dibuat sepanjang dan sekompleks ini. Saya pun berfikir kemungkinan hal ini dilakukan untuk strategi marketing belaka. Dimana dengan judul panjang ini, entah orang akan tertarik untuk menonton atau tidak, setidaknya mereka aware bahwa ada series di Netflix yang baru saja tayang dengan judul yang cukup panjang.

Namun setelah menonton series ini, saya baru menyadari bahwa inti cerita sebetulnya sudah disebutkan di judul yang panjang ini. Judul ini merefer kepada dua subjek utama yakni “The Woman” yang mengacu kepada sosok wanita dewasa, serta “The Girl” yang mengacu kepada sosok perempuan yang lebih muda, atau bahkan bisa dianggap anak kecil. Di series ini, sosok “The Woman” yang menjadi pemeran utama hanyalah Anna, dan “The Girl” hanyalah Emma, sang anak perempuan dari tetangga baru Anna, Neil. Sosok perempuan muda yang lain adalah Elizabeth. Namun meninggalnya Elizabeth tiga tahun lalu sudah cukup menjelaskan bahwa di kasus-kasus yang terjadi di series ini, Elizabeth tidak mungkin berperan banyak (selain ke kondisi mental Anna sendiri).

Kompleksnya cerita, alur dan karakter untuk menemukan siapa pembunuh utamanya memang baru diungkapkan di episode 8. Dimana sesuai dengan yang saya sebutkan sebelumnya, Emma (yang masih berusia sekitar 9 atau 10 tahun) adalah sosok dibalik penyerangan dan pembunuhan yang ada di series ini. Fakta ini sebetulnya membuat saya cukup kaget bukan dari segi plot twistnya. Namun dari segi pengambilan keputusan sang creator bahwa pelaku utama dari kasus pembunuhan yang terjadi (hampir 3 kali) adalah sosok seorang anak kecil.

Apakah seseorang anak kecil bisa melakukan semua hal ini? Menurut saya iya. Banyak alasan dibalik kenapa hal keji ini dilakukan oleh seorang anak kecil, seperti yang kita bisa lihat di berita. Namun yang agak disayangkan di series ini adalah background story mengapa Emma membunuh ibunya, ayahnya, serta guru SDnya amat sangat lemah. Cara Emma membunuh ketiga orang ini, dan juga menyingkirkan mayat salah satu korban juga tidak dijelaskan dengan clear. Secara fisik Emma sangatlah kecil, kalaupun memang Emma mampu menyingkirkan tubuh korban, namun cara Emma membuat TKP terlihat clear, rasanya terlalu jenius untuk seukuran anak kecil (unless jika Emma sudah belajar banyak terkait hal ini).

Selain itu, saya cukup wondering apakah nantinya setelah series ini booming atau sudah semakin banyak yang menonton, pilihan anak kecil menjadi psikopat menjadi perdebatan atau tidak. Saya sendiri belum menemukan banyak cerita di series atau film dengan psikopat yang diperankan anak kecil. Seringkali saya berfikir, tontonan seperti ini, atau bahkan untuk aktor cilik yang memerankan peran psikopat, sebetulnya cukup berisiko. Tidak hanya untuk penonton tapi juga sang aktor, simply karena usia mereka masih sangat muda dan belum tentu paham akan hal ini di kehidupan nyata. Bahkan worst casenya, jangan sampai ketidakpahaman tersebut justru membuat mereka berfikir bahwa hal tersebut mungkin dan bisa dilakukan oleh anak seusia mereka.

Sejauh ini, review atau pendapat penonton yang saya temukan di social media (terutama Twitter), memang tidak banyak membahas tentang poin ini. Cukup menarik karena memang lebih banyak yang membahas kejanggalan judul yang terlalu panjang (sampai banyak yang mengira ini series parodi dari The Girl on the Train dan The Woman in the Window), cerita plot twist yang membingungkan (sebagian juga berfikir tidak masuk akal), dan banyaknya orang menilai series ini aneh.

Overall cerita dari series ini sebetulnya cukup menarik untuk diikuti, namun memang memiliki closure yang tidak memuaskan. Karena selain background story pelaku yang tidak jelas, hal ini ditambah juga dengan ending yang open (saya belum bisa menilai apakah scene tersebut perlu atau tidak), memang menambah kontribusi “kelemahan” series ini. Hal ini amat sangat disayangkan karena jika punya kesimpulan cerita yang kuat, series ini tidak akan menjadi “selemah” atau yang netizen Twitter bilang, “seabsurd” ini. Walaupun begitu, setidaknya saya cukup senang bisa melihat Kristen Bell yang imagenya sudah terlalu melekat dengan Anna Frozen, akhirnya muncul di series psychological thriller ini. She did a great job by the way, dan betul-betul outshining the other cast – even the other main lead.

Apakah saya akan merekomendasikan series ini? Saran saya jika ingin psychological thriller yang lebih menarik, bisa menonton You dan juga Clickbait. Tapi jika Anda bisa menerima sedikit keabsurdan dari sebuah cerita thriller, you can try this series too.

Happy watching.

The Silent Sea (2021)

Tahun ini memang tahunnya Netflix Korea. Investasi dengan jumlah besar nampaknya memang menghasilkan banyak project-project drama dengan genre yang cukup beragam. Masing-masing drama ini saya akui tidak semua jalan ceritanya “sukses” di mata viewers. Tapi satu hal yang pasti dengan biaya produksi yang tidak sedikit dan keberanian Netflix menampilkan drama yang “berbeda”, mampu membuat series-series ini trending terutama saat minggu-minggu awal rilis. Serta membuat nama dunia perfilman serta series Korea Selatan terus diakui kualitasnya.

Salah satu drama Netflix Korea yang akan saya bahas disini adalah The Silent Sea. Ini merupakan salah satu project Netflix yang cukup saya tunggu-tunggu karena Jung Woosung tidak berperan sebagai main lead, namun sebagai executive producer. Cukup penasaran akan konsep yang akan ia bawa di drama ini serta bagaimana caranya melakukan eksekusi (tentunya dengan seluruh tim produksi yang ada).

The Silent Sea sendiri menceritakan tentang sebuah misi perjalanan keluar angkasa untuk menyelamatkan bumi, dimana terdapat sebuah kelompok yang ditugaskan untuk pergi ke bulan guna mencari sumber daya (terutama air) yang bisa digunakan di bumi. Saat itu digambarkan kondisi bumi amat sangat kekurangan air sehingga masing-masing individu hanya bisa mendapatkan jatah air sesuai dengan status mereka (semakin tinggi status orang tersebut semakin banyak air yang bisa didapatkan).

Drama ini rilis pada tanggal 24 December 2021, di hari itu juga saya mencoba untuk menyelesaikan semua episodenya. Sembari menonton saya juga cukup sering mencari review-review non spoiler atau setidaknya pendapat viewers tentang drama ini. Uniknya, ketika di post sebelumnya saya mengatakan bahwa banyak orang yang tidak puas dengan Hellbound karena dibandingkan dengan Squid Game, justru The Silent Sea dianggap lebih tidak memuaskan lagi jika dibandingkan dengan Hellbound. Series Hellbound yang di cap membingungkan seketika diangkat namanya dan di cap dengan drama yang memiliki plot cukup menarik (mungkin ini juga impact dari Sutradara yang mengkonfirmasi kehadiran Season 2).

Kalau saya simpulkan dari review dan opini penonton tentang The Silent Sea, sebagian besar menyebutkan bahwa The Silent Sea memiliki plot yang lambat (dengan jumlah episode yang sedikit pula), premis cerita yang tidak terlalu menarik, dan ketidakjelasan dari endingnya. Berbeda dengan Hellbound dimana Season 2 cukup cepat dikonfirmasi, untuk The Silent Sea sampai setidaknya hari ini belum ada konfirmasi tentang hal tersebut.

Jika kita berbicara tentang alurnya, menurut saya dari episode awal sudah cukup ditemukan sedikit plot twist dan juga konflik. Alurnya memang cukup lambat dan ceritanya dari masing-masing episode tidak membuat penonton penasaran. Background cerita tentang kondisi dibumi yang mengalami masalah iklim dan sumber daya alam juga sebetulnya bukan merupakan hal yang baru.

Untuk endingnya, dari sekian banyak series Netflix yang memiliki ending yang menggantung dikarenakan adanya rencana untuk season selanjutnya, menurut saya The Silent Sea simply memiliki ending yang betul-betul open. Penonton dibebaskan untuk berimajinasi akan hal ini. Menurut saya pun ini tidak terlalu mengganggu karena keseluruhan series, konflik, dan jawaban yang diinginkan dari series ini cukup terjawab. Hanya ada 1 scene diakhir yang mengganjal karena banyak pasti yang bertanya-tanya. Namun kehadiran scene ini menurut saya tidak terlalu mengganggu keseluruhan cerita. Hanya pemanis di bagian akhir yang membiarkan penonton berimajinasi sesuka hati.

Saya kurang tahu apakah hal ini cukup valid atau tidak namun satu hal yang saya sadari juga mungkin ada sebagian penonton yang membandingkan The Silent Sea dengan Space Sweepers. Keduanya menunjukan kondisi kehidupan manusia yang kesulitan di masa depan, dan keduanya juga menceritakan tentang sekelompok orang yang berusaha menyelamatkan manusia di bumi agar tetap hidup. Untuk Space Sweepers, dengan film berdurasi sekitar 2 jam menurut saya wajar jika sebagian besar menganggap Space Sweepers lebih seru (walaupun menurut saya Space Sweepers adalah tipikal film box office pada umumnya). Namun untuk ukuran drama, dengan tujuan yang sama dengan konflik yang tidak terlalu banyak (walaupun tetap lumayan kompleks) menurut saya memang 2 project ini adalah 2 project yang berbeda. Lain lagi kalau The Silent Sea hanya dirangkum menjadi 2 jam film pastinya alur akan dirasa tidak terlalu lambat.

Selain itu, perbandingan lain yang saya temukan juga dari para viewers adalah perbandingannya dengan Interstellar. Menurut saya, kurang fair kalau project-project dengan tema luar angkasa kita bandingan dengan Interstellar. Saya cukup sering mengulik tentang Interstellar saat film ini tayang dulu, serta ambisi Nolan dalam mewujudkannya (dengan tidak menggunakan green screen). Namun untuk film-film luar angkasa lain yang menggunakan CGI, green screen dan lain-lain menurut saya tidak bisa kita anggap sebagai project dengan kualitas yang rendah. Karena karya-karya Christopher Nolan akan selalu menjadi karya yang “beda”. Apalagi dengan melihat Space Sweepers dan The Silent Sea, sebetulnya membuktikan bahwa Korea Selatan bahkan mampu menyandingi hollywood dalam membuat CGI yang realistis, dipadu juga dengan cinematography yang cantik.

Saya juga mencoba menonton beberapa Behind The Scene yang ditayangkan oleh Netflix. Tipikal produksi Netflix menurut saya dari segi production set, kostum yang digunakan, juga tidak pernah mengecewakan. Mungkin dari segi original score atau musik yang digunakan kurang “ngena” di saya tapi sejauh ini tidak mengurangi keestetikan dari drama ini.

Dari segi aktor, line upnya cukup menarik. Cukup surprised melihat still cuts pertama yang mereka keluarkan beberapa bulan yang lalu. Dalam satu frame, dengan menggunakan baju selayaknya astronot (saat itu peran-peran mereka belum dijelaskan) kita bisa menemukan Gong Yoo, Bae Doona, Kim Sunyoung, Lee Moosaeng, Lee Joon, dan banyak aktor-aktor lain yang saya juga tidak terlalu asing wajahnya. Selain Gong Yoo dan Bae Doona saya kurang tau siapa yang menjadi main lead di drama ini, but having them both as the main one sesungguhnya sudah lebih dari cukup.

Bae Doona adalah aktris korea pertama yang saya sukai lewat series Stranger. Uniknya yang membuat saya suka dengan Bae Doona bukan dengan aktingnya saja melainkan sisi lain (atau justru sisi asli) Bae Doona yang terlihat di kamera dan diluar sesi shooting. She’s so bubly dan easily spread happiness to people around her. Untuk karya-karyanya sendiri saya rasa no doubt untuk Bae Doona. Kritik dilayangkan untuk Bae Doona saya rasa hanya ada di Kingdom itupun dari segi pelafalan sebuah aksen/logat. Selebihnya, Bae Doona termasuk aktris korea yang sukses tidak hanya di Korea namun juga di Hollywood.

Di series ini, karakter Bae Doona jauh lebih difokuskan bahkan dibandingkan dengan karakter yang lain. Karakternya hanya satu-satunya karakter yang diceritakan tentang background storynya dan juga post event storynya. Background story inilah yang membuat karakter Bae Doona tidak terlihat terlalu ekspresif karena memang ceritanya cukup tragis. Sama seperti karyanya yang lain, i think she also nailed this one.

Selanjutnya ada Gong Yoo, aktor yang satu ini bisa dipastikan punya jumlah fans yang amat sangat banyak. Hal ini menurut saya dikarenakan Gong Yoo adalah tipikal aktor dengan project yang sebetulnya tidak terlalu banyak, namun project-projectnya seringkali booming. Seperti Coffee Prince, Train to Busan, dan juga Goblin. Project Gong Yoo yang lain pun tidak kalah menarik seperti Kim Jiyoung: Born 1982, Silenced, etc.

Terkadang saya berharap Gong Yoo bisa mendapatkan peran-peran yang anti heroic untuk melihat sisi lain Gong Yoo sebagai aktor. Sama dengan Bae Doona, no doubt untuk kemampuan aktingnya tapi would be nice jika bisa melihat sisi lain atau peran (atau mungkin saya juga yang kurang banyak menonton film-film Gong Yoo).

Selain satu scene di ending yang cukup “nanggung”, kejanggalan minor lain yang saya temukan adalah 1) apa yang terjadi di bumi sehingga krisis ini terjadi 2) politik dibalik konflik yang terjadi tidak dijelaskan secara clear. Mungkin pada dasarnya drama ini memfokuskan kepada kelompok yang menjalani misi dan bagaimana mereka menyelesaikan misis tersebut – karena tujuannya baik untuk umat manusia. Namun a little bit background story untuk dua poin yang saya sebutkan tadi sepertinya would be nice jika dimasukan ke dalam cerita ini.

Overall drama ini membuat saya menyimpulkan bahwa apapun project yang Netflix produksi, kita tidak perlu berekspektasi tinggi untuk ceritanya (terutama untuk season 1), karena sejauh ini saya rasa dari segi cerita belum ada yang bisa mengalahkan Kingdom. Tapi yang bisa kita tunggu dari series series ini adalah keseluruhan produksi series tersebut as one project. Budget yang besar tidak disia-siakan begitu saja. Mulai dari aktor, production set, costume, make up, musik/original score, screenplay sampai promosi, Netflix selalu all out dan tidak jarang berani tampil “beda”.

Hellbound (2021)

Seperti yang sempat saya sebutkan di post sebelumnya (Squid Game), salah satu project Netflix Korea yang saya tunggu adalah series yang dibintangi oleh Yoo Ah In, yakni Hellbound. Saat rilis pun saya langsung menghabiskan series ini dalam waktu yang cukup singkat.

Overall saya cukup puas dengan series ini. Sempat khawatir apakah akan terlalu dibandingkan dengan popularitas Squid Game yang mendunia, tapi setelah ditonton, sepertinya memang tidak apple to apple untuk dibandingkan. Ini juga berlaku untuk series Netflix lainnya yang tayang di tahun ini (Move to Heaven, D.P, My Name, etc) dimana tema yang dibawa cukup berbeda. Cukup jarang jika dibandingkan dengan tema drama yang ada di TV lokal/cable di korea, mungkin salah satu yang akhir-akhir ini mengambil tema cukup unik adalah Jirisan (yang saya juga berniat membuat ulasannya setelah tamat menontonnya).

Sayangnya, media dan publik punya caranya sendiri dalam mereview atau memandang sebuah karya. Terutama dengan euphoria Squid Game yang mendunia (plus momen halloween yang tidak jauh setelahnya) membuat Hellbound tidak henti-hentinya dibandingkan dengan Squid Game. Kalau melihat dari opini-opini ini, saya bisa menyimpulkan di mata mereka Hellbound termasuk series yang membingungkan dan tidak memuaskan. Saya pun paham jika banyak yang beranggapan demikian. Hal ini dikarenakan Hellbound memiliki premis cerita fantasi yang menurut saya cukup clear di awal, namun di episode-episode akhir ada beberapa plot yang “mengganggu” premis tersebut. No wonder kalau penonton bertanya-tanya apa sebetulnya inti cerita dari series ini.

Hellbound juga dianggap memiliki ending yang menggantung (saya pribadi melihatnya lebih ke open ending). Terkait hal ini, sebetulnya sang creator (Yeon Sang-Ho) sudah cukup cepat dalam mengkonfirmasi bahwa Hellbound memiliki rencana untuk digarap season lanjutannya. Again, tipikal series Netflix, dengan jumlah episode yang tidak banyak dan durasi episode yang cukup singkat, cerita yang cukup kompleks belum tentu bisa disampaikan dengan sempurna hanya dari satu season. Jadi seharusnya penonton tidak usah terlalu khawatir tentang ini.

Selain itu genre terkait sekte, atau hal yang berkaitan dengan afterlife mungkin belum tentu cocok atau dianggap menarik di banyak orang (this is purely my assumption btw). Cukup unik jika melihat kesuksesan 2 film Along with the Gods yang amat sangat booming di Korea Selatan, saya kira Hellbound juga akan mendapatkan euphoria yang serupa.

Namun terlepas dari tiga hal tersebut, menurut saya cukup banyak hal dari series ini yang bisa diapresiasi dan saya cukup sukai.

Dari segi cerita, kalau Anda penggemar The Devil Judge, premis yang sama akan muncul di Hellbound. Impact dari penghakiman ditayangkan secara langsung, masyarakat yang bergejolak dan pada akhirnya main hakim sendiri, tujuan yang cukup backfire karena ended up menciptakan ketakutan dan stigma di masyarakat muncul di series ini. Tentunya dengan storyline yang berbeda.

Selain The Devil Jude, garis besar alur cerita juga cukup mengingatkan saya dengan Train to Busan. Dimana storynya cukup tense dan membuat saya sebagai penonton juga ikut gelisah, namun emotional touch di akhir seakan memberikan sinyal bahwa cerita series/film ini sudah akan berakhir.

Secara keseluruhan menurut saya scene scenenya juga tidak terlalu disturbing/sadis tapi justru ceritanya yang cukup disturbing (mungkin karena berkaitan dengan sekte dan agama). Berbeda dengan The Devil Judge yang lebih mengarah ke persidangan publik dan mengurus kasus kasus nyata yang bisa juga kita temui sehari-hari atau setidaknya di berita.

Dari segi tema, unik juga melihat tema sekte dan agama dibuat semassive ini (entah apa tujuan dari para creatornya) but again itu culture mereka. Saya rasa dengan menonton series ini mereka jauh lebih paham atau lebih bisa menangkap insight atau pesan yang ingin disampaikan dari series ini. Ini juga menunjukan bahwa project yang dikeluarkan Netflix Korea amatlah beragam dari segi genre dan juga cerita.

Dari segi list actors, saya rasa line up ini cukup sempurna. Tidak ada yang stealing the spotlight too much, masing-masing maksimal dalam perannya.

Im a big fan of Yoo Ah In dan Park Jung Min. Saya rasa keduanya termasuk aktor terbaik di generasinya. Entah berapa best actor atau supporting actor awards yang sudah berhasil mereka raih, saya tetap merasa keduanya selalu bisa all out di semua projectnya. Selain itu mereka pun memiliki kesamaan dimana masing-masing projectnya keduanya memerankan peran yang amat sangat berbeda. Saya bukan ahli di bidang akting, saya bahkan kalau diminta menentukan akting mana yang baik dan buruk, saya belum tentu bisa. Tapi defisini akting yang baik dari sudut pandang saya sebagai penonton adalah saya bisa dengan mudah melepaskan sosok aktor tersebut dengan peran yang dimainkan. Kedua aktor ini pun selalu memberikan kesan yang sangat berbeda dengan diri/personal mereka, serta dengan peran-peran lain yang mereka mainkan di project lain.

Sebagai referensi, Yoo Ah In bisa berperan sebagai orang kaya raya dan sadis di Veteran, namun miskin dan putus asa di Burning. Ia juga bahkan bisa memerankan sosok bisu yang hanya mengandalkan ekspresi dalam penyampaian dialognya di Voice of Silence. Lain lagi dengan Park Jung Min. Di Sunset in My Hometown sebagai rapper, anak berkebutuhan khusus di Keys to the Heart, sampai sebagai waria di Deliver us from Evil.

Di dalam Hellbound, keduanya memang sama sekali tidak berbagi scene yang sama. Namun saya rasa presence keduanya sama sama kuat.

It just shows how versatile these actors are.

Now lets talk about the actresses.

Yang mencuri perhatian saya pastinya Won Jin Ah dan Kang Hyun Joo.

Saya nggak banyak menonton drama Won Jin Ah kecuali Life (yang memang perannya tidak terlalu memberikan kesan spesial di saya), namun di Just Between Lovers menunjukan peran-peran seperti ini amat sangat cocok dibawakan oleh aktris ini. Di Hellbound pun ia memerankan sosok Ibu yang baru saja memiliki anak dan sebagai penonton saya merasa Won Jin Ah berhasil menunjukan rasa putus asa (ditambah baby blues) yang dialaminya.

Lain lagi dengan Kang Hyunjoo. Jujur saya tidak menyangka di series ini ada Kang Hyunjoo sampai saya melihat opening credits di awal episode. Kang Hyunjoo di mata saya identik dengan drama keluarga (The Miracle We Met, What Happens to My Family). Namun semenjak mengambil peran di Undercover, saya justru menantikan peran yang seperti ini di drama lainnya. Dan terjawablah oleh penampilan yang amat sangat baik di Hellbound.

Oh and also special shout out to Lee Re. As a child actress, she did really great (as always).

Hal lain yang cukup menarik di series ini adalah adanya beberapa cast yang “hilang”. Hilang ini dalam artian mereka memiliki kisah yang cukup signifikan di beberapa episode namun tidak dimunculkan kembali. Walaupun membingungkan namun hal ini cukup realistis apalagi dengan situasi yang cukup chaos.

Last but not least, lets talk about their promotion. Berbeda dengan Squid Game yang memang gamesnya even sadis tapi production setnya amat sangat bright, sehingga untuk promosinya mereka bisa mendisplay permainan-permainan yang terkesan lucu dan menarik jika dipajang di tempat umum.

Namun untuk Hellbound, ternyata promosi mereka lebih menunjukan sosok creature yang ada di seriesnya. Bentuk promosinya pun juga cukup unik karena pengunjung bisa ikut berpartisipasi langsung melalui fitur semacam Augemented Reality.

Overall, menurut saya masih banyak ruang cerita yang bisa diperjelas atau bahkan dikembangkan lagi lebih menarik, so definitely looking forward for season 2 untuk ini.

Squid Game (2021)

Pada bulan Februari 2021, saya ingat betul ada artikel yang menyebutkan bahwa Netflix akan berinvestasi sebesar $500 juta untuk Korea Selatan. Di artikel tersebut juga disebutkan beberapa judul yang akan muncul di Netflix Korea tahun ini, salah satunya adalah Squid Game.

Dari berbagai judul yang disebutkan, sejujurnya Squid Game tidak menarik perhatian saya. Saya lebih fokus kepada project yang di produseri Jung Woo Sung, series yang akan dibintangi Yoo Ah In dan juga special episode dari Kingdom series yang dirilis tahun ini.

Sampai akhirnya sekitar bulan Agustus, Netflix mengeluarkan teaser pertama dari Squid Game, yang saya baru sadar juga bahwa pemeran utamanya adalah Lee Jung Jae, aktor hebat sekaligus sahabat dari Jung Woo Sung. Saya mengikuti keduanya sejak tahun lalu, dan untuk Lee Jung Jae sendiri saya mulai tertarik semenjak menyaksikan Chief of Staff. Suara Lee Jung Jae yang khas seringkali membuat dirinya mendapatkan peran dengan sosok yang berwibawa atau punya kuasa, seperti di Along with The Gods atau Chief of Staff. Uniknya di Squid Game ini justru Lee Jung Jae menjadi sosok yang cukup desperate akan kehidupan keuangan serta keluarganya. Berperan menjadi orang baik yang apa adanya di Squid Game, seketika menghilangkan image Lee Jung Jae yang powerful dan karismatik.

Kehadiran Lee Jung Jae sebagai main lead membuat saya menantikan series ini. Hari pertama series ini muncul di Netflix, saya langsung menghabiskan 9 episode in 1 go. Squid Game sendiri menceritakan tentang sebuah permainan misterius (dari segi lokasi, penyelenggara, dsb) yang diikuti oleh orang-orang dengan masalah keuangan, dan pada akhirnya akan memenangkan uang dengan jumlah besar jika memenangkan serangkaian permainan ini.

Menurut saya, secara konsep cerita betul kata sebagian besar orang memang Squid Game cukup mirip dengan Alice in Borderland. Pada dasarnya menggunakan aspek permainan untuk bertahan hidup. Tapi kalau yang saya lihat Squid Game cerita dan latar belakang karakternya sangatlah menarik. Kehadiran Wi Ha Joon sebagai impostor yang mencari kebeneran juga seakan melipatgandakan ketegangan yang ada.

Salah satu inti cerita pun mengingatkan saya kepada Sweet Home, salah satu series Netflix Korea yang juga cukup booming di akhir tahun kemarin. Dalam Sweet Home ditekankan bahwa mau semenakutkan apa monster yang kita temui, tidak ada yang bisa mengalahkan seramnya pikiran jahat manusia itu sendiri.

Hal ini terlihat dari Squid Games dimana berkali-kali sisi kemanusiaan para peserta diuji dalam berbagai situasi, namun akhirnya dikalahkan oleh ego mereka terutama keinginan mereka untuk mendapatkan uang yang sebesar-besarnya.

Secara keseluruhan saya menikmati series ini. Memang diakhir kita disuguhkan ending yang tidak terlalu clear namun saya rasa itu tipikal series Netflix yang memang seringkali merencanakan season baru tanpa info apa-apa sebelumnya. Kalaupun memang tidak dilanjutkan menurut saya ending yang digunakan masih bisa diterima dengan baik. Namun tentunya akan menjadi open ending.

Hal lain yang menjadi perhatian saya adalah visual atau cinematography dari series ini. Bentuk production set, warna-warna pastel yang digunakan, pengambilan gambar yang cantik, ditambah dengan cerita yang dark serta musik yang menenangkan sekaligus menegangkan (beberapa kali lagu Frank Sinatra digunakan dan original score dari series ini dibuat oleh Jung Jae Il – Parasite) membuat saya sebagai penonton merasa bahwa emosi dan perasaan saya seakan dicampuradukan. Scene dengan warna cerah, boneka yang lucu, dipadukan dengan pembunuhan massal dan darah berceceran dimana-mana seringkali muncul sepanjang series ini.

Selain cerita, cinematography dan production set, hal yang saya sukai adalah para aktor dan aktris yang berperan di series ini. Entah mengapa saya merasa bahwa aktor yang ada di Squid Game betul betul bisa membuktikan betapa versatilenya mereka sebagai aktor karena memang banyak peran dengan karakter yang sangat berbeda (bahkan melekat) di project-project sebelumnya. Contohnya seperti Park Hae Soo, yang imagenya sebagai pemain baseball bermuka datar amat sangat melekat dari Prison Playbook, kini berhasil memerankan karakter yang juga memiliki plot twist didalamnya. Ada juga Wi Ha Joon yang sebelumnya sering kali mendapatkan pemeran supporting di drama kini mendapatkan peran main lead yang sangat heroik dimana sebelumnya Wi Ha Joon betul-betul mengerikan di Midnight namun sangat lovable di 18 Again & Something in the Rain.

Overall saya rasa Squid Game memenuhi syarat standar Netflix, yakni menjadi series yang cocok untuk binge watching. Menghabiskan semua episode in 1 go bukan hal yang sulit untuk series ini. Walaupun endingnya tidak terlalu menjawab pertanyaan, tapi tipikal Netflix series, saya rasa seharusnya kemungkinan untuk next season (apalagi melihat betapa hypenya series ini) masih bisa direalisasikan.

Bonus: salut dengan mereka yang all out untuk promosi Squid Game! Just look at this beautiful set (source: credit at pic)

Hospital Playlist (2020-2021)

Awal masa pandemi dimulai, sekitar bulan Maret 2020, saya yang sudah beberapa bulan tidak mengikuti drama korea akhirnya kembali menonton drama-drama ini. Saya cukup terbawa arus saat itu dimana banyak orang yang baru mengenal drama korea (saya pun baru mengikuti di tahun 2018 saat Sky Castle booming waktu itu) dan menjadikan kegiatan ini sebagai penghibur dikala pandemi. Saya ingat betul saat itu drama Itaewon Class dan The World of the Married menjadi drama korea andalan yang ditonton oleh banyak orang (baik newbie ataupun fans dari lama).

Salah satu drama yang menurut saya betul-betul menemani saya di masa sulit ini adalah Hospital Playlist. Ini merupakan drama korea hasil kolaborasi dari Shin Wonho dan juga Lee Woojung, yang sebelumnya sudah terkenal dengan karyanya yakni Reply Series (1988, 1994, 1997). Lee Woojung juga merupakan salah satu creator dari Prison Playbook yang membuat saya menyadari bahwa drama-drama besutan mereka memang mostly mengambil tema cerita kehidupan atau slice of life.

Hospital Playlist sendiri bercerita mengenai kehidupan 5 orang sahabat yang berprofesi sebagai dokter dan bekerja di pusat medis terkenal di Seoul. Hal yang cukup menarik dari drama ini adalah disaat banyak medical drama yang berfokus pada aspek medis dan kasus-kasus dari pasien yang ditangani, Hospital Playlist ternyata lebih menekankan kepada aspek humanity dari dunia medis. Banyak cerita yang tidak hanya menghighlight kelima dokter ini, namun menghighlight juga cerita dari dokter residen, dokter magang, perawat, atau bahkan dari pasien-pasien yang ditangani.

Hal yang menarik perhatian saya dari drama ini selain aspek kehidupan para dokter yang diangkat adalah ciri khas Shin Wonho dalam mendirect sebuah series. Menurut saya, salah satu ciri khas dari karya-karya Shin Wonho adalah banyaknya hidden message yang mampu ia eksekusikan dengan sangat mulus sehingga penonton tidak menyadarinya. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya cerita atau scene yang menguras emosi penonton, lalu dipotong atau dilanjutkan dengan cerita dari karakter lain, dan cerita yang menggantung di awal tadi dilanjutkan kembali di akhir episode. Alur ini sering kali membuat penonton (termasuk saya) memiliki tebakan atau prasangka (kalau based on experience saya mostly prasangka buruk), yang pada akhirnya prasangka ini dipatahkan dan dijawab oleh lanjutan cerita yang memberikan pesan atau value yang sederhana namun menyentuh.

Selain itu, ciri khas lain Shin Wonho adalah setiap episode dramanya memiliki durasi yang panjang (bisa sampai 120 menit) dan disebabkan oleh satu hal yang sama, yakni cerita yang mendetail dari hampir semua karakter yang ada. Masing-masing dari main lead dari drama-drama ini sudah bisa dipastikan akan punya kisahnya sendiri. Namun untuk karya-karya Shin Wonho, seringkali “turunan” dari main lead ini juga memiliki cerita yang tidak sederhana. Contoh yang paling saya suka adalah cerita Jaehak yang di season 1 hanya menceritakan dinamika hubungan Jaehak dan Jungwan, namun di season 2 akhirnya kita melihat sisi lain Jaehak dari kisah keluarga kecilnya.

Kedua hal inilah yang menurut saya bisa kita temui dari karya-karya Shin Wonho dan juga Lee Woojung. Ini membuat keduanya unik dan memiliki ciri khas, dimana kalau suatu saat mereka berkolaborasi kembali dalam sebuah project, saya akan berkespektasi bahwa alur yang menarik dan cenderung plot twist di setiap episode, serta cerita yang detail tidak hanya di main cast namun juga supporting cast akan muncul di project mereka.

Overall drama ini menurut saya heartwarming, betul-betul penenang yang pas di kala kesulitan banyak orang saat pandemi. Sayangnya akhir dari season 2 series ini memang tidak menjawab cukup banyak pertanyaan.

Saya ingat betul ada video yang menunjukan Jung Kyung Ho pertama kali ditawarkan peran sebagai dokter di series ini. Jung Kyung Ho yang sebelumnya belum pernah memerankan peran dokter (berbeda dengan Yoo Yeonseok yang spesialis peran dokter) amat sangat senang dengan peran yang ditawarkan. Di video tersebut saya juga ingat betul disebutkan bahwa rencana dari project ini akan berlangsung hingga 3 season sehingga estimasi project ini selesai adalah di tahun 2022.

Namun saat episode 12 dari season 2 ini akan tayang, santer terdengar bahwa justru kemungkinan season 3 ada amatlah kecil. Tim Hospital Playlist memutuskan untuk membebaskan para aktor dan aktrisnya memilih project mereka sendiri kedepannya. Cukup unik karena saya pikir dari awal mereka di kontrak untuk 3 season, melihat situasi ini sepertinya kontrak mereka diperbaharui setiap pengerjaan season barunya akan dimulai.

Meskipun begitu, menurut saya ini ending dari season 2 ini masih bisa diterima karena ending ini juga merupakan salah satu ciri khas dari drama yang mengambil tema slice of life. Pada dasarnya memang life goes on. Banyaknya pertanyaan yang belum terjawab, cerita yang seakan masih bisa berkembang kedepannya, amat sangat mungkin untuk tidak diselesaikan secara clear. Karena di dalam kehidupan itu sendiri, apapun bisa terjadi. Kalau kita mau mencoba mereflect ke drama lain, kita bisa melihat perbandingan dari drama Life dan Sky Castle. Life mengambil tema konflik manajemen rumah sakit, yang di akhir seri juga tidak menjawab beberapa pertanyaan besar. Penonton pun merasa tidak puas dengan series ini, bahkan main leadnya – Cho Seungwoo juga menyadari hal tersebut. Namun disisi lain ada Sky Castle yang tidak merencakan untuk memiliki 20 episode lebih, justru dikritik karena episode tambahan yang ditampilkan terlalu sempurna atau terkesan fairy tale.

Dari contoh-contoh ini dan dari beragam drama korea yang saya tonton, lama kelamaan saya tidak terlalu peduli dengan ending dari drama-drama ini. Karena hal-hal seperti ini pada dasarnya disebabkan oleh banyak sekali faktor, yang kita sebagai penonton memang tidak akan pernah tau.

Namun memang alangkah baiknya jika memang tidak ada kepastian kedepannya, setidaknya penonton diberikan open ending yang tidak terlalu membuat penasaran (sehingga terus menagih season baru). Penonton bisa diberikan open ending yang memiliki kesan “nothing to loose“. Salah satu open ending yang saya suka adalah Designated Survivor: 60 Days. Open ending yang digunakan tidak membuat penonton berspekulasi banyak, namun akan sangat make sense jika ada season 2. Jika tidak adapun juga tidak apa-apa karena sudah banyak pertanyaan yang terjawab di season 1.

Apapun kondisinya, saya pribadi memberikan apresiasi sebesar-sebesarnya untuk seluruh tim production Hospital Playlist. Mulai dari senimatografi dan pengambilan gambar, akting dari para pemain, cerita dan moral value yang didapat, dan yang terpenting adalah pilihan lagu di setiap episode yang cocok dengan kisah yang dibawakan, merupakan kombinasi yang sempurna untuk mengemas sebuah drama medis bertema slice of life.

Thank you for creating such a heartwarming drama in this difficult time.