Succession (2018-2023)

Di post sebelumnya saya membahas tentang series Ted Lasso, yang cukup menarik perhatian saya dikarenakan parodi skitnya di NBC untuk promosi Liga Inggris. Mengikuti berita dan update Ted Lasso hingga award yang didapatkan, membuat saya penasaran akan series lain yang juga mendominasi Golden Globe Awards serta Primetime Emmy Awards selama beberapa tahun terakhir, yakni Succession. Series ini berhasil mendominasi berbagai macam kategori, namun yang lebih menarik perhatian saya adalah fakta bahwa mereka bisa mendapatkan beberapa nominasi sekaligus di dalam satu kategori, contohnya seperti Jeremy Strong dan Kirian Culkin di Best Actor atau Nicholas Braun, Matthew Macfadyen, dan Alexander Skarsgard di Best Supporting Actor. Banyaknya rekognisi yang didapatkan juga menunjukan bahwa Succession merupakan drama yang memiliki kualitas baik dan worth to watch. Saya pun mengakui hal tersebut dan berani mengatakan bawah ini merupakan salah satu series terbaik yang pernah saya ikuti.

Succession sendiri merupakan series dengan genre satirical black comedy yang dibuat oleh Jesse Armstrong, sosok yang memang cukup berpengalaman dalam menghasilkan karya di genre tersebut. Series ini di ditayangkan di HBO serta platform streamingnya yakni HBO GO selama 4 season dari tahun 2018 hingga 2024. Succession sendiri bercerita tentang Logan Roy, yang datang ke Amerika saat jaman perang dunia 2 dan berhasil membangun perusahaan bernama Waystar Royco. Banyak penonton yang menganalogikan keluarga Roy seperti keluarga konglomerat yang memegang kontrol di banyak industri besar, terutama di bidang media. Dimana mereka akan memiliki kendali tidak langsung terhadap pemerintahan melalui berita-berita yang mereka sajikan, serta mempermainkan koneksi-koneksi bisnis yang ada untuk mempengaruhi perekonomian negara. Perusahaan ini juga merupakan perusahaan keluarga yang kekuasaan dan posisi strategisnya cenderung akan diberikan kepada anggota keluarga tersebut. Fokus ceritanya pun membahas tentang pengalihan kekuasaan dari Logan Roy yang mengalami isu kesehatan, kepada 3 anak Logan, yakni Kendall, Siobhan (Shiv), serta Roman. Ada juga Connor yang merupakan anak pertama, namun tidak tertarik dalam kompetisi kekuasaan ini dan lebih memilih untuk menjadi politisi.

Melihat perebutan kekuasaan menjadi topik utama, 3 karakter utama kakak beradik ini sama-sama diperlihatkan akan kelebihan dan kekurangan yang unik, sehingga cukup sulit bagi penonton untuk menebak siapa yang akhirnya akan mendapatkan posisi tersebut. Tidak jarang juga series ini memperlihatkan betapa greedynya mereka terhadap kekuasaan (bahkan uang mungkin sudah tidak jadi pertimbangan utama lagi). Namun uniknya, dibalik itu mereka tetap keluarga yang peduli dan saling menyayangi walau tidak secara eksplisit diperlihatkan.

Sekilas dari segi premis cerita, memang tidak begitu unik karena cukup banyak series yang membawa tema yang serupa. Namun hal yang menurut saya menonjol dari series ini adalah kombinasi dari berbagai aspek yang membuat cerita ini terasa begitu nyata. Mulai dari acting pemain utama dan pendukung yang luar biasa, betapa naturalnya interaksi antar karakter, penyampaikan dialog yang pas, script yang terasa real hingga beberapa detail mulai dari setting tempat, cinematography, original score, ekspresi atau mimik wajah karakter di scene tertentu, hingga beberapa hidden message yang begitu melengkapi sempurnanya series ini.

Cukup banyak hal yang sebetulnya bisa saya bahas, namun di tulisan kali ini saya akan lebih membahas mengenai beberapa karakter yang diperankan dengan sangat baik oleh para aktor dan aktrisnya, sehingga mampu memiliki presence yang setara kuatnya di sepanjang series ini. Saya memang bukan ahli atau tidak memahami betul terkait bermain peran atau akting, namun sebagai penonton saya betul betul mengapresiasi kinerja dari para aktor ini sehingga dapat membuat masing-masing karakternya menjadi ikonik. No wonder jika kita melihat nominasi award untuk series, maka aktor dari Succession dengan mudah mendominasi kategori ini.

Brian Cox as Logan Roy

Logan no doubt merupakan karakter terkuat sepanjang series ini. Jika diperhatikan, cukup banyak dialog yang satire (bahkan one liner) dari Logan yang membuat karakter ini cukup memorable. Logan Roy digambarkan sebagai seorang businessman ahli namun memang sudah tidak terlalu fit, sehingga banyak keputusan yang janggal dan tidak bisa ditebak datang dari Logan. Menurut saya, beberapa plot twist dari series ini memang tidak berasal dari keseluruhan cerita di suatu episode, melainkan dari omongan serta gerak gerik Logan Roy yang membuat anak-anaknya serta staff perusahaannya juga bingung dan sulit memahaminya. Selain itu, walaupun Logan memiliki cara yang berbeda dalam berkomunikasi dengan masing-masing anaknya, menurut saya series ini berhasil membuat anak-anaknya berada di level yang ‘setara’ di mata Logan. Dalam artian penonton pun tidak bisa menebak siapa anak yang sebetulnya Logan paling percaya.

Jeremy Strong as Kendall Roy

Dari keempat anak Logan Roy, menurut saya Kendall memang pantas dijadikan karakter utama dalam perebutan kekuasaan ini. Jika dibandingkan dengan saudara lainnya, Kendall terlihat seperti seseorang yang memiliki pengalaman yang mumpuni di dunia bisnis. Namun uniknya, sejak awal season sebetulnya Kendall diperlihatkan seperti orang yang justru tidak capable, terlepas dari pengalamannya. Saya merasa Jeremy Strong sangat apik dalam memerankan Ken karena cukup banyak momen yang membuat saya tidak nyaman hanya karena pembawaan Kendall Roy saat berbicara. Jeremy Strong sangat mampu menunjukan karakter yang sungguh paranoid dan secara konsisten membutuhkan validasi. Ditambah dengan historical addictionnya terhadap drugs, seluruh penggambaran karakter tersebut secara konsisten digambarkan Jeremy Strong dengan baik hingga episode terakhir.

Kieran Culkin as Roman Roy

Dari keempat kakak beradik di Roy family, karakter Roman merupakan sosok yang amat sangat membutuhkan validasi sang ayah, bahkan lebih dibandingkan Ken. Roman juga merupakan karakter yang tidak bisa ditebak, terutama untuk tingkah serta langkah selanjutnya. Ia seringkali melakukan tindakan yang diluar nalar dan tidak bisa dipahami, namun disatu sisi ia tetap memiliki ambisi yang tinggi. Sayangnya, kombinasi dari karakteristik tersebutlah yang membuat Roman seringkali gegabah dalam mengambil keputusan, sehingga memberikan dampak negatif yang cukup signifikan terhadap perusahaan. Roman pun tidak peduli karena perasaan neglected yang menempel di dirinya dari kecil hingga dewasa membuatnya melakukan segala cara untuk mendapatkan perhatian ayahnya. Karakter ini diperankan oleh Kieran Culkin, yang bisa dibilang sosok aslinya memiliki watak serta cara bicara yang sangat mirip dengan Roman Roy. Hal ini terlihat dari saat Kieran menerima beberapa award atas perannya sebagai Roman, banyak yang melihat bahwa sosok yang sedang melakukan speech di panggung, tidak ada bedanya dengan Roman Roy. Saya melihat ini sebagai suatu keuntungan untuk Kieran, sehingga mampu memerankan Roman dengan sempurna.

Sarah Snook as Siobhan (Shiv) Roy

Sebagai satu-satunya anak perempuan Logan, menurut saya Sarah Snook sangat mampu membuat karakter Shiv iconic dan tidak tertutupi sama sekali oleh karakter lainnya. Hal ini menarik karena Shiv merupakan karakter yang justru tidak terlibat sejak awal dalam hal penerusan kekuasaan, karena Shiv fokus bekerja di dunia politik dan sudah cukup memiliki nama yang baik di bidangnya. Namun seiring berjalannya waktu, Logan menunjukan kepercayaannya serta peluang untuk Shiv dalam mengikuti ‘pertarungan’ antar saudara ini. Mulai saat itu, kita bisa melihat ambisiusnya Shiv dalam mencapai posisi tertentu (terutama CEO), bahkan saya pribadi terkadang lupa bahwa dibandingkan kedua saudaranya, Shiv sama sekali tidak memiliki pengalaman di dunia bisnis. Hal yang menjadi kekuatannya adalah kemampuan bernegosisasi yang ternyata juga tidak cukup. Terbukti bahwa ada momen dimana Shiv memegang kendali akan perusahaan, namun hasilnya tidak berjalan dengan baik dan dengan mudahnya Shiv dikontrol oleh saudaranya sendiri.  

Matthew Macfadyen as Tom Wambsgans

Karakter Tom Wambsgans adalah karakter tipikal dimana ia menikahi Perempuan dari keluarga konglomerat (Shiv) dan berusaha untuk mendapatkan kekuasaan yang setara dengan anggota keluarga lainnya. Awalnya hal tersebut memungkinkan, dikarenakan Shiv yang tidak tertarik masuk ke dunia bisnis. Namun things got complicated ketika Shiv tiba-tiba tergiur akan tawaran kekuasaan sehingga memutuskan untuk ikut ‘berperang’ dengan saudara-saudarannya. Meskipun demikian, secara implisit sebetulnya Tom memiliki power yang cukup signifikan walaupun dengan statusnya yang bukan keluarga kandung. Hal ini dikarenakan Tom dipercaya untuk memegang perusaahan media Waystar yang berperan amat sangat penting untuk hubungan perusahaan dengan negara.

Selain itu, dinamika hubungan antara Tom dan Shiv juga menarik, karena penonton dibuat untuk terus berfikir apa intensi sebenarnya dari hubungan mereka selama ini. Saya pribadi tidak melihat bahwa ini sesederhana Tom yang ingin climbing the ladder dengan memanfaatkan keluarga istrinya. Somehow ada perasaan peduli, protektif, serta pemahaman mendalam antara satu sama lain yang membuat mereka terlihat seperti ditakdirkan untuk bersama. Namun disatu sisi, terlihat juga bahwa hubungan mereka amat sangat painful jika terus dipertahankan.

Nicholas Braun as Greg Hirsch

Jika ditanya siapa karakter favorite saya, saya bisa menyebutkan nama Greg Hirsch atau bagi Sebagian orang melihatnya sebagai Greg Roy. Saya ingat betul saat episode pertama dan sosok Greg muncul, saya tidak mengira bahwa ia merupakan salah satu main cast karena statusnya sebagai keponakan. Selain itu, seluruh gerak gerik, nada bicara, ditambah juga dengan dialog serta penggambaran karakter, membuat karakter Greg amat sangat painful (bahkan sudah melewati level cringe) untuk ditonton. Tidak jarang saya sebagai penonton mengharapkan Greg untuk diam dan pergi, karena presencenya memang berhasil membuat kesan disturbing yang ditunjukan lewat image bodoh dan polos yang dimiliki. Meskipun begitu, Greg punya kecerdasannya sendiri yang saking tidak terlihatnya, banyak memegang kendali akan momen-momen besar yang terjadi di Waystar Royco. Tidak heran bahwa meskipun terlihat mengganggu, tidak pernah sekalipun keluarga Logan betul-betul membuang Greg. Aliansi antara Tom dan Greg juga menurut saya merupakan salah satu highlight dari series ini, interaksi mereka (yang mostly questionable) justru membuat dinamika ceritanya semakin menarik dan juga menghibur.

I can go on and on about the casts, karena tidak hanya main cast, the other supporting cast atau bahkan guest cast yang muncul hanya di beberapa season/episode juga mampu menunjukan karakter yang kuat. The whole dynamic of the story serta penggambaran karakter yang sangat sesuai membuat kita percaya bahwa keluarga ini seakan-akan ada di dunia nyata. Hanya dengan melihat karakternya saling berinteraksi dan berbisnis, hal tersebut memberikan kesan realistis dan amat sangat mungkin (atau bahkan sudah) terjadi dan mampu dilakukan oleh keluarga-keluarga yang berkuasa di belahan dunia manapun.  

Sekilas, Succession juga terlihat tidak memiliki plot yang unik, ditambah dengan setting ‘dunia kerja’ atau ‘keluarga kaya’ yang tidak mengandalkan terlalu banyak produksi yang heboh. Namun menurut saya, justru hal tersebut yang menjadi daya tariknya. Mereka berhasil menghasilkan kualitas yang baik dari segi writing, acting, directing, production, serta detil yang berkaitan dengan jalannya dunia bisnis dari bisnis keluarga. Secara keseluruhan, saya sangat memuji drama ini dan betul-betul merekomendasikannya kepada Anda yang tertarik dengan series genre satire dengan lingkup perusahaan di keluarga konglomerat.

Ted Lasso (2020-2023)

Kali ini saya akan membahas salah satu series dari Apple TV+ yang berjudul Ted Lasso. Saya ingat betul sekitar tahun 2014, terdapat sebuah parodi dari NBC Sports yang diperankan oleh Jason Sudeikis, dimana ia berperan sebagai american football coach bernama Ted Lasso yang mendapatkan tugas untuk melatih salah satu klub di Liga Inggris, Tottenham Hotspurs. Parodi tersebut cukup viral pada masanya, hingga di tahun 2020, Jason Sudeikis, Bill Lawrence, Brendan Hunt, dan Joe Kelly mengembangkan series Ted Lasso di Apple TV+ dengan karakter yang sama dan latar belakang cerita yang sedikit berbeda.

Dalam series ini, Ted Lasso merupakan seorang coach di Amerika, yang mendapatkan tugas di Inggris untuk melatih sebuah klub sepakbola fiksional bernama AFC Richmond. Ini merupakan klub papan tengah (bahkan seringkali berada di urutan terbawah) yang seringkali kesulitan mempertahankan posisinya di Premier League. Saat Ted Lasso datang, AFC Richmond sedang berada di ambang relegasi. Ted sendiri diundang oleh sang pemilik club, Rebecca, yang ternyata memiliki tujuan balas dendam. Rebecca baru saja bercerai dengan suaminya, Rupert, yang merupakan mantan pemiliki AFC Richmond. Tanpa sepengetahuan Ted, Rebecca berencana untuk menghancurkan klub tersebut dengan mendatangkan pelatih yang tidak memiliki pengetahuan apapun tentang sepakbola di Inggris. Namun karakter Ted yang tulus dan apa adanya, dan gaya melatih serta kepemimpinannya yang unik, ternyata malah membuat klub tersebut mampu meraih banyak hal yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Series ini dikemas ke dalam 3 season, yang isinya menceritakan perjalanan AFC Richmond bertahan di Premier League, Championship, hingga ada masa dimana mereka berjaya kembali di EPL. Jika Anda mengharapkan series ini membahas lebih dalam tentang sepakbola, seperti teknik yang digunakan, strategi dan taktik dalam bermain bola dan semacamnya, sayangnya memang tidak terlalu banyak dari aspek tersebut yang dibahas secara detail. Melainkan series ini lebih banyak membahas tentang kehidupan, pertemanan, keluarga, dan teamwork yang dikemas secara apik lewat cerita olahraga.

Ted Lasso berisikan Slice of Life stories, yang tidak hanya mengcover kehidupan sang karakter utama, namun berhasil menyajikan cerita menarik untuk banyak karakter pendukung lainnya. Mulai dari Rebecca dengan kisah women empowerementnya, Roy Kent sang mantan atlet yang kesulitan melepaskan masa jayanya, Jamie Tartt dengan pengembangan karakternya, Nate dengan jatuh bangunnya mencari jati dirinya, dan masih banyak lagi karakter lain yang diceritakan dengan menarik di series ini. Series ini juga membawa topik-topik yang sedang hangat dibicarakan oleh show business seperti inklusivitas, hingga kesehatan mental.

Alur ceritanya juga go with the flow, tidak memaksakan setiap episode memiliki scene atau cerita yang terlalu dramatis. Bahkan ada beberapa episode yang menurut saya agak “out of nowhere” karena sama sekali tidak berhubungan dengan klub sepakbola, atau karakter utamanya. Kita seakan-akan melihat kisah asli dari klub fiktif ini, menjalani jatuh bangunnya dalam membangun hubungan dan kepercayaan dengan fans, mengatur manajemen klub untuk terus bertahan, dan yang terpenting adalah mencoba memperkuat tim untuk dapat memenangkan seluruh pertandingan hingga liga yang diikuti.

Selain itu, hal yang amat sangat saya senangi dan patut diacungi jempol untuk series ini adalah ceritanya yang tidak pernah klise. Hal ini saya rasa konsisten dari awal episode di season 1, hingga akhir episode di season 3. Series atau film bertemakan olahraga seringkali menggunakan alur yang cukup serupa, dimana tim akan mengalami kesulitan di awal, mencoba untuk melakukan perubahan, berjuang tanpa menyerah, hingga akhirnya memenangkan pertandingan atau turnamen yang diikuti. Untuk Ted Lasso, saya rasa justru lebih banyak pertandingan yang menunjukan kekalahan mereka, atau menang namun kalah gol di menit-menit terakhir, pertandingan berakhir seri, hingga ada saat dimana mereka betul-betul terelegasi. Ini sangat menarik bagi saya karena justru penonton tidak bisa menebak alur cerita yang akan disajikan. Hal yang ditonjolkan justru dinamika kelompok yang terjadi saat mereka menghadapi situasi yang justru tidak ideal.

Melihat series ini jarang menceritakan kisah yang dramatis membuat saya juga tidak bisa menebak bagaimana ending dari series ini. Bahkan untuk mencurigai series ini memiliki happy ending pun saya tidak yakin. Namun ternyata series ini memiliki alur closure yang luar biasa indahnya. Setiap karakter yang memiliki struggle dari awal cerita, akhirnya mendapatkan happy ending yang pantas didapatkan tanpa terkesan dipaksakan (untuk semua berakhir bahagia). Masih banyak kisah yang tidak sempurna, pertanyaan yang tidak terjawab, namun pada akhirnya, that’s life. Begitu banyak hal yang terjadi, bisa sesuai dengan kemauan kita, dan bisa juga tidak. Tinggal bagaimana kita menerima, menjalani, dan terus mencoba. That’s exactly the message yang saya betul-betul dapatkan dari series ini.

Let’s talk about acting, for one particular person, Jason Sudeikis. Sejujurnya saya cukup jarang mengikuti karya-karya Jason Sudeikis. Fakta bahwa ia tidak hanya memerankan Ted Lasso namun juga menjadi produser di series ini membuat saya kagum. Jason berhasil mengangat tokoh fiksional yang dulunya adalah parodi dan memerankan tokoh tersebut di dunia fiksional yang betul-betul terasa nyata. Berbicara tentang akting, di awal season saya mengira bahwa Ted Lasso memang sosok yang sempurna layaknya malaikat. Penuh optimisme, tidak ada aura negatif walaupun banyak pihak yang tidak bisa menerima kehadiran dirinya, dan selalu membantu orang lain dan merasa bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Seiring berjalannya series, penonton ditunjukan bahwa sosok Ted Lasso yang sebenarnya hanyalah manusia biasa. Dirinya memiliki masalah yang begitu besar di kehidupan pribadinya, sehingga seringkali memaksakan untuk terus terlihat bahagia, tidak meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalahnya, memendam semuanya sendiri sehingga seringkali terserang panic attack. Karakter dan kisah ini membutuhkan seseorang dengan range acting yang luar biasa. Saya betul-betul amazed melihat Ted Lasso yang bisa ceria dan terlihat tidak ada masalah di satu scene, menjadi panik, bahkan menangis dan terlihat tak berdaya dan penuh masalah di scene lainnya. Saya tidak bisa membayangkan tokoh ini diperankan oleh aktor selain Jason Sudeikis. He really did a great job in this series, no wonder cukup banyak penghargaan yang diberikan kepada Jason mulai dari Emmy Awards hingga Golden Globe Awards.

Hal pelengkap lainnya yang saya senangi adalah color grading dari series ini. AFC Richmond memiliki warna merah, biru, dan sedikit kuning untuk warna khas klub. Somehow setting di negara Inggris dengan color grading yang diatur sedemikian rupa dan cinematography yang baik mampu membuat gambar dari setiap scene Ted Lasso menjadi sangat sederhana, real, namun cantik. Selain itu, saya juga mengapreasiasi tim series ini dalam membuat klub fictional ini seakan-akan terlihat nyata. Mulai dari stadion away game yang diperlihatkan di beberapa permainan (ada Emirates Stadium, Etihad Stadium, Wembley Stadium hingga Johan Cruyff Arena), tim lawan yang walaupun tidak menggunakan pemain asli namun berhasil menunjukan detail jersey serta sponsor yang digunakan di musim tersebut, hingga penonton di stadion yang terlihat real walaupun sebetulnya adalah CGI. Berkat hal-hal ini series ini terasa begitu nyata, didukung juga oleh marketing yang baik dengan memasukan klub dan pemain AFC Richmond di FIFA 23, menjual jersey dan kit Ted Lasso lengkap yang disponsori oleh Nike, dan detail-detail kecil lain yang membuat penggemar Ted Lasso merasa “attached” dengan series ini.

Soundtrack yang digunakan juga menurut saya cukup pas. Ada beberapa momen yang sangat sesuai dengan lagu yang dimainkan. Saya ingat betul ada satu episode dimana AFC Richmond mengalami kekalahan tidak terduga di menit-menit terakhir. Pada saat itu lagu yang dimainkan adalah You’ll Never Walk Alone, lagu yang identik dengan klub Liverpool. Saking iconicnya, saya masih ingat betul scene tersebut dan momen saat lagu tersebut diputar. Tidak ada dialog, pure lirik dari lagu yang seakan-akan membantu jalannya kisah tersebut diceritakan. Original scorenya juga betul-betul menggambarkan series slice of life, terasa ringan dan sederahana, namun hangat untuk di dengar. Marcus Mumfod dan Tom Howe berperan banyak di musik series ini, yang membuat saya justru penasaran dengan karya-karya mereka yang lain.

Secara keseluruhan, saya mengakui bahwa series ini merupakan salah satu series terbaik yang pernah saya tonton. Hampir seluruh aspek dari series ini terlihat sempurna di mata saya. Saya pun tidak ragu untuk merekomendasikan series ini untuk mereka yang bahkan tidak terlalu menyukai sepakbola. Saya amat sangat jarang memberikan rating untuk series atau film yang saya tonton, unless memang sangat melekat di hati dan pikiran saya. Ted Lasso berhasil membuat saya melakukan hal tersebut, sehingga saya berani memberikan rating 9/10 untuk series ini.

Reborn Rich (2022)

2022 adalah tahun dimana saya tidak terlalu banyak menonton series khususnya drama korea. Entah kenapa akhir-akhir ini saya merasa begitu banyak drama korea on going yang cuplikannya lalu lalang di media sosial. Hal ini membuat saya kurang tertarik untuk mengikuti episodenya (walaupun ceritanya banyak yang menarik) karena tanpa menonton pun, saya sudah tahu jalan ceritanya lewat potongan video yang beredar. 

Namun ada satu drama korea yang saya (dan Ayah saya) cukup tertarik untuk ikuti, yakni Reborn Rich, drama JTBC yang tayang pada akhir 2022.

Sebelum membahas tentang Reborn Rich, saya ingin terlebih dahulu membahas drama keluaran JTBC yang menurut saya punya pattern unik. Untuk ukuran drama series dari saluran TV kabel di Korea, JTBC masih sering kalah dengan saingan besarnya, TVN. Sepemahaman saya, rating drama TV Kabel di korea tidak akan memiliki rating setinggi drama di TV Nasional (KBS, SBS, dll). Dengan kondisi seperti ini, jika ada drama dari TV kabel memiliki rating tinggi (diatas 15%), maka drama tersebut akan terbilang sangat sukses. Karena bisa dibilang proporsi pemilik akses TV kabel (yang jauh lebih sedikit dibandingkan TV Nasional), memiliki proporsi/rating tinggi untuk penonton drama tersebut. 

JTBC sendiri seringkali bersaing dengan saluran TV kabel lainnya, yakni TVN dalam hal rating drama yang ditayangkan. Namun jika diurutkan rating drama dari TV kabel di korea, bisa dibilang top 5 bahkan top 3 nya selalu didominasi oleh JTBC, yakni Sky Castle, The World of the Married, Itaewon Class, sampai Reborn Rich. Selanjutnya barulah drama-drama dari TVN yang biasanya di pimpin oleh CLOY, Reply 1988, hingga Hospital Playlist. 

Reborn Rich sendiri bercerita tentang Yoon Hyeon Woo, seorang karyawan loyal dari perusahaan besar Soonnyang Group yang mendapatkan kesempatan untuk lahir kembali ke tahun 80an menjadi cucu termuda dari group keluarga Soonyang, Jin Do Jun. Yoon Hyeon Woo yang melihat Soonyang berkembang menjadi perusahaan yang berada di kepempimpinan yang salah, bertekad untuk mengubah keadaan saat dirinya diberi kesempatan hidup sebagai Jin Do Jun. Konflik antar anggota keluarga, perebutan kekuasaan, jual beli saham, hingga kisah dibalik keterkaitan konglomerat dengan pemerintahan diceritakan dengan cukup menarik di drama ini. 

Hal unik lain yang saya sadari adalah saat pertama saya menghabiskan episode pertama drama ini, saya betul-betul tidak menyadari bahwa genre drama ini adalah fantasi. Cukup membingungkan di awal, namun latar dan setting era 80an yang muncul di akhir episode pertama sangat menarik bagi saya. Walaupun sama dengan penonton yang lain, saya cukup bingung kemana alur cerita ini akan dibawa. Sebetulnya pun bukan hal aneh jika drama korea mengangkat tema reinkarnasi, karena konsep kesempatan untuk hidup di kehidupan selanjutnya merupakan hal yang saya rasa cukup diyakini oleh sebagian besar warga korea. 

Cukup banyak opini saya mengenai drama ini, namun secara garis besar saya ingin membahas terkait acting para pemain (well mostly akan ada di Lee Seung Min), alur cerita, dan juga genre/konsep dari drama ini.  

Sedikit intermezzo, saat saya menulis ulasan ini, salah satu pemeran utama Reborn Rich sedang hangat-hangatnya dibahas netizen, yakni Song Joong Ki. Sebagai disclaimer, di ulasan ini saya tidak akan membahas apapun terkait  kehidupan pribadi sang aktor. 

Jadi kalau berbicara tentang actingnya, entah saya yang kurang banyak menonton karya SJK, saya merasa ini salah satu series yang acting SJK amat sangat “kebanting” dengan main lead lainnya, Lee Seung Min. Selama ini kita melihat SJK mampu memerankan peran iconic di dramanya yang hits, seperti DOTS ataupun Vincenzo. Ketika membicarakan kedua drama tersebut, sontak yang orang-orang akan ingat adalah sosok pemeran utamanya. 

Kali ini di reborn rich, proporsi scene dan dialog tetap didominasi oleh SJK. Ditambah lagi SJK perlu memerankan 2 tokoh yang berbeda di masa waktu yang berbeda pula. Namun presence dari SJK, bisa dibilang kalah oleh Lee Seung Min yang bahkan tidak muncul sampai akhir episode. 

Di drama ini, Lee Seung Min berperan sebagai Jin Yeong Chul, pemimpin sekaligus pendiri dari Soonyang Group, salah satu group perusahaan besar yang berperan penting dalam perekonomian Korea Selatan di era tahun 80an hingga saat ini. Jin Yeong Chul merupakan pebisnis sejati, yang akan menggunakan akal dan taktiknya untuk menaklukan para pesaingnya. Hal yang saya tangkap adalah Jin Yeong Chul tidak ingin Soonyang jatuh ke tangan yang salah. Berdasarkan kesepakatan, tahta kepemimpinan akan jatuh kepada anak pertama serta cucu pertama. Melihat kapabilitas anak-anaknya, terlihat Jin Yeong Chul belum memiliki kepercayaan penuh untuk menurunkan Soonyang Group, sampai hadir sosok Jin Do Jun. 

Walapun demikian, dinamika hubungan dan scene yang memunculkan kakek & cucu ini juga merupakan salah satu faktor penting yang membuat drama ini menarik. Dalam dramanya, terlihat betul perkembangan hubungan mereka, dari yang tidak diakui hingga menjadi andalan sang kakek. Kepercayaan yang ditimbulkan pada akhirnya dapat menekankan bahwa sosok Jin Yeong Chul bukanlah sosok jahat, namun hanya seorang pebisnis murni yang tau cara mendapatkan untung sebesar-besarnya dan mempertahankan martabat Soonyang Group. 

Kembali ke sosok Lee Seung Min, yang merupakan salah satu aktor senior di korea ini memiliki perjalanan karir yang cukup unik. Karena di usianya yang menginjak 54 tahun, saya baru menyadari bahwa Lee Seung Min baru mendapatkan peran main lead di usianya yang memasuki kepala 4. Mulai dari Misaeng, Spy Gone North, The Man Standing Next, Mr. Zoo, etc, hampir semua drama & filmnya memiliki track record yang baik. 

Sosok Jin Yeong Chul hanya muncul hingga episode 14, namun presence Lee Seung Min, dari gesture tubuhnya, cara & suaranya berbicara, ditambah dengan dialog-dialog yang sebetulnya juga tidak terlalu sulit dicerna namun banyak yang diantaranya membuat penonton berfikir, sangat memperkuat pengaruh Lee Seung Min dalam keberhasilan eksekusi cerita Reborn Rich. Mungkin saya tidak banyak menonton korean drama di 2022, namun sepertinya belum ada aktor yang mendapatkan “buzz” seperti Lee Seung Min. Buzz yang biasa muncul adalah karena aktor/aktris tertentu menunjukan penampilan yang luar biasa, namun sejauh ini hanya Lee Seung Min yang netizen harap mendapatkan Daesang (grand prize dalam malam penganugerahan/awards show) untuk Reborn Rich. 

Selanjutnya terkait dengan genre atau konsep dari drama ini sendiri yang sebetulnya mirip dengan selayaknya drama dengan setting 80an pada umumnya. Namun yang menarik adalah karena Jin Do Jun yang dilahirkan kembali di era jauh sebelum Yeon Hyeon Woo lahir. Sekilas memang mirip dengan alur cerita dengan tema time travel, yakni karena sudah terjadi di masa depan, kita bisa menganitisipasi atau memprediksi hal yang nantinya akan terjadi. Namun yang menarik disini adalah keterkaitan cerita masa lalu dengan kondisi korea sesungguhnya, ada pembahasan mengenai reuni Seo Taiji, prediksi World Cup 2022 dimana Korea Selatan berhasil memasuki Semi Final, serta konflik politik & pemerintahan yang terjadi di masa-masa pemberontakan. Terlebih lagi, Soonyang Group juga dianalogikan sebagai salah satu perusahaan besar yang masih bertahan di korea hingga saat ini. Lebih spesifik lagi Soonyang Group dan kondisi di dalamnya dianggap menggambarkan salah satu perusahaan teknologi besar yang berasal dari korea selatan. Hal ini yang membuat drama Reborn Rich cukup relate dengan berbagai rentang usia. Mau tua ataupun muda, banyak kejadian dan momen besar yang sudah terjadi di korea selatan, hanya saja Jin Do Jun memanfaatkan momen-momen ini untuk meraih tujuannya dalam mengambil alih Soonyang Group.

*disclaimer: might contain spoiler.

Acting para pemain yang cukup apik, latar dan setting drama era korea masa lalu yang sangat relatable, sayangnya perlu sedikit “diganggu” dengan ending yang dianggap kurang memuaskan bagi sebagian besar penonton, termasuk saya (dan Ayah saya :)). Dengan build up cerita yang cukup kompleks di 14 episode, banyak penonton yang berharap Jin Do Jun lah yang mengakhiri cerita Reborn Rich dengan memenangkan pengambilan kekuasaan di Soonyang Group. Namun yang terjadi adalah di episode 16, Yoon Hyeon Woo yang diasumsikan sudah tewas di episode pertama, kembali hidup (dari kondisi koma) dan melanjutkan perjalanan Jin Do Jun melalui tubuh Yoon Hyeon Woo. 

Saya rasa sebetulnya hal ini masih make sense untuk dilakukan. Selama tujuan akhirnya tercapai (mengambil alih kekuasaan Soonyang) terlepas siapapun yang menjalani, entah Jin Do Jun atau Yoon Hyeon Woo. Tapi saya rasa ini salah satu hal yang seringkali terjadi di drama korea, yakni build up yang cukup panjang dan intens, terkadang ditutup dengan ending yang antiklimaks. Hal yang sama terjadi dengan drama JTBC yang booming sebelum2nya, World of the Married dengan open ending dari nasib anak pemeran utama, serta Sky Castle yang saking populernya ditambahkan beberapa episode yang pada akhirnya ditutup dengan pemeran utama yang kembali menjadi antagonis. 

Khusus untuk 2 drama tadi, walaupun endingnya mengecewakan, penonton jarang membahas hal tersebut karena mungkin alur cerita yang sudah cukup kuat. Namun Reborn Reach mendapatkan treatment yang cukup berbeda, bahkan dinobatkan sebagai drama korea dengan ending terburuk sepanjang masa. Entah karena memang temanya adalah balas dendam, namun karena ending yang mengecewakan, seakan-akan usaha balas dendam yang dilakukan sebelumnya menjadi sia-sia.

Secara keseluruhan, saya tetap menikmati drama ini. Poin terkuat tetap ada di akting Lee Seung Min, dan konsep era 80an yang mereka angkat. Selain itu, untuk ukuran drama dengan cerita yang kompleks dan juga menggunakan banyak term bisnis & jual beli saham, drama ini tidak membuat penontonnya pusing namun justru membuat penonton yang awam menjadi paham akan topik ini. 

How I Met Your Mother (2005-2014)

Di post kali ini saya akan membahas sebuah series yang amat sangat melekat di diri saya. Series ini merupakan satu-satunya series yang saya tonton ulang seluruh episodenya (kecuali Season terakhir – 9) lebih dari belasan kali. Banyak dialog, lirik OST, alur cerita yang secara tidak sadar saya cukup hafal di luar kepala. Saya bisa bilang bahwa series ini adalah salah satu comfort series saya dalam konteks non korean drama.

Pertama kali menonton series ini adalah saat saya SMP, dimana channel TV kabel yang paling sering saya tonton adalah Star World (saat ini namanya berubah menjadi Fox Life) dan beberapa series US yang saat itu sedang tayang salah satunya adalah How I Met Your Mother (HIMYM). Saya tertarik untuk menontonnya karena saya menganggap konsep series ini cukup unik, dimana series ini merupakan cerita flashback sang Ayah, tentang – seperti judulnya – bagaimana sang Ayah bertemu istrinya, yakni Ibu dari anak-anaknya.

Membahas series ini tidak bisa lepas dari perbandingannya dari series yang jauh lebih sukses dan lebih hits (ya, saya pun mengakui hal tersebut) yakni Friends. Saya pribadi sudah menonton semua episode dari kedua series ini, dan saya menyukai kedua series ini. Disatu sisi saya paham kenapa series ini seringkali dibandingkan, namun disisi lain menurut saya tetap ada beberapa hal yang membuat series ini sebetulnya berbeda satu sama lain.

Hal yang persis sama dan menurut saya juga cukup obvious adalah cerita kedua series ini berkisar tentang a group of friends yang tinggal di kota New York, hangout bersama di suatu tempat secara rutin dan selalu duduk di meja yang sama, masing-masing memiliki kisahnya sendiri terutama dalam urusan cinta dan adanya love interest di dalam group pertemanan ini.

Disisi lain, menurut saya kedua series ini juga memiliki kelebihannya masing-masing. Friends definitely memiliki level of humor yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan HIMYM), Friends juga memiliki storyline yang menarik, dan betapa iconicnya series ini mulai dari tokoh, barang (pintu ungu dengan bingkai kuning misalnya), lay out apartemen, central park cafe, dan lain-lain yang pada akhirnya mampu memberikan inspirasi creator lain untuk membuat cerita seperti ini – salah satunya adalah HIMYM. Sedangkan HIMYM memiliki konsep series yang cukup unik terutama dari segi penyampaian cerita (past stories, way storytelling, bermain dengan waktu) dan HIMYM juga memiliki storyline yang juga menarik.

Namun dari segi cerita dan narasi, saya lebih banyak menemukan insight dari series HIMYM. Ini juga bisa jadi terpengaruh karena saya sendiri tumbuh dengan menyaksikan series ini dari awal sampai tamat. Saya belajar tentang masalah percintaan orang dewasa – during the process of getting to know each other, pacaran, putus, menikah, masalah keinginan punya anak sampai kesulitan memiliki anak, masalah tentang pekerjaan – jobless, finding passion, family issues, dan masalah-masalah hidup lain banyak dibahas di series ini. Dengan usia saya yang masih SMP, SMA dan kuliah saat menonton ini, banyak insight yang saya dapatkan dan ketika saya sudah bekerja seperti saat ini, saya akhirnya melihat sendiri konflik-konflik tersebut secara nyata. Tentunya dengan culture yang berbeda di timur dan barat juga menghasilkan bentuk konflik yang sedikit berbeda. Namun secara garis besar kegelisahan yang dialami seseorang di usia late 20 dan early 30 tidak akan jauh berbeda satu sama lain dimanapun mereka tinggal dan hal tersebut cukup tergambarkan dari series ini.

Jika saya bisa mempoint out beberapa hal yang menurut saya menarik tentang series ini, mungkin ada 5 hal yang ingin saya bagikan:

1. Konsep Series

Saya sudah menyebutkan sebelumnya bahwa konsep series ini dengan bentuk story telling ke masa lalu amatlah menarik perhatian saya, namun saya rasa poin tersebut mudah ditangkap oleh sebagian besar orang yang menonton series ini. Hal lain yang tidak saya sadari adalah betapa seringnya para creator dan sutradara menggunakan konsep timing. Contohnya di episode The Burning Beekeeper (Season 7, Episode 5). Satu episode betul-betul menjelaskan apa yang terjadi hanya dalam waktu 5 menit dari berbagai macam sudut pandang.

The Burning Beekeeper (Season 7, Episode 5)

Ada juga episode Three Days of Snow (Season 4, Episode 13) dimana HIMYM menceritakan kisah 3 hari dan apa yang terjadi untuk 5 karakter ini. Penonton pun tidak menyadari bahwa cerita episode ini terbagi menjadi 3 hari, sampai akhirnya disebutkan di akhir episode.

3 Days of Snow (Season 4, Episode 13)

2. Life Lesson

Saya yakin betul banyak sekali series diluar sana yang membahas tentang slice of life. Baik tentang kehidupan sekolah, perkuliahan, pekerjaan, pernikahan, keluarga dan lain-lain. Untuk HIMYM, hampir semua konflik yang dialami oleh late 20s dan early 30s diceritakan dalam beberapa episode. Salah satu episode yang paling menarik untuk poin ini adalah Robots vs Wrestlers (Season 5 Episode 22).

Robot VS Wrestlers (Season 5, Episode 22)

Episode ini menunjukan bahwa wajar jika kita merasa stuck akan kehidupan kita. Melihat orang lain seakan-akan sudah berjalan bahkan berlari jauh, sedangkan kita masih ada di posisi yang sama. Tapi, yang paling penting adalah pemahaman bahwa Life is not a competition. Semua orang memiliki timelinenya masing-masing. Kita tidak akan stuck di tempat ini selamanya, karena sesuatu yang indah dan berharga sudah menanti kita, walaupun bukan untuk saat ini.

3. Easter Eggs

Setiap series atau film pasti memiliki easter eggs yang secara tidak sengaja ataupun sengaja ditampilkan. Masih berkaitan dengan konsep waktu, menurut saya easter eggs HIMYM cukup menarik karena berhubungan satu sama lain dengan konsep timeline yang amat sangat panjang (dari saat Ted lajang hingga memiliki anak). Dari sekian banyak easter eggs yang menarik, menurut saya easter eggs yang paling legendaris adalah the yellow umbrella. Yellow umbrella muncul dari season 1 hingga season 9, dimana bermula dari payung yang ditinggalkan di sebuah club oleh Tracy, diambil secara tidak sengaja oleh Ted, ditinggalkan di apartement Tracy saat Ted berkencan dengan roomatenya, Tracy secara “ajaib” menemukan kembali payung yang selama ini hilang, sampai akhirnya mereka bertemu di stasiun kereta, di hari pernikahan Robin dan Barney. Secara storyline, untuk yellow umbrella seringkali dimunculkan, tanpa diceritakan secara terburu-buru. Penonton tetap dibuat penasaran dan bahkan tidak sabar melihat muka The Mother. Saya pribadi melihatnya sebagai pertanda bahwa bagaimana pun juga, The Mother ada diluar sana, dan bukan wanita-wanita yang saat itu bersama dengan Ted (Robin, Stella, Victoria, etc).

4. The Characters

Dari 5 main character series ini, saya bisa bilang bahwa setelah menonton ulang series ini berkali-kali, saya menyukai semua 5 karakter ini dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Saya yakin setiap orang yang menonton series apapun dan menyelesaikan semua seasonnya akan merasakan hal yang sama, begitu pula dengan saya. Sosok dan karakter 5 orang ini sangat melekat di hati saya, sehingga tidak jarang saya menemukan sosok-sosok yang memiliki karakter cukup mirip dengan mereka di real life. It was quite an experience.

5. Let’s Talk about the Ending. Alternate ending and the real ending. (Might contain spoilers)

Dari sekian banyak hal yang saya senangi tentang series ini, saya perlu mengakui bahwa ending dari HIMYM pantas untuk masuk ke dalam list one of the worst endings of all time. Hal yang akan saya bahas disini mungkin berisi spoilers, tapi dengan ending buruk yang cukup booming saat itu dan series yang sudah selesai beberapa tahun yang lalu saya rasa hampir semua orang tau ending dari HIMYM.

The mother died.

Ted ended up with Robin.


Dua kalimat itu sudah cukup menggambarkan alasan mengapa saya tidak setuju akan ending yang diberikan.

Hal unik yang saya temukan juga saat menonton series ini berulang-ulang kali adalah, kini saya paham kenapa sang creator menyimpulkan bahwa the whole series adalah cerita tentang bagaimana seorang Ted Mosby amat sangat mencintai Robin. Dari 9 season yang ditayangkan, 8 season (atau mungkin mostly hampir 6 season sendiri) ceritanya tidak bergerak dari Ted dan Robin. Barney adalah selingan yang sebetulnya menyelamatkan series ini untuk ended up in the wrong way (ironinya endingnya betul-betul ke arah yang salah). Wanita-wanita yang hadir di kehidupan Ted juga menurut saya tidak ada yang ceritanya sedalam Robin. Even untuk Stella yang left him at the altar, Ted dan Robin punya sesuatu yang berbeda.

Sampai akhirnya muncul Tracy.

Tracy is great. Perfect. Bahkan at some point way to perfect untuk menjadi jodoh seorang Ted Mosby. Kehadirannya pun sebetulnya tidak terlalu tiba-tiba, karena berbagai hint dengan yellow umbrella sudah sering dimunculkan bahkan dari season pertama. Walaupun sosok aktrisnya (Cristin Milioti) baru muncul di akhir season 8 namun setidaknya clue dari Yellow Umbrella menunjukan bahwa she’s out there and you’ll meet her someday.

Dari clue tersebut pun saya sebagai penonton diyakinkan bahwa Robin is a chapter, but not the last chapter. Robin sebetulnya bisa dijadikan sosok yang membuat Ted semakin mengenal dirinya sendiri.

Hal utama yang saya kurang sukai adalah bagaimana Tracy tiba-tiba meninggal, how season 9 seems rushed dan “kosong”, di sisi lain juga terlalu “padat” namun hancur di episode terakhir. The whole season adalah tentang pernikahan Robin dan Barney yang pada akhirnya mereka bercerai di episode terakhir.

Intinya bukan hanya endingnya saja tapi the whole season 9 menurut saya mengecewakan.

Itulah yang membuat saya juga tidak merasa alternate ending membantu. Karena di alternate ending ini walaupun Ted tetap bersama Tracy, kita belum tau apakah Robin masih bersama Barney atau tetap bercerai.

Jika masih bersama, well good they’re meant to be and perfect for each other. Jika tidak, kemungkinan Robin juga masih mencintai Ted amatlah besar disini.

Terlepas dari ending yang kurang saya sukai, in overall tetap saja ini merupakan comfort series terbaik untuk saya. Sedih juga rasanya saat mengetahui HIMYM sudah tidak ada di Netflix, dan sekarang akan cukup sulit untuk mencari website atau platform legal yang menyediakan seluruh episode secara lengkap.

Kalau saya diminta mengutip best quotes dari series ini, saya akan memilih “The great moments of your life won’t necessarily be the things you do, they’ll also be the things that happen to you.” – Ted Mosby

Thank you HIMYM for the great memories.

You will always be legen..wait for it..DARY!

The Woman in the House Across the Street from the Girl in the Window (2022)

[Might Contain Spoilers]

Saat saya menulis sebuah review tentang series atau film di blog ini, saya cenderung menghindari konten spoiler. Simply karena mungkin ada beberapa orang yang bisa saja belum menonton series atau film tersebut. Sehingga saya lebih banyak menekankan kepada pendapat saya tentang keseluruhan film seperti alur cerita secara garis besar, aktor dan aktris yang berperan di dalamnya, original score, cinematography, director, screenplay, dan berbagai hal lainnya yang menurut saya menarik.

Namun, khusus untuk series Netflix ini, saya menulisnya langsung setelah saya menyelesaikan seluruh episodenya. Setelah menonton series ini, menurut saya ada poin utama yang saya ingin share dan hal ini cenderung mengandung spoiler atau plot twist yang terjadi dalam series ini.

Series Netfix ini berjudul “The Woman in the House Across the Street from the Girl in the Window”. Ya, dari segi judul sudah cukup menarik perhatian saya karena amat sangat panjang dan cenderung sulit untuk disebutkan. Series ini tayang hari Jum’at, 28 Januari 2022. Jumlah episodenya hanya ada 8, dengan durasi setiap episode cukup singkat yakni 25 menit (belum termasuk end credits).

Series ini bercerita tentang Anna, yang hidup dengan issue di kesehatan mentalnya. Anna kehilangan putri semata wayangnya tiga tahun lalu dan juga bercerai dengan suaminya. Kondisi mental Anna membuat hidupnya berjalan dengan tidak stabil. Anna seringkali tidak bisa membedakan mana realita dan imajinasinya karena seringnya Anna berhalusinasi.

Cerita memuncak saat rumah kosong di depan rumah Anna kedatangan penghuni baru. Beberapa masalah pun mulai muncul dengan premis dimana Anna seringkali duduk di bangku dekat jendela, meminum obat yang diresepkan sambil meminum berbotol-botol red wine sembari memperhatikan kegiatan tetangga barunya tersebut. Dimana memang pada akhirnya cukup banyak kejadian-kejadian janggal yang terjadi – termasuk pembunuhan.

Series dengan tone gambar yang cukup dark, cerita psychological thriller, dan terdiri dari banyak plot twist ini mengingatkan saya akan series You dan Clickbait. Perbedaannya memang untuk series You, fokus cerita sudah ada di male lead yang memang seorang psikopat. Lalu untuk Clickbait, setiap episodenya memang membahas sudut pandang dari masing-masing tokoh yang ada, sehingga tidak terlalu fokus di main lead.

Namun untuk series The Woman in the House Across the Street from the Girl in the Window, dengan kondisi female lead Anna yang dari awal dijelaskan memiliki issue di kesehatan mental dan seringnya Anna berhalusinasi, menurut saya justru ini membuat penonton tidak henti-hentinya menebak cerita yang sedang berjalan. Saya sebagai penonton seringkali menebak setiap scene dan cerita yang muncul, dengan bertanya apakah ini realita atau hanya halusinasi Anna saja. Sejujurnya pembawaan cerita seperti ini menurut saya cukup menarik sehingga secara alur tidak membosankan.

Selain itu dengan durasi kurang lebih 25 menit di setiap episodenya, dengan fokus cerita tidak terlalu bercabang menurut saya membuat series ini cukup menarik untuk di binge watch. Hal yang membuat series ini terlihat rumit hanyalah ketidakjelasan akan mana realita dan halusinasi Anna, serta beberapa plot twist yang muncul di setiap episode. Tapi hal ini tidak membuat penonton (setidaknya saya) bingung atau merasa lost di tengah jalannya cerita.

[Spoiler Part]

Saat saya pertama kali melihat judulnya, saya sudah berfikir pasti ada alasan kenapa judul dibuat sepanjang dan sekompleks ini. Saya pun berfikir kemungkinan hal ini dilakukan untuk strategi marketing belaka. Dimana dengan judul panjang ini, entah orang akan tertarik untuk menonton atau tidak, setidaknya mereka aware bahwa ada series di Netflix yang baru saja tayang dengan judul yang cukup panjang.

Namun setelah menonton series ini, saya baru menyadari bahwa inti cerita sebetulnya sudah disebutkan di judul yang panjang ini. Judul ini merefer kepada dua subjek utama yakni “The Woman” yang mengacu kepada sosok wanita dewasa, serta “The Girl” yang mengacu kepada sosok perempuan yang lebih muda, atau bahkan bisa dianggap anak kecil. Di series ini, sosok “The Woman” yang menjadi pemeran utama hanyalah Anna, dan “The Girl” hanyalah Emma, sang anak perempuan dari tetangga baru Anna, Neil. Sosok perempuan muda yang lain adalah Elizabeth. Namun meninggalnya Elizabeth tiga tahun lalu sudah cukup menjelaskan bahwa di kasus-kasus yang terjadi di series ini, Elizabeth tidak mungkin berperan banyak (selain ke kondisi mental Anna sendiri).

Kompleksnya cerita, alur dan karakter untuk menemukan siapa pembunuh utamanya memang baru diungkapkan di episode 8. Dimana sesuai dengan yang saya sebutkan sebelumnya, Emma (yang masih berusia sekitar 9 atau 10 tahun) adalah sosok dibalik penyerangan dan pembunuhan yang ada di series ini. Fakta ini sebetulnya membuat saya cukup kaget bukan dari segi plot twistnya. Namun dari segi pengambilan keputusan sang creator bahwa pelaku utama dari kasus pembunuhan yang terjadi (hampir 3 kali) adalah sosok seorang anak kecil.

Apakah seseorang anak kecil bisa melakukan semua hal ini? Menurut saya iya. Banyak alasan dibalik kenapa hal keji ini dilakukan oleh seorang anak kecil, seperti yang kita bisa lihat di berita. Namun yang agak disayangkan di series ini adalah background story mengapa Emma membunuh ibunya, ayahnya, serta guru SDnya amat sangat lemah. Cara Emma membunuh ketiga orang ini, dan juga menyingkirkan mayat salah satu korban juga tidak dijelaskan dengan clear. Secara fisik Emma sangatlah kecil, kalaupun memang Emma mampu menyingkirkan tubuh korban, namun cara Emma membuat TKP terlihat clear, rasanya terlalu jenius untuk seukuran anak kecil (unless jika Emma sudah belajar banyak terkait hal ini).

Selain itu, saya cukup wondering apakah nantinya setelah series ini booming atau sudah semakin banyak yang menonton, pilihan anak kecil menjadi psikopat menjadi perdebatan atau tidak. Saya sendiri belum menemukan banyak cerita di series atau film dengan psikopat yang diperankan anak kecil. Seringkali saya berfikir, tontonan seperti ini, atau bahkan untuk aktor cilik yang memerankan peran psikopat, sebetulnya cukup berisiko. Tidak hanya untuk penonton tapi juga sang aktor, simply karena usia mereka masih sangat muda dan belum tentu paham akan hal ini di kehidupan nyata. Bahkan worst casenya, jangan sampai ketidakpahaman tersebut justru membuat mereka berfikir bahwa hal tersebut mungkin dan bisa dilakukan oleh anak seusia mereka.

Sejauh ini, review atau pendapat penonton yang saya temukan di social media (terutama Twitter), memang tidak banyak membahas tentang poin ini. Cukup menarik karena memang lebih banyak yang membahas kejanggalan judul yang terlalu panjang (sampai banyak yang mengira ini series parodi dari The Girl on the Train dan The Woman in the Window), cerita plot twist yang membingungkan (sebagian juga berfikir tidak masuk akal), dan banyaknya orang menilai series ini aneh.

Overall cerita dari series ini sebetulnya cukup menarik untuk diikuti, namun memang memiliki closure yang tidak memuaskan. Karena selain background story pelaku yang tidak jelas, hal ini ditambah juga dengan ending yang open (saya belum bisa menilai apakah scene tersebut perlu atau tidak), memang menambah kontribusi “kelemahan” series ini. Hal ini amat sangat disayangkan karena jika punya kesimpulan cerita yang kuat, series ini tidak akan menjadi “selemah” atau yang netizen Twitter bilang, “seabsurd” ini. Walaupun begitu, setidaknya saya cukup senang bisa melihat Kristen Bell yang imagenya sudah terlalu melekat dengan Anna Frozen, akhirnya muncul di series psychological thriller ini. She did a great job by the way, dan betul-betul outshining the other cast – even the other main lead.

Apakah saya akan merekomendasikan series ini? Saran saya jika ingin psychological thriller yang lebih menarik, bisa menonton You dan juga Clickbait. Tapi jika Anda bisa menerima sedikit keabsurdan dari sebuah cerita thriller, you can try this series too.

Happy watching.

The Silent Sea (2021)

Tahun ini memang tahunnya Netflix Korea. Investasi dengan jumlah besar nampaknya memang menghasilkan banyak project-project drama dengan genre yang cukup beragam. Masing-masing drama ini saya akui tidak semua jalan ceritanya “sukses” di mata viewers. Tapi satu hal yang pasti dengan biaya produksi yang tidak sedikit dan keberanian Netflix menampilkan drama yang “berbeda”, mampu membuat series-series ini trending terutama saat minggu-minggu awal rilis. Serta membuat nama dunia perfilman serta series Korea Selatan terus diakui kualitasnya.

Salah satu drama Netflix Korea yang akan saya bahas disini adalah The Silent Sea. Ini merupakan salah satu project Netflix yang cukup saya tunggu-tunggu karena Jung Woosung tidak berperan sebagai main lead, namun sebagai executive producer. Cukup penasaran akan konsep yang akan ia bawa di drama ini serta bagaimana caranya melakukan eksekusi (tentunya dengan seluruh tim produksi yang ada).

The Silent Sea sendiri menceritakan tentang sebuah misi perjalanan keluar angkasa untuk menyelamatkan bumi, dimana terdapat sebuah kelompok yang ditugaskan untuk pergi ke bulan guna mencari sumber daya (terutama air) yang bisa digunakan di bumi. Saat itu digambarkan kondisi bumi amat sangat kekurangan air sehingga masing-masing individu hanya bisa mendapatkan jatah air sesuai dengan status mereka (semakin tinggi status orang tersebut semakin banyak air yang bisa didapatkan).

Drama ini rilis pada tanggal 24 December 2021, di hari itu juga saya mencoba untuk menyelesaikan semua episodenya. Sembari menonton saya juga cukup sering mencari review-review non spoiler atau setidaknya pendapat viewers tentang drama ini. Uniknya, ketika di post sebelumnya saya mengatakan bahwa banyak orang yang tidak puas dengan Hellbound karena dibandingkan dengan Squid Game, justru The Silent Sea dianggap lebih tidak memuaskan lagi jika dibandingkan dengan Hellbound. Series Hellbound yang di cap membingungkan seketika diangkat namanya dan di cap dengan drama yang memiliki plot cukup menarik (mungkin ini juga impact dari Sutradara yang mengkonfirmasi kehadiran Season 2).

Kalau saya simpulkan dari review dan opini penonton tentang The Silent Sea, sebagian besar menyebutkan bahwa The Silent Sea memiliki plot yang lambat (dengan jumlah episode yang sedikit pula), premis cerita yang tidak terlalu menarik, dan ketidakjelasan dari endingnya. Berbeda dengan Hellbound dimana Season 2 cukup cepat dikonfirmasi, untuk The Silent Sea sampai setidaknya hari ini belum ada konfirmasi tentang hal tersebut.

Jika kita berbicara tentang alurnya, menurut saya dari episode awal sudah cukup ditemukan sedikit plot twist dan juga konflik. Alurnya memang cukup lambat dan ceritanya dari masing-masing episode tidak membuat penonton penasaran. Background cerita tentang kondisi dibumi yang mengalami masalah iklim dan sumber daya alam juga sebetulnya bukan merupakan hal yang baru.

Untuk endingnya, dari sekian banyak series Netflix yang memiliki ending yang menggantung dikarenakan adanya rencana untuk season selanjutnya, menurut saya The Silent Sea simply memiliki ending yang betul-betul open. Penonton dibebaskan untuk berimajinasi akan hal ini. Menurut saya pun ini tidak terlalu mengganggu karena keseluruhan series, konflik, dan jawaban yang diinginkan dari series ini cukup terjawab. Hanya ada 1 scene diakhir yang mengganjal karena banyak pasti yang bertanya-tanya. Namun kehadiran scene ini menurut saya tidak terlalu mengganggu keseluruhan cerita. Hanya pemanis di bagian akhir yang membiarkan penonton berimajinasi sesuka hati.

Saya kurang tahu apakah hal ini cukup valid atau tidak namun satu hal yang saya sadari juga mungkin ada sebagian penonton yang membandingkan The Silent Sea dengan Space Sweepers. Keduanya menunjukan kondisi kehidupan manusia yang kesulitan di masa depan, dan keduanya juga menceritakan tentang sekelompok orang yang berusaha menyelamatkan manusia di bumi agar tetap hidup. Untuk Space Sweepers, dengan film berdurasi sekitar 2 jam menurut saya wajar jika sebagian besar menganggap Space Sweepers lebih seru (walaupun menurut saya Space Sweepers adalah tipikal film box office pada umumnya). Namun untuk ukuran drama, dengan tujuan yang sama dengan konflik yang tidak terlalu banyak (walaupun tetap lumayan kompleks) menurut saya memang 2 project ini adalah 2 project yang berbeda. Lain lagi kalau The Silent Sea hanya dirangkum menjadi 2 jam film pastinya alur akan dirasa tidak terlalu lambat.

Selain itu, perbandingan lain yang saya temukan juga dari para viewers adalah perbandingannya dengan Interstellar. Menurut saya, kurang fair kalau project-project dengan tema luar angkasa kita bandingan dengan Interstellar. Saya cukup sering mengulik tentang Interstellar saat film ini tayang dulu, serta ambisi Nolan dalam mewujudkannya (dengan tidak menggunakan green screen). Namun untuk film-film luar angkasa lain yang menggunakan CGI, green screen dan lain-lain menurut saya tidak bisa kita anggap sebagai project dengan kualitas yang rendah. Karena karya-karya Christopher Nolan akan selalu menjadi karya yang “beda”. Apalagi dengan melihat Space Sweepers dan The Silent Sea, sebetulnya membuktikan bahwa Korea Selatan bahkan mampu menyandingi hollywood dalam membuat CGI yang realistis, dipadu juga dengan cinematography yang cantik.

Saya juga mencoba menonton beberapa Behind The Scene yang ditayangkan oleh Netflix. Tipikal produksi Netflix menurut saya dari segi production set, kostum yang digunakan, juga tidak pernah mengecewakan. Mungkin dari segi original score atau musik yang digunakan kurang “ngena” di saya tapi sejauh ini tidak mengurangi keestetikan dari drama ini.

Dari segi aktor, line upnya cukup menarik. Cukup surprised melihat still cuts pertama yang mereka keluarkan beberapa bulan yang lalu. Dalam satu frame, dengan menggunakan baju selayaknya astronot (saat itu peran-peran mereka belum dijelaskan) kita bisa menemukan Gong Yoo, Bae Doona, Kim Sunyoung, Lee Moosaeng, Lee Joon, dan banyak aktor-aktor lain yang saya juga tidak terlalu asing wajahnya. Selain Gong Yoo dan Bae Doona saya kurang tau siapa yang menjadi main lead di drama ini, but having them both as the main one sesungguhnya sudah lebih dari cukup.

Bae Doona adalah aktris korea pertama yang saya sukai lewat series Stranger. Uniknya yang membuat saya suka dengan Bae Doona bukan dengan aktingnya saja melainkan sisi lain (atau justru sisi asli) Bae Doona yang terlihat di kamera dan diluar sesi shooting. She’s so bubly dan easily spread happiness to people around her. Untuk karya-karyanya sendiri saya rasa no doubt untuk Bae Doona. Kritik dilayangkan untuk Bae Doona saya rasa hanya ada di Kingdom itupun dari segi pelafalan sebuah aksen/logat. Selebihnya, Bae Doona termasuk aktris korea yang sukses tidak hanya di Korea namun juga di Hollywood.

Di series ini, karakter Bae Doona jauh lebih difokuskan bahkan dibandingkan dengan karakter yang lain. Karakternya hanya satu-satunya karakter yang diceritakan tentang background storynya dan juga post event storynya. Background story inilah yang membuat karakter Bae Doona tidak terlihat terlalu ekspresif karena memang ceritanya cukup tragis. Sama seperti karyanya yang lain, i think she also nailed this one.

Selanjutnya ada Gong Yoo, aktor yang satu ini bisa dipastikan punya jumlah fans yang amat sangat banyak. Hal ini menurut saya dikarenakan Gong Yoo adalah tipikal aktor dengan project yang sebetulnya tidak terlalu banyak, namun project-projectnya seringkali booming. Seperti Coffee Prince, Train to Busan, dan juga Goblin. Project Gong Yoo yang lain pun tidak kalah menarik seperti Kim Jiyoung: Born 1982, Silenced, etc.

Terkadang saya berharap Gong Yoo bisa mendapatkan peran-peran yang anti heroic untuk melihat sisi lain Gong Yoo sebagai aktor. Sama dengan Bae Doona, no doubt untuk kemampuan aktingnya tapi would be nice jika bisa melihat sisi lain atau peran (atau mungkin saya juga yang kurang banyak menonton film-film Gong Yoo).

Selain satu scene di ending yang cukup “nanggung”, kejanggalan minor lain yang saya temukan adalah 1) apa yang terjadi di bumi sehingga krisis ini terjadi 2) politik dibalik konflik yang terjadi tidak dijelaskan secara clear. Mungkin pada dasarnya drama ini memfokuskan kepada kelompok yang menjalani misi dan bagaimana mereka menyelesaikan misis tersebut – karena tujuannya baik untuk umat manusia. Namun a little bit background story untuk dua poin yang saya sebutkan tadi sepertinya would be nice jika dimasukan ke dalam cerita ini.

Overall drama ini membuat saya menyimpulkan bahwa apapun project yang Netflix produksi, kita tidak perlu berekspektasi tinggi untuk ceritanya (terutama untuk season 1), karena sejauh ini saya rasa dari segi cerita belum ada yang bisa mengalahkan Kingdom. Tapi yang bisa kita tunggu dari series series ini adalah keseluruhan produksi series tersebut as one project. Budget yang besar tidak disia-siakan begitu saja. Mulai dari aktor, production set, costume, make up, musik/original score, screenplay sampai promosi, Netflix selalu all out dan tidak jarang berani tampil “beda”.

Hellbound (2021)

Seperti yang sempat saya sebutkan di post sebelumnya (Squid Game), salah satu project Netflix Korea yang saya tunggu adalah series yang dibintangi oleh Yoo Ah In, yakni Hellbound. Saat rilis pun saya langsung menghabiskan series ini dalam waktu yang cukup singkat.

Overall saya cukup puas dengan series ini. Sempat khawatir apakah akan terlalu dibandingkan dengan popularitas Squid Game yang mendunia, tapi setelah ditonton, sepertinya memang tidak apple to apple untuk dibandingkan. Ini juga berlaku untuk series Netflix lainnya yang tayang di tahun ini (Move to Heaven, D.P, My Name, etc) dimana tema yang dibawa cukup berbeda. Cukup jarang jika dibandingkan dengan tema drama yang ada di TV lokal/cable di korea, mungkin salah satu yang akhir-akhir ini mengambil tema cukup unik adalah Jirisan (yang saya juga berniat membuat ulasannya setelah tamat menontonnya).

Sayangnya, media dan publik punya caranya sendiri dalam mereview atau memandang sebuah karya. Terutama dengan euphoria Squid Game yang mendunia (plus momen halloween yang tidak jauh setelahnya) membuat Hellbound tidak henti-hentinya dibandingkan dengan Squid Game. Kalau melihat dari opini-opini ini, saya bisa menyimpulkan di mata mereka Hellbound termasuk series yang membingungkan dan tidak memuaskan. Saya pun paham jika banyak yang beranggapan demikian. Hal ini dikarenakan Hellbound memiliki premis cerita fantasi yang menurut saya cukup clear di awal, namun di episode-episode akhir ada beberapa plot yang “mengganggu” premis tersebut. No wonder kalau penonton bertanya-tanya apa sebetulnya inti cerita dari series ini.

Hellbound juga dianggap memiliki ending yang menggantung (saya pribadi melihatnya lebih ke open ending). Terkait hal ini, sebetulnya sang creator (Yeon Sang-Ho) sudah cukup cepat dalam mengkonfirmasi bahwa Hellbound memiliki rencana untuk digarap season lanjutannya. Again, tipikal series Netflix, dengan jumlah episode yang tidak banyak dan durasi episode yang cukup singkat, cerita yang cukup kompleks belum tentu bisa disampaikan dengan sempurna hanya dari satu season. Jadi seharusnya penonton tidak usah terlalu khawatir tentang ini.

Selain itu genre terkait sekte, atau hal yang berkaitan dengan afterlife mungkin belum tentu cocok atau dianggap menarik di banyak orang (this is purely my assumption btw). Cukup unik jika melihat kesuksesan 2 film Along with the Gods yang amat sangat booming di Korea Selatan, saya kira Hellbound juga akan mendapatkan euphoria yang serupa.

Namun terlepas dari tiga hal tersebut, menurut saya cukup banyak hal dari series ini yang bisa diapresiasi dan saya cukup sukai.

Dari segi cerita, kalau Anda penggemar The Devil Judge, premis yang sama akan muncul di Hellbound. Impact dari penghakiman ditayangkan secara langsung, masyarakat yang bergejolak dan pada akhirnya main hakim sendiri, tujuan yang cukup backfire karena ended up menciptakan ketakutan dan stigma di masyarakat muncul di series ini. Tentunya dengan storyline yang berbeda.

Selain The Devil Jude, garis besar alur cerita juga cukup mengingatkan saya dengan Train to Busan. Dimana storynya cukup tense dan membuat saya sebagai penonton juga ikut gelisah, namun emotional touch di akhir seakan memberikan sinyal bahwa cerita series/film ini sudah akan berakhir.

Secara keseluruhan menurut saya scene scenenya juga tidak terlalu disturbing/sadis tapi justru ceritanya yang cukup disturbing (mungkin karena berkaitan dengan sekte dan agama). Berbeda dengan The Devil Judge yang lebih mengarah ke persidangan publik dan mengurus kasus kasus nyata yang bisa juga kita temui sehari-hari atau setidaknya di berita.

Dari segi tema, unik juga melihat tema sekte dan agama dibuat semassive ini (entah apa tujuan dari para creatornya) but again itu culture mereka. Saya rasa dengan menonton series ini mereka jauh lebih paham atau lebih bisa menangkap insight atau pesan yang ingin disampaikan dari series ini. Ini juga menunjukan bahwa project yang dikeluarkan Netflix Korea amatlah beragam dari segi genre dan juga cerita.

Dari segi list actors, saya rasa line up ini cukup sempurna. Tidak ada yang stealing the spotlight too much, masing-masing maksimal dalam perannya.

Im a big fan of Yoo Ah In dan Park Jung Min. Saya rasa keduanya termasuk aktor terbaik di generasinya. Entah berapa best actor atau supporting actor awards yang sudah berhasil mereka raih, saya tetap merasa keduanya selalu bisa all out di semua projectnya. Selain itu mereka pun memiliki kesamaan dimana masing-masing projectnya keduanya memerankan peran yang amat sangat berbeda. Saya bukan ahli di bidang akting, saya bahkan kalau diminta menentukan akting mana yang baik dan buruk, saya belum tentu bisa. Tapi defisini akting yang baik dari sudut pandang saya sebagai penonton adalah saya bisa dengan mudah melepaskan sosok aktor tersebut dengan peran yang dimainkan. Kedua aktor ini pun selalu memberikan kesan yang sangat berbeda dengan diri/personal mereka, serta dengan peran-peran lain yang mereka mainkan di project lain.

Sebagai referensi, Yoo Ah In bisa berperan sebagai orang kaya raya dan sadis di Veteran, namun miskin dan putus asa di Burning. Ia juga bahkan bisa memerankan sosok bisu yang hanya mengandalkan ekspresi dalam penyampaian dialognya di Voice of Silence. Lain lagi dengan Park Jung Min. Di Sunset in My Hometown sebagai rapper, anak berkebutuhan khusus di Keys to the Heart, sampai sebagai waria di Deliver us from Evil.

Di dalam Hellbound, keduanya memang sama sekali tidak berbagi scene yang sama. Namun saya rasa presence keduanya sama sama kuat.

It just shows how versatile these actors are.

Now lets talk about the actresses.

Yang mencuri perhatian saya pastinya Won Jin Ah dan Kang Hyun Joo.

Saya nggak banyak menonton drama Won Jin Ah kecuali Life (yang memang perannya tidak terlalu memberikan kesan spesial di saya), namun di Just Between Lovers menunjukan peran-peran seperti ini amat sangat cocok dibawakan oleh aktris ini. Di Hellbound pun ia memerankan sosok Ibu yang baru saja memiliki anak dan sebagai penonton saya merasa Won Jin Ah berhasil menunjukan rasa putus asa (ditambah baby blues) yang dialaminya.

Lain lagi dengan Kang Hyunjoo. Jujur saya tidak menyangka di series ini ada Kang Hyunjoo sampai saya melihat opening credits di awal episode. Kang Hyunjoo di mata saya identik dengan drama keluarga (The Miracle We Met, What Happens to My Family). Namun semenjak mengambil peran di Undercover, saya justru menantikan peran yang seperti ini di drama lainnya. Dan terjawablah oleh penampilan yang amat sangat baik di Hellbound.

Oh and also special shout out to Lee Re. As a child actress, she did really great (as always).

Hal lain yang cukup menarik di series ini adalah adanya beberapa cast yang “hilang”. Hilang ini dalam artian mereka memiliki kisah yang cukup signifikan di beberapa episode namun tidak dimunculkan kembali. Walaupun membingungkan namun hal ini cukup realistis apalagi dengan situasi yang cukup chaos.

Last but not least, lets talk about their promotion. Berbeda dengan Squid Game yang memang gamesnya even sadis tapi production setnya amat sangat bright, sehingga untuk promosinya mereka bisa mendisplay permainan-permainan yang terkesan lucu dan menarik jika dipajang di tempat umum.

Namun untuk Hellbound, ternyata promosi mereka lebih menunjukan sosok creature yang ada di seriesnya. Bentuk promosinya pun juga cukup unik karena pengunjung bisa ikut berpartisipasi langsung melalui fitur semacam Augemented Reality.

Overall, menurut saya masih banyak ruang cerita yang bisa diperjelas atau bahkan dikembangkan lagi lebih menarik, so definitely looking forward for season 2 untuk ini.

Squid Game (2021)

Pada bulan Februari 2021, saya ingat betul ada artikel yang menyebutkan bahwa Netflix akan berinvestasi sebesar $500 juta untuk Korea Selatan. Di artikel tersebut juga disebutkan beberapa judul yang akan muncul di Netflix Korea tahun ini, salah satunya adalah Squid Game.

Dari berbagai judul yang disebutkan, sejujurnya Squid Game tidak menarik perhatian saya. Saya lebih fokus kepada project yang di produseri Jung Woo Sung, series yang akan dibintangi Yoo Ah In dan juga special episode dari Kingdom series yang dirilis tahun ini.

Sampai akhirnya sekitar bulan Agustus, Netflix mengeluarkan teaser pertama dari Squid Game, yang saya baru sadar juga bahwa pemeran utamanya adalah Lee Jung Jae, aktor hebat sekaligus sahabat dari Jung Woo Sung. Saya mengikuti keduanya sejak tahun lalu, dan untuk Lee Jung Jae sendiri saya mulai tertarik semenjak menyaksikan Chief of Staff. Suara Lee Jung Jae yang khas seringkali membuat dirinya mendapatkan peran dengan sosok yang berwibawa atau punya kuasa, seperti di Along with The Gods atau Chief of Staff. Uniknya di Squid Game ini justru Lee Jung Jae menjadi sosok yang cukup desperate akan kehidupan keuangan serta keluarganya. Berperan menjadi orang baik yang apa adanya di Squid Game, seketika menghilangkan image Lee Jung Jae yang powerful dan karismatik.

Kehadiran Lee Jung Jae sebagai main lead membuat saya menantikan series ini. Hari pertama series ini muncul di Netflix, saya langsung menghabiskan 9 episode in 1 go. Squid Game sendiri menceritakan tentang sebuah permainan misterius (dari segi lokasi, penyelenggara, dsb) yang diikuti oleh orang-orang dengan masalah keuangan, dan pada akhirnya akan memenangkan uang dengan jumlah besar jika memenangkan serangkaian permainan ini.

Menurut saya, secara konsep cerita betul kata sebagian besar orang memang Squid Game cukup mirip dengan Alice in Borderland. Pada dasarnya menggunakan aspek permainan untuk bertahan hidup. Tapi kalau yang saya lihat Squid Game cerita dan latar belakang karakternya sangatlah menarik. Kehadiran Wi Ha Joon sebagai impostor yang mencari kebeneran juga seakan melipatgandakan ketegangan yang ada.

Salah satu inti cerita pun mengingatkan saya kepada Sweet Home, salah satu series Netflix Korea yang juga cukup booming di akhir tahun kemarin. Dalam Sweet Home ditekankan bahwa mau semenakutkan apa monster yang kita temui, tidak ada yang bisa mengalahkan seramnya pikiran jahat manusia itu sendiri.

Hal ini terlihat dari Squid Games dimana berkali-kali sisi kemanusiaan para peserta diuji dalam berbagai situasi, namun akhirnya dikalahkan oleh ego mereka terutama keinginan mereka untuk mendapatkan uang yang sebesar-besarnya.

Secara keseluruhan saya menikmati series ini. Memang diakhir kita disuguhkan ending yang tidak terlalu clear namun saya rasa itu tipikal series Netflix yang memang seringkali merencanakan season baru tanpa info apa-apa sebelumnya. Kalaupun memang tidak dilanjutkan menurut saya ending yang digunakan masih bisa diterima dengan baik. Namun tentunya akan menjadi open ending.

Hal lain yang menjadi perhatian saya adalah visual atau cinematography dari series ini. Bentuk production set, warna-warna pastel yang digunakan, pengambilan gambar yang cantik, ditambah dengan cerita yang dark serta musik yang menenangkan sekaligus menegangkan (beberapa kali lagu Frank Sinatra digunakan dan original score dari series ini dibuat oleh Jung Jae Il – Parasite) membuat saya sebagai penonton merasa bahwa emosi dan perasaan saya seakan dicampuradukan. Scene dengan warna cerah, boneka yang lucu, dipadukan dengan pembunuhan massal dan darah berceceran dimana-mana seringkali muncul sepanjang series ini.

Selain cerita, cinematography dan production set, hal yang saya sukai adalah para aktor dan aktris yang berperan di series ini. Entah mengapa saya merasa bahwa aktor yang ada di Squid Game betul betul bisa membuktikan betapa versatilenya mereka sebagai aktor karena memang banyak peran dengan karakter yang sangat berbeda (bahkan melekat) di project-project sebelumnya. Contohnya seperti Park Hae Soo, yang imagenya sebagai pemain baseball bermuka datar amat sangat melekat dari Prison Playbook, kini berhasil memerankan karakter yang juga memiliki plot twist didalamnya. Ada juga Wi Ha Joon yang sebelumnya sering kali mendapatkan pemeran supporting di drama kini mendapatkan peran main lead yang sangat heroik dimana sebelumnya Wi Ha Joon betul-betul mengerikan di Midnight namun sangat lovable di 18 Again & Something in the Rain.

Overall saya rasa Squid Game memenuhi syarat standar Netflix, yakni menjadi series yang cocok untuk binge watching. Menghabiskan semua episode in 1 go bukan hal yang sulit untuk series ini. Walaupun endingnya tidak terlalu menjawab pertanyaan, tapi tipikal Netflix series, saya rasa seharusnya kemungkinan untuk next season (apalagi melihat betapa hypenya series ini) masih bisa direalisasikan.

Bonus: salut dengan mereka yang all out untuk promosi Squid Game! Just look at this beautiful set (source: credit at pic)

Hospital Playlist (2020-2021)

Awal masa pandemi dimulai, sekitar bulan Maret 2020, saya yang sudah beberapa bulan tidak mengikuti drama korea akhirnya kembali menonton drama-drama ini. Saya cukup terbawa arus saat itu dimana banyak orang yang baru mengenal drama korea (saya pun baru mengikuti di tahun 2018 saat Sky Castle booming waktu itu) dan menjadikan kegiatan ini sebagai penghibur dikala pandemi. Saya ingat betul saat itu drama Itaewon Class dan The World of the Married menjadi drama korea andalan yang ditonton oleh banyak orang (baik newbie ataupun fans dari lama).

Salah satu drama yang menurut saya betul-betul menemani saya di masa sulit ini adalah Hospital Playlist. Ini merupakan drama korea hasil kolaborasi dari Shin Wonho dan juga Lee Woojung, yang sebelumnya sudah terkenal dengan karyanya yakni Reply Series (1988, 1994, 1997). Lee Woojung juga merupakan salah satu creator dari Prison Playbook yang membuat saya menyadari bahwa drama-drama besutan mereka memang mostly mengambil tema cerita kehidupan atau slice of life.

Hospital Playlist sendiri bercerita mengenai kehidupan 5 orang sahabat yang berprofesi sebagai dokter dan bekerja di pusat medis terkenal di Seoul. Hal yang cukup menarik dari drama ini adalah disaat banyak medical drama yang berfokus pada aspek medis dan kasus-kasus dari pasien yang ditangani, Hospital Playlist ternyata lebih menekankan kepada aspek humanity dari dunia medis. Banyak cerita yang tidak hanya menghighlight kelima dokter ini, namun menghighlight juga cerita dari dokter residen, dokter magang, perawat, atau bahkan dari pasien-pasien yang ditangani.

Hal yang menarik perhatian saya dari drama ini selain aspek kehidupan para dokter yang diangkat adalah ciri khas Shin Wonho dalam mendirect sebuah series. Menurut saya, salah satu ciri khas dari karya-karya Shin Wonho adalah banyaknya hidden message yang mampu ia eksekusikan dengan sangat mulus sehingga penonton tidak menyadarinya. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya cerita atau scene yang menguras emosi penonton, lalu dipotong atau dilanjutkan dengan cerita dari karakter lain, dan cerita yang menggantung di awal tadi dilanjutkan kembali di akhir episode. Alur ini sering kali membuat penonton (termasuk saya) memiliki tebakan atau prasangka (kalau based on experience saya mostly prasangka buruk), yang pada akhirnya prasangka ini dipatahkan dan dijawab oleh lanjutan cerita yang memberikan pesan atau value yang sederhana namun menyentuh.

Selain itu, ciri khas lain Shin Wonho adalah setiap episode dramanya memiliki durasi yang panjang (bisa sampai 120 menit) dan disebabkan oleh satu hal yang sama, yakni cerita yang mendetail dari hampir semua karakter yang ada. Masing-masing dari main lead dari drama-drama ini sudah bisa dipastikan akan punya kisahnya sendiri. Namun untuk karya-karya Shin Wonho, seringkali “turunan” dari main lead ini juga memiliki cerita yang tidak sederhana. Contoh yang paling saya suka adalah cerita Jaehak yang di season 1 hanya menceritakan dinamika hubungan Jaehak dan Jungwan, namun di season 2 akhirnya kita melihat sisi lain Jaehak dari kisah keluarga kecilnya.

Kedua hal inilah yang menurut saya bisa kita temui dari karya-karya Shin Wonho dan juga Lee Woojung. Ini membuat keduanya unik dan memiliki ciri khas, dimana kalau suatu saat mereka berkolaborasi kembali dalam sebuah project, saya akan berkespektasi bahwa alur yang menarik dan cenderung plot twist di setiap episode, serta cerita yang detail tidak hanya di main cast namun juga supporting cast akan muncul di project mereka.

Overall drama ini menurut saya heartwarming, betul-betul penenang yang pas di kala kesulitan banyak orang saat pandemi. Sayangnya akhir dari season 2 series ini memang tidak menjawab cukup banyak pertanyaan.

Saya ingat betul ada video yang menunjukan Jung Kyung Ho pertama kali ditawarkan peran sebagai dokter di series ini. Jung Kyung Ho yang sebelumnya belum pernah memerankan peran dokter (berbeda dengan Yoo Yeonseok yang spesialis peran dokter) amat sangat senang dengan peran yang ditawarkan. Di video tersebut saya juga ingat betul disebutkan bahwa rencana dari project ini akan berlangsung hingga 3 season sehingga estimasi project ini selesai adalah di tahun 2022.

Namun saat episode 12 dari season 2 ini akan tayang, santer terdengar bahwa justru kemungkinan season 3 ada amatlah kecil. Tim Hospital Playlist memutuskan untuk membebaskan para aktor dan aktrisnya memilih project mereka sendiri kedepannya. Cukup unik karena saya pikir dari awal mereka di kontrak untuk 3 season, melihat situasi ini sepertinya kontrak mereka diperbaharui setiap pengerjaan season barunya akan dimulai.

Meskipun begitu, menurut saya ini ending dari season 2 ini masih bisa diterima karena ending ini juga merupakan salah satu ciri khas dari drama yang mengambil tema slice of life. Pada dasarnya memang life goes on. Banyaknya pertanyaan yang belum terjawab, cerita yang seakan masih bisa berkembang kedepannya, amat sangat mungkin untuk tidak diselesaikan secara clear. Karena di dalam kehidupan itu sendiri, apapun bisa terjadi. Kalau kita mau mencoba mereflect ke drama lain, kita bisa melihat perbandingan dari drama Life dan Sky Castle. Life mengambil tema konflik manajemen rumah sakit, yang di akhir seri juga tidak menjawab beberapa pertanyaan besar. Penonton pun merasa tidak puas dengan series ini, bahkan main leadnya – Cho Seungwoo juga menyadari hal tersebut. Namun disisi lain ada Sky Castle yang tidak merencakan untuk memiliki 20 episode lebih, justru dikritik karena episode tambahan yang ditampilkan terlalu sempurna atau terkesan fairy tale.

Dari contoh-contoh ini dan dari beragam drama korea yang saya tonton, lama kelamaan saya tidak terlalu peduli dengan ending dari drama-drama ini. Karena hal-hal seperti ini pada dasarnya disebabkan oleh banyak sekali faktor, yang kita sebagai penonton memang tidak akan pernah tau.

Namun memang alangkah baiknya jika memang tidak ada kepastian kedepannya, setidaknya penonton diberikan open ending yang tidak terlalu membuat penasaran (sehingga terus menagih season baru). Penonton bisa diberikan open ending yang memiliki kesan “nothing to loose“. Salah satu open ending yang saya suka adalah Designated Survivor: 60 Days. Open ending yang digunakan tidak membuat penonton berspekulasi banyak, namun akan sangat make sense jika ada season 2. Jika tidak adapun juga tidak apa-apa karena sudah banyak pertanyaan yang terjawab di season 1.

Apapun kondisinya, saya pribadi memberikan apresiasi sebesar-sebesarnya untuk seluruh tim production Hospital Playlist. Mulai dari senimatografi dan pengambilan gambar, akting dari para pemain, cerita dan moral value yang didapat, dan yang terpenting adalah pilihan lagu di setiap episode yang cocok dengan kisah yang dibawakan, merupakan kombinasi yang sempurna untuk mengemas sebuah drama medis bertema slice of life.

Thank you for creating such a heartwarming drama in this difficult time.

The Irishman (2019)

Al Pacino. Robert de Niro. 

Pertama kali saya melihat mereka dalam satu project film yang sama adalah di film The Godfather Part II. Sayangnya karena mereka memerankan peran Ayah-Anak dalam masa yang berbeda, kita tidak bisa melihat keduanya dalam satu frame yang sama. Namun cerita The Godfather yang membekas di hati banyak orang, serta akting luar biasa dari kedua legend ini membuat saya mencari tahu lebih banyak tentang mereka. Ketika membaca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa Al Pacino dan Robert de Niro akan bergabung dalam sebuah film berjudul The Irishman, saya otomatis langsung mencari trailer film ini di Youtube. Setelah menonton trailernya, saya berpikir kalau film ini sepertinya akan memiliki jalan cerita yang menarik.

Lucunya saya nggah ngeh kalau sutradara film ini adalah legend lain di industri film Hollywood. Martin Scorsese.

Diangkat dari kisah nyata, film The Irishman merupakan film yang diadaptasi dari buku I Heard You Paint Houses oleh Charles Brandt. Film ini menceritakan tentang Frank Sheeran (Robert de Niro), seorang supir truk yang bertemu dengan Russell Bufalino (Joe Pesci) dan akhirnya terlibat dalam urusan bisnis/mafianya. Sampai akhirnya juga berurusan dan bahkan menjadi sahabat/orang kepercayaan Jimmy Hoffa (Al Pacino). Jimmy Hoffa merupakan orang yang amat sangat berpengaruh di serikat pekerja pada saat itu.

Kalimat “I Heard You Paint Houses” yang awalnya saya anggap sepele, berhasil diceritakan dengan apik di film berdurasi 3 jam 29 menit ini. Frank Sheeran bercerita mengenai banyak hal yang terjadi di hidupnya dari tahun 1960an, mulai dari ketidaksengajaannya bekerja untuk Russell sampai keterlibatannya dalam hilangnya Jimmy Hoffa, yang masih menjadi misteri hingga hari ini.

Sebagai penonton, dengan project diisi oleh banyak pekerja seni yang handal, semua aspek dari akting, directing, apapun itu memang tidak diragukan lagi. Tapi satu hal yang ingin saya point out adalah akting tiga pemeran utama (Robert de Niro, Al Pacino, & Joe Pesci) yang berhasil memerankan berbagai macam usia dengan sangat mulus. Saya baru sadar ada beberapa scene dimana mereka harus berakting sebagai orang dengan usia yang jauh lebih muda dibanding aslinya. Contohnya, Al Pacino yang saat ini berusia 81 tahun, memiliki scene bersama keluarganya dan harus berakting selayaknya usia 50 tahun. Di dalam The Irishman: In Conversation, diceritakan bahwa hanya untuk berdiri, berbicara, sampai cara menuruni tangga, perlu dilakukan banyak latihan dan take demi menyesuaikan dengan usia yang diperankan.

Para crew film yang berusia seperti yang diperankan oleh para aktor saat itu pun tidak sungkan memberikan saran serta contoh akan bagaimana cara berjalan dan berdiri dari seorang laki-laki berusia 50 tahun.

Selain akting yang mendukung, saya juga tidak menyadari bahwa mereka menggunakan CGI yang membantu membuat wajah pemeran utama terlihat jauh lebih muda. Awalnya saya kira itu hanyalah make up, namun dari behind the scene diperlihatkan bahwa dalam take aslinya, banyak efek CGI yang diimplementasikan dalam pengerjaan film ini. Teknologi ini pun tidak hanya membuat kita sebagai penonton kagum, bahkan aktor dan sutradara senior yang ada di film ini juga tidak menyangka wajahnya akan berubah sebegitu mulusnya dengan bantuan teknologi.

Overall saya (dan Ayah saya) sangat menikmati alur cerita dari film ini. Banyak hal yang membuat film ini semakin menarik seperti gambar dan cinematography yang luar biasa cantiknya, konflik yang sangat beragam didalamnya, hingga nilai-nilai tentang keluarga, persahabatan, bahkan professionalitas yang juga berhasil dikemas dengan baik di film ini.

Saya bukan expert yang bisa memberikan rating penilaian untuk film, but all i can say is saking cantiknya film ini, saya bahkan lupa kalau mereka semua adalah seorang mafia.

But again, kembali ke kalimat pembuka saya dari tulisan ini.

Al Pacino. Robert de Niro.

Ditambah lagi Martin Scorsese. Joe Pesci.

Yakin project mereka bisa gagal?