Ted Lasso (2020-2023)

Kali ini saya akan membahas salah satu series dari Apple TV+ yang berjudul Ted Lasso. Saya ingat betul sekitar tahun 2014, terdapat sebuah parodi dari NBC Sports yang diperankan oleh Jason Sudeikis, dimana ia berperan sebagai american football coach bernama Ted Lasso yang mendapatkan tugas untuk melatih salah satu klub di Liga Inggris, Tottenham Hotspurs. Parodi tersebut cukup viral pada masanya, hingga di tahun 2020, Jason Sudeikis, Bill Lawrence, Brendan Hunt, dan Joe Kelly mengembangkan series Ted Lasso di Apple TV+ dengan karakter yang sama dan latar belakang cerita yang sedikit berbeda.

Dalam series ini, Ted Lasso merupakan seorang coach di Amerika, yang mendapatkan tugas di Inggris untuk melatih sebuah klub sepakbola fiksional bernama AFC Richmond. Ini merupakan klub papan tengah (bahkan seringkali berada di urutan terbawah) yang seringkali kesulitan mempertahankan posisinya di Premier League. Saat Ted Lasso datang, AFC Richmond sedang berada di ambang relegasi. Ted sendiri diundang oleh sang pemilik club, Rebecca, yang ternyata memiliki tujuan balas dendam. Rebecca baru saja bercerai dengan suaminya, Rupert, yang merupakan mantan pemiliki AFC Richmond. Tanpa sepengetahuan Ted, Rebecca berencana untuk menghancurkan klub tersebut dengan mendatangkan pelatih yang tidak memiliki pengetahuan apapun tentang sepakbola di Inggris. Namun karakter Ted yang tulus dan apa adanya, dan gaya melatih serta kepemimpinannya yang unik, ternyata malah membuat klub tersebut mampu meraih banyak hal yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Series ini dikemas ke dalam 3 season, yang isinya menceritakan perjalanan AFC Richmond bertahan di Premier League, Championship, hingga ada masa dimana mereka berjaya kembali di EPL. Jika Anda mengharapkan series ini membahas lebih dalam tentang sepakbola, seperti teknik yang digunakan, strategi dan taktik dalam bermain bola dan semacamnya, sayangnya memang tidak terlalu banyak dari aspek tersebut yang dibahas secara detail. Melainkan series ini lebih banyak membahas tentang kehidupan, pertemanan, keluarga, dan teamwork yang dikemas secara apik lewat cerita olahraga.

Ted Lasso berisikan Slice of Life stories, yang tidak hanya mengcover kehidupan sang karakter utama, namun berhasil menyajikan cerita menarik untuk banyak karakter pendukung lainnya. Mulai dari Rebecca dengan kisah women empowerementnya, Roy Kent sang mantan atlet yang kesulitan melepaskan masa jayanya, Jamie Tartt dengan pengembangan karakternya, Nate dengan jatuh bangunnya mencari jati dirinya, dan masih banyak lagi karakter lain yang diceritakan dengan menarik di series ini. Series ini juga membawa topik-topik yang sedang hangat dibicarakan oleh show business seperti inklusivitas, hingga kesehatan mental.

Alur ceritanya juga go with the flow, tidak memaksakan setiap episode memiliki scene atau cerita yang terlalu dramatis. Bahkan ada beberapa episode yang menurut saya agak “out of nowhere” karena sama sekali tidak berhubungan dengan klub sepakbola, atau karakter utamanya. Kita seakan-akan melihat kisah asli dari klub fiktif ini, menjalani jatuh bangunnya dalam membangun hubungan dan kepercayaan dengan fans, mengatur manajemen klub untuk terus bertahan, dan yang terpenting adalah mencoba memperkuat tim untuk dapat memenangkan seluruh pertandingan hingga liga yang diikuti.

Selain itu, hal yang amat sangat saya senangi dan patut diacungi jempol untuk series ini adalah ceritanya yang tidak pernah klise. Hal ini saya rasa konsisten dari awal episode di season 1, hingga akhir episode di season 3. Series atau film bertemakan olahraga seringkali menggunakan alur yang cukup serupa, dimana tim akan mengalami kesulitan di awal, mencoba untuk melakukan perubahan, berjuang tanpa menyerah, hingga akhirnya memenangkan pertandingan atau turnamen yang diikuti. Untuk Ted Lasso, saya rasa justru lebih banyak pertandingan yang menunjukan kekalahan mereka, atau menang namun kalah gol di menit-menit terakhir, pertandingan berakhir seri, hingga ada saat dimana mereka betul-betul terelegasi. Ini sangat menarik bagi saya karena justru penonton tidak bisa menebak alur cerita yang akan disajikan. Hal yang ditonjolkan justru dinamika kelompok yang terjadi saat mereka menghadapi situasi yang justru tidak ideal.

Melihat series ini jarang menceritakan kisah yang dramatis membuat saya juga tidak bisa menebak bagaimana ending dari series ini. Bahkan untuk mencurigai series ini memiliki happy ending pun saya tidak yakin. Namun ternyata series ini memiliki alur closure yang luar biasa indahnya. Setiap karakter yang memiliki struggle dari awal cerita, akhirnya mendapatkan happy ending yang pantas didapatkan tanpa terkesan dipaksakan (untuk semua berakhir bahagia). Masih banyak kisah yang tidak sempurna, pertanyaan yang tidak terjawab, namun pada akhirnya, that’s life. Begitu banyak hal yang terjadi, bisa sesuai dengan kemauan kita, dan bisa juga tidak. Tinggal bagaimana kita menerima, menjalani, dan terus mencoba. That’s exactly the message yang saya betul-betul dapatkan dari series ini.

Let’s talk about acting, for one particular person, Jason Sudeikis. Sejujurnya saya cukup jarang mengikuti karya-karya Jason Sudeikis. Fakta bahwa ia tidak hanya memerankan Ted Lasso namun juga menjadi produser di series ini membuat saya kagum. Jason berhasil mengangat tokoh fiksional yang dulunya adalah parodi dan memerankan tokoh tersebut di dunia fiksional yang betul-betul terasa nyata. Berbicara tentang akting, di awal season saya mengira bahwa Ted Lasso memang sosok yang sempurna layaknya malaikat. Penuh optimisme, tidak ada aura negatif walaupun banyak pihak yang tidak bisa menerima kehadiran dirinya, dan selalu membantu orang lain dan merasa bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Seiring berjalannya series, penonton ditunjukan bahwa sosok Ted Lasso yang sebenarnya hanyalah manusia biasa. Dirinya memiliki masalah yang begitu besar di kehidupan pribadinya, sehingga seringkali memaksakan untuk terus terlihat bahagia, tidak meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalahnya, memendam semuanya sendiri sehingga seringkali terserang panic attack. Karakter dan kisah ini membutuhkan seseorang dengan range acting yang luar biasa. Saya betul-betul amazed melihat Ted Lasso yang bisa ceria dan terlihat tidak ada masalah di satu scene, menjadi panik, bahkan menangis dan terlihat tak berdaya dan penuh masalah di scene lainnya. Saya tidak bisa membayangkan tokoh ini diperankan oleh aktor selain Jason Sudeikis. He really did a great job in this series, no wonder cukup banyak penghargaan yang diberikan kepada Jason mulai dari Emmy Awards hingga Golden Globe Awards.

Hal pelengkap lainnya yang saya senangi adalah color grading dari series ini. AFC Richmond memiliki warna merah, biru, dan sedikit kuning untuk warna khas klub. Somehow setting di negara Inggris dengan color grading yang diatur sedemikian rupa dan cinematography yang baik mampu membuat gambar dari setiap scene Ted Lasso menjadi sangat sederhana, real, namun cantik. Selain itu, saya juga mengapreasiasi tim series ini dalam membuat klub fictional ini seakan-akan terlihat nyata. Mulai dari stadion away game yang diperlihatkan di beberapa permainan (ada Emirates Stadium, Etihad Stadium, Wembley Stadium hingga Johan Cruyff Arena), tim lawan yang walaupun tidak menggunakan pemain asli namun berhasil menunjukan detail jersey serta sponsor yang digunakan di musim tersebut, hingga penonton di stadion yang terlihat real walaupun sebetulnya adalah CGI. Berkat hal-hal ini series ini terasa begitu nyata, didukung juga oleh marketing yang baik dengan memasukan klub dan pemain AFC Richmond di FIFA 23, menjual jersey dan kit Ted Lasso lengkap yang disponsori oleh Nike, dan detail-detail kecil lain yang membuat penggemar Ted Lasso merasa “attached” dengan series ini.

Soundtrack yang digunakan juga menurut saya cukup pas. Ada beberapa momen yang sangat sesuai dengan lagu yang dimainkan. Saya ingat betul ada satu episode dimana AFC Richmond mengalami kekalahan tidak terduga di menit-menit terakhir. Pada saat itu lagu yang dimainkan adalah You’ll Never Walk Alone, lagu yang identik dengan klub Liverpool. Saking iconicnya, saya masih ingat betul scene tersebut dan momen saat lagu tersebut diputar. Tidak ada dialog, pure lirik dari lagu yang seakan-akan membantu jalannya kisah tersebut diceritakan. Original scorenya juga betul-betul menggambarkan series slice of life, terasa ringan dan sederahana, namun hangat untuk di dengar. Marcus Mumfod dan Tom Howe berperan banyak di musik series ini, yang membuat saya justru penasaran dengan karya-karya mereka yang lain.

Secara keseluruhan, saya mengakui bahwa series ini merupakan salah satu series terbaik yang pernah saya tonton. Hampir seluruh aspek dari series ini terlihat sempurna di mata saya. Saya pun tidak ragu untuk merekomendasikan series ini untuk mereka yang bahkan tidak terlalu menyukai sepakbola. Saya amat sangat jarang memberikan rating untuk series atau film yang saya tonton, unless memang sangat melekat di hati dan pikiran saya. Ted Lasso berhasil membuat saya melakukan hal tersebut, sehingga saya berani memberikan rating 9/10 untuk series ini.

Published by

Unknown's avatar

Dini Nur Larasati

An amateur writer.

Leave a comment