The Woman in the House Across the Street from the Girl in the Window (2022)

[Might Contain Spoilers]

Saat saya menulis sebuah review tentang series atau film di blog ini, saya cenderung menghindari konten spoiler. Simply karena mungkin ada beberapa orang yang bisa saja belum menonton series atau film tersebut. Sehingga saya lebih banyak menekankan kepada pendapat saya tentang keseluruhan film seperti alur cerita secara garis besar, aktor dan aktris yang berperan di dalamnya, original score, cinematography, director, screenplay, dan berbagai hal lainnya yang menurut saya menarik.

Namun, khusus untuk series Netflix ini, saya menulisnya langsung setelah saya menyelesaikan seluruh episodenya. Setelah menonton series ini, menurut saya ada poin utama yang saya ingin share dan hal ini cenderung mengandung spoiler atau plot twist yang terjadi dalam series ini.

Series Netfix ini berjudul “The Woman in the House Across the Street from the Girl in the Window”. Ya, dari segi judul sudah cukup menarik perhatian saya karena amat sangat panjang dan cenderung sulit untuk disebutkan. Series ini tayang hari Jum’at, 28 Januari 2022. Jumlah episodenya hanya ada 8, dengan durasi setiap episode cukup singkat yakni 25 menit (belum termasuk end credits).

Series ini bercerita tentang Anna, yang hidup dengan issue di kesehatan mentalnya. Anna kehilangan putri semata wayangnya tiga tahun lalu dan juga bercerai dengan suaminya. Kondisi mental Anna membuat hidupnya berjalan dengan tidak stabil. Anna seringkali tidak bisa membedakan mana realita dan imajinasinya karena seringnya Anna berhalusinasi.

Cerita memuncak saat rumah kosong di depan rumah Anna kedatangan penghuni baru. Beberapa masalah pun mulai muncul dengan premis dimana Anna seringkali duduk di bangku dekat jendela, meminum obat yang diresepkan sambil meminum berbotol-botol red wine sembari memperhatikan kegiatan tetangga barunya tersebut. Dimana memang pada akhirnya cukup banyak kejadian-kejadian janggal yang terjadi – termasuk pembunuhan.

Series dengan tone gambar yang cukup dark, cerita psychological thriller, dan terdiri dari banyak plot twist ini mengingatkan saya akan series You dan Clickbait. Perbedaannya memang untuk series You, fokus cerita sudah ada di male lead yang memang seorang psikopat. Lalu untuk Clickbait, setiap episodenya memang membahas sudut pandang dari masing-masing tokoh yang ada, sehingga tidak terlalu fokus di main lead.

Namun untuk series The Woman in the House Across the Street from the Girl in the Window, dengan kondisi female lead Anna yang dari awal dijelaskan memiliki issue di kesehatan mental dan seringnya Anna berhalusinasi, menurut saya justru ini membuat penonton tidak henti-hentinya menebak cerita yang sedang berjalan. Saya sebagai penonton seringkali menebak setiap scene dan cerita yang muncul, dengan bertanya apakah ini realita atau hanya halusinasi Anna saja. Sejujurnya pembawaan cerita seperti ini menurut saya cukup menarik sehingga secara alur tidak membosankan.

Selain itu dengan durasi kurang lebih 25 menit di setiap episodenya, dengan fokus cerita tidak terlalu bercabang menurut saya membuat series ini cukup menarik untuk di binge watch. Hal yang membuat series ini terlihat rumit hanyalah ketidakjelasan akan mana realita dan halusinasi Anna, serta beberapa plot twist yang muncul di setiap episode. Tapi hal ini tidak membuat penonton (setidaknya saya) bingung atau merasa lost di tengah jalannya cerita.

[Spoiler Part]

Saat saya pertama kali melihat judulnya, saya sudah berfikir pasti ada alasan kenapa judul dibuat sepanjang dan sekompleks ini. Saya pun berfikir kemungkinan hal ini dilakukan untuk strategi marketing belaka. Dimana dengan judul panjang ini, entah orang akan tertarik untuk menonton atau tidak, setidaknya mereka aware bahwa ada series di Netflix yang baru saja tayang dengan judul yang cukup panjang.

Namun setelah menonton series ini, saya baru menyadari bahwa inti cerita sebetulnya sudah disebutkan di judul yang panjang ini. Judul ini merefer kepada dua subjek utama yakni “The Woman” yang mengacu kepada sosok wanita dewasa, serta “The Girl” yang mengacu kepada sosok perempuan yang lebih muda, atau bahkan bisa dianggap anak kecil. Di series ini, sosok “The Woman” yang menjadi pemeran utama hanyalah Anna, dan “The Girl” hanyalah Emma, sang anak perempuan dari tetangga baru Anna, Neil. Sosok perempuan muda yang lain adalah Elizabeth. Namun meninggalnya Elizabeth tiga tahun lalu sudah cukup menjelaskan bahwa di kasus-kasus yang terjadi di series ini, Elizabeth tidak mungkin berperan banyak (selain ke kondisi mental Anna sendiri).

Kompleksnya cerita, alur dan karakter untuk menemukan siapa pembunuh utamanya memang baru diungkapkan di episode 8. Dimana sesuai dengan yang saya sebutkan sebelumnya, Emma (yang masih berusia sekitar 9 atau 10 tahun) adalah sosok dibalik penyerangan dan pembunuhan yang ada di series ini. Fakta ini sebetulnya membuat saya cukup kaget bukan dari segi plot twistnya. Namun dari segi pengambilan keputusan sang creator bahwa pelaku utama dari kasus pembunuhan yang terjadi (hampir 3 kali) adalah sosok seorang anak kecil.

Apakah seseorang anak kecil bisa melakukan semua hal ini? Menurut saya iya. Banyak alasan dibalik kenapa hal keji ini dilakukan oleh seorang anak kecil, seperti yang kita bisa lihat di berita. Namun yang agak disayangkan di series ini adalah background story mengapa Emma membunuh ibunya, ayahnya, serta guru SDnya amat sangat lemah. Cara Emma membunuh ketiga orang ini, dan juga menyingkirkan mayat salah satu korban juga tidak dijelaskan dengan clear. Secara fisik Emma sangatlah kecil, kalaupun memang Emma mampu menyingkirkan tubuh korban, namun cara Emma membuat TKP terlihat clear, rasanya terlalu jenius untuk seukuran anak kecil (unless jika Emma sudah belajar banyak terkait hal ini).

Selain itu, saya cukup wondering apakah nantinya setelah series ini booming atau sudah semakin banyak yang menonton, pilihan anak kecil menjadi psikopat menjadi perdebatan atau tidak. Saya sendiri belum menemukan banyak cerita di series atau film dengan psikopat yang diperankan anak kecil. Seringkali saya berfikir, tontonan seperti ini, atau bahkan untuk aktor cilik yang memerankan peran psikopat, sebetulnya cukup berisiko. Tidak hanya untuk penonton tapi juga sang aktor, simply karena usia mereka masih sangat muda dan belum tentu paham akan hal ini di kehidupan nyata. Bahkan worst casenya, jangan sampai ketidakpahaman tersebut justru membuat mereka berfikir bahwa hal tersebut mungkin dan bisa dilakukan oleh anak seusia mereka.

Sejauh ini, review atau pendapat penonton yang saya temukan di social media (terutama Twitter), memang tidak banyak membahas tentang poin ini. Cukup menarik karena memang lebih banyak yang membahas kejanggalan judul yang terlalu panjang (sampai banyak yang mengira ini series parodi dari The Girl on the Train dan The Woman in the Window), cerita plot twist yang membingungkan (sebagian juga berfikir tidak masuk akal), dan banyaknya orang menilai series ini aneh.

Overall cerita dari series ini sebetulnya cukup menarik untuk diikuti, namun memang memiliki closure yang tidak memuaskan. Karena selain background story pelaku yang tidak jelas, hal ini ditambah juga dengan ending yang open (saya belum bisa menilai apakah scene tersebut perlu atau tidak), memang menambah kontribusi “kelemahan” series ini. Hal ini amat sangat disayangkan karena jika punya kesimpulan cerita yang kuat, series ini tidak akan menjadi “selemah” atau yang netizen Twitter bilang, “seabsurd” ini. Walaupun begitu, setidaknya saya cukup senang bisa melihat Kristen Bell yang imagenya sudah terlalu melekat dengan Anna Frozen, akhirnya muncul di series psychological thriller ini. She did a great job by the way, dan betul-betul outshining the other cast – even the other main lead.

Apakah saya akan merekomendasikan series ini? Saran saya jika ingin psychological thriller yang lebih menarik, bisa menonton You dan juga Clickbait. Tapi jika Anda bisa menerima sedikit keabsurdan dari sebuah cerita thriller, you can try this series too.

Happy watching.

Published by

Unknown's avatar

Dini Nur Larasati

An amateur writer.

Leave a comment