Tahun ini memang tahunnya Netflix Korea. Investasi dengan jumlah besar nampaknya memang menghasilkan banyak project-project drama dengan genre yang cukup beragam. Masing-masing drama ini saya akui tidak semua jalan ceritanya “sukses” di mata viewers. Tapi satu hal yang pasti dengan biaya produksi yang tidak sedikit dan keberanian Netflix menampilkan drama yang “berbeda”, mampu membuat series-series ini trending terutama saat minggu-minggu awal rilis. Serta membuat nama dunia perfilman serta series Korea Selatan terus diakui kualitasnya.
Salah satu drama Netflix Korea yang akan saya bahas disini adalah The Silent Sea. Ini merupakan salah satu project Netflix yang cukup saya tunggu-tunggu karena Jung Woosung tidak berperan sebagai main lead, namun sebagai executive producer. Cukup penasaran akan konsep yang akan ia bawa di drama ini serta bagaimana caranya melakukan eksekusi (tentunya dengan seluruh tim produksi yang ada).

The Silent Sea sendiri menceritakan tentang sebuah misi perjalanan keluar angkasa untuk menyelamatkan bumi, dimana terdapat sebuah kelompok yang ditugaskan untuk pergi ke bulan guna mencari sumber daya (terutama air) yang bisa digunakan di bumi. Saat itu digambarkan kondisi bumi amat sangat kekurangan air sehingga masing-masing individu hanya bisa mendapatkan jatah air sesuai dengan status mereka (semakin tinggi status orang tersebut semakin banyak air yang bisa didapatkan).
Drama ini rilis pada tanggal 24 December 2021, di hari itu juga saya mencoba untuk menyelesaikan semua episodenya. Sembari menonton saya juga cukup sering mencari review-review non spoiler atau setidaknya pendapat viewers tentang drama ini. Uniknya, ketika di post sebelumnya saya mengatakan bahwa banyak orang yang tidak puas dengan Hellbound karena dibandingkan dengan Squid Game, justru The Silent Sea dianggap lebih tidak memuaskan lagi jika dibandingkan dengan Hellbound. Series Hellbound yang di cap membingungkan seketika diangkat namanya dan di cap dengan drama yang memiliki plot cukup menarik (mungkin ini juga impact dari Sutradara yang mengkonfirmasi kehadiran Season 2).
Kalau saya simpulkan dari review dan opini penonton tentang The Silent Sea, sebagian besar menyebutkan bahwa The Silent Sea memiliki plot yang lambat (dengan jumlah episode yang sedikit pula), premis cerita yang tidak terlalu menarik, dan ketidakjelasan dari endingnya. Berbeda dengan Hellbound dimana Season 2 cukup cepat dikonfirmasi, untuk The Silent Sea sampai setidaknya hari ini belum ada konfirmasi tentang hal tersebut.
Jika kita berbicara tentang alurnya, menurut saya dari episode awal sudah cukup ditemukan sedikit plot twist dan juga konflik. Alurnya memang cukup lambat dan ceritanya dari masing-masing episode tidak membuat penonton penasaran. Background cerita tentang kondisi dibumi yang mengalami masalah iklim dan sumber daya alam juga sebetulnya bukan merupakan hal yang baru.
Untuk endingnya, dari sekian banyak series Netflix yang memiliki ending yang menggantung dikarenakan adanya rencana untuk season selanjutnya, menurut saya The Silent Sea simply memiliki ending yang betul-betul open. Penonton dibebaskan untuk berimajinasi akan hal ini. Menurut saya pun ini tidak terlalu mengganggu karena keseluruhan series, konflik, dan jawaban yang diinginkan dari series ini cukup terjawab. Hanya ada 1 scene diakhir yang mengganjal karena banyak pasti yang bertanya-tanya. Namun kehadiran scene ini menurut saya tidak terlalu mengganggu keseluruhan cerita. Hanya pemanis di bagian akhir yang membiarkan penonton berimajinasi sesuka hati.
Saya kurang tahu apakah hal ini cukup valid atau tidak namun satu hal yang saya sadari juga mungkin ada sebagian penonton yang membandingkan The Silent Sea dengan Space Sweepers. Keduanya menunjukan kondisi kehidupan manusia yang kesulitan di masa depan, dan keduanya juga menceritakan tentang sekelompok orang yang berusaha menyelamatkan manusia di bumi agar tetap hidup. Untuk Space Sweepers, dengan film berdurasi sekitar 2 jam menurut saya wajar jika sebagian besar menganggap Space Sweepers lebih seru (walaupun menurut saya Space Sweepers adalah tipikal film box office pada umumnya). Namun untuk ukuran drama, dengan tujuan yang sama dengan konflik yang tidak terlalu banyak (walaupun tetap lumayan kompleks) menurut saya memang 2 project ini adalah 2 project yang berbeda. Lain lagi kalau The Silent Sea hanya dirangkum menjadi 2 jam film pastinya alur akan dirasa tidak terlalu lambat.
Selain itu, perbandingan lain yang saya temukan juga dari para viewers adalah perbandingannya dengan Interstellar. Menurut saya, kurang fair kalau project-project dengan tema luar angkasa kita bandingan dengan Interstellar. Saya cukup sering mengulik tentang Interstellar saat film ini tayang dulu, serta ambisi Nolan dalam mewujudkannya (dengan tidak menggunakan green screen). Namun untuk film-film luar angkasa lain yang menggunakan CGI, green screen dan lain-lain menurut saya tidak bisa kita anggap sebagai project dengan kualitas yang rendah. Karena karya-karya Christopher Nolan akan selalu menjadi karya yang “beda”. Apalagi dengan melihat Space Sweepers dan The Silent Sea, sebetulnya membuktikan bahwa Korea Selatan bahkan mampu menyandingi hollywood dalam membuat CGI yang realistis, dipadu juga dengan cinematography yang cantik.


Saya juga mencoba menonton beberapa Behind The Scene yang ditayangkan oleh Netflix. Tipikal produksi Netflix menurut saya dari segi production set, kostum yang digunakan, juga tidak pernah mengecewakan. Mungkin dari segi original score atau musik yang digunakan kurang “ngena” di saya tapi sejauh ini tidak mengurangi keestetikan dari drama ini.
Dari segi aktor, line upnya cukup menarik. Cukup surprised melihat still cuts pertama yang mereka keluarkan beberapa bulan yang lalu. Dalam satu frame, dengan menggunakan baju selayaknya astronot (saat itu peran-peran mereka belum dijelaskan) kita bisa menemukan Gong Yoo, Bae Doona, Kim Sunyoung, Lee Moosaeng, Lee Joon, dan banyak aktor-aktor lain yang saya juga tidak terlalu asing wajahnya. Selain Gong Yoo dan Bae Doona saya kurang tau siapa yang menjadi main lead di drama ini, but having them both as the main one sesungguhnya sudah lebih dari cukup.

Bae Doona adalah aktris korea pertama yang saya sukai lewat series Stranger. Uniknya yang membuat saya suka dengan Bae Doona bukan dengan aktingnya saja melainkan sisi lain (atau justru sisi asli) Bae Doona yang terlihat di kamera dan diluar sesi shooting. She’s so bubly dan easily spread happiness to people around her. Untuk karya-karyanya sendiri saya rasa no doubt untuk Bae Doona. Kritik dilayangkan untuk Bae Doona saya rasa hanya ada di Kingdom itupun dari segi pelafalan sebuah aksen/logat. Selebihnya, Bae Doona termasuk aktris korea yang sukses tidak hanya di Korea namun juga di Hollywood.
Di series ini, karakter Bae Doona jauh lebih difokuskan bahkan dibandingkan dengan karakter yang lain. Karakternya hanya satu-satunya karakter yang diceritakan tentang background storynya dan juga post event storynya. Background story inilah yang membuat karakter Bae Doona tidak terlihat terlalu ekspresif karena memang ceritanya cukup tragis. Sama seperti karyanya yang lain, i think she also nailed this one.
Selanjutnya ada Gong Yoo, aktor yang satu ini bisa dipastikan punya jumlah fans yang amat sangat banyak. Hal ini menurut saya dikarenakan Gong Yoo adalah tipikal aktor dengan project yang sebetulnya tidak terlalu banyak, namun project-projectnya seringkali booming. Seperti Coffee Prince, Train to Busan, dan juga Goblin. Project Gong Yoo yang lain pun tidak kalah menarik seperti Kim Jiyoung: Born 1982, Silenced, etc.
Terkadang saya berharap Gong Yoo bisa mendapatkan peran-peran yang anti heroic untuk melihat sisi lain Gong Yoo sebagai aktor. Sama dengan Bae Doona, no doubt untuk kemampuan aktingnya tapi would be nice jika bisa melihat sisi lain atau peran (atau mungkin saya juga yang kurang banyak menonton film-film Gong Yoo).
Selain satu scene di ending yang cukup “nanggung”, kejanggalan minor lain yang saya temukan adalah 1) apa yang terjadi di bumi sehingga krisis ini terjadi 2) politik dibalik konflik yang terjadi tidak dijelaskan secara clear. Mungkin pada dasarnya drama ini memfokuskan kepada kelompok yang menjalani misi dan bagaimana mereka menyelesaikan misis tersebut – karena tujuannya baik untuk umat manusia. Namun a little bit background story untuk dua poin yang saya sebutkan tadi sepertinya would be nice jika dimasukan ke dalam cerita ini.
Overall drama ini membuat saya menyimpulkan bahwa apapun project yang Netflix produksi, kita tidak perlu berekspektasi tinggi untuk ceritanya (terutama untuk season 1), karena sejauh ini saya rasa dari segi cerita belum ada yang bisa mengalahkan Kingdom. Tapi yang bisa kita tunggu dari series series ini adalah keseluruhan produksi series tersebut as one project. Budget yang besar tidak disia-siakan begitu saja. Mulai dari aktor, production set, costume, make up, musik/original score, screenplay sampai promosi, Netflix selalu all out dan tidak jarang berani tampil “beda”.