
Awal masa pandemi dimulai, sekitar bulan Maret 2020, saya yang sudah beberapa bulan tidak mengikuti drama korea akhirnya kembali menonton drama-drama ini. Saya cukup terbawa arus saat itu dimana banyak orang yang baru mengenal drama korea (saya pun baru mengikuti di tahun 2018 saat Sky Castle booming waktu itu) dan menjadikan kegiatan ini sebagai penghibur dikala pandemi. Saya ingat betul saat itu drama Itaewon Class dan The World of the Married menjadi drama korea andalan yang ditonton oleh banyak orang (baik newbie ataupun fans dari lama).
Salah satu drama yang menurut saya betul-betul menemani saya di masa sulit ini adalah Hospital Playlist. Ini merupakan drama korea hasil kolaborasi dari Shin Wonho dan juga Lee Woojung, yang sebelumnya sudah terkenal dengan karyanya yakni Reply Series (1988, 1994, 1997). Lee Woojung juga merupakan salah satu creator dari Prison Playbook yang membuat saya menyadari bahwa drama-drama besutan mereka memang mostly mengambil tema cerita kehidupan atau slice of life.
Hospital Playlist sendiri bercerita mengenai kehidupan 5 orang sahabat yang berprofesi sebagai dokter dan bekerja di pusat medis terkenal di Seoul. Hal yang cukup menarik dari drama ini adalah disaat banyak medical drama yang berfokus pada aspek medis dan kasus-kasus dari pasien yang ditangani, Hospital Playlist ternyata lebih menekankan kepada aspek humanity dari dunia medis. Banyak cerita yang tidak hanya menghighlight kelima dokter ini, namun menghighlight juga cerita dari dokter residen, dokter magang, perawat, atau bahkan dari pasien-pasien yang ditangani.
Hal yang menarik perhatian saya dari drama ini selain aspek kehidupan para dokter yang diangkat adalah ciri khas Shin Wonho dalam mendirect sebuah series. Menurut saya, salah satu ciri khas dari karya-karya Shin Wonho adalah banyaknya hidden message yang mampu ia eksekusikan dengan sangat mulus sehingga penonton tidak menyadarinya. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya cerita atau scene yang menguras emosi penonton, lalu dipotong atau dilanjutkan dengan cerita dari karakter lain, dan cerita yang menggantung di awal tadi dilanjutkan kembali di akhir episode. Alur ini sering kali membuat penonton (termasuk saya) memiliki tebakan atau prasangka (kalau based on experience saya mostly prasangka buruk), yang pada akhirnya prasangka ini dipatahkan dan dijawab oleh lanjutan cerita yang memberikan pesan atau value yang sederhana namun menyentuh.
Selain itu, ciri khas lain Shin Wonho adalah setiap episode dramanya memiliki durasi yang panjang (bisa sampai 120 menit) dan disebabkan oleh satu hal yang sama, yakni cerita yang mendetail dari hampir semua karakter yang ada. Masing-masing dari main lead dari drama-drama ini sudah bisa dipastikan akan punya kisahnya sendiri. Namun untuk karya-karya Shin Wonho, seringkali “turunan” dari main lead ini juga memiliki cerita yang tidak sederhana. Contoh yang paling saya suka adalah cerita Jaehak yang di season 1 hanya menceritakan dinamika hubungan Jaehak dan Jungwan, namun di season 2 akhirnya kita melihat sisi lain Jaehak dari kisah keluarga kecilnya.


Kedua hal inilah yang menurut saya bisa kita temui dari karya-karya Shin Wonho dan juga Lee Woojung. Ini membuat keduanya unik dan memiliki ciri khas, dimana kalau suatu saat mereka berkolaborasi kembali dalam sebuah project, saya akan berkespektasi bahwa alur yang menarik dan cenderung plot twist di setiap episode, serta cerita yang detail tidak hanya di main cast namun juga supporting cast akan muncul di project mereka.
Overall drama ini menurut saya heartwarming, betul-betul penenang yang pas di kala kesulitan banyak orang saat pandemi. Sayangnya akhir dari season 2 series ini memang tidak menjawab cukup banyak pertanyaan.
Saya ingat betul ada video yang menunjukan Jung Kyung Ho pertama kali ditawarkan peran sebagai dokter di series ini. Jung Kyung Ho yang sebelumnya belum pernah memerankan peran dokter (berbeda dengan Yoo Yeonseok yang spesialis peran dokter) amat sangat senang dengan peran yang ditawarkan. Di video tersebut saya juga ingat betul disebutkan bahwa rencana dari project ini akan berlangsung hingga 3 season sehingga estimasi project ini selesai adalah di tahun 2022.
Namun saat episode 12 dari season 2 ini akan tayang, santer terdengar bahwa justru kemungkinan season 3 ada amatlah kecil. Tim Hospital Playlist memutuskan untuk membebaskan para aktor dan aktrisnya memilih project mereka sendiri kedepannya. Cukup unik karena saya pikir dari awal mereka di kontrak untuk 3 season, melihat situasi ini sepertinya kontrak mereka diperbaharui setiap pengerjaan season barunya akan dimulai.
Meskipun begitu, menurut saya ini ending dari season 2 ini masih bisa diterima karena ending ini juga merupakan salah satu ciri khas dari drama yang mengambil tema slice of life. Pada dasarnya memang life goes on. Banyaknya pertanyaan yang belum terjawab, cerita yang seakan masih bisa berkembang kedepannya, amat sangat mungkin untuk tidak diselesaikan secara clear. Karena di dalam kehidupan itu sendiri, apapun bisa terjadi. Kalau kita mau mencoba mereflect ke drama lain, kita bisa melihat perbandingan dari drama Life dan Sky Castle. Life mengambil tema konflik manajemen rumah sakit, yang di akhir seri juga tidak menjawab beberapa pertanyaan besar. Penonton pun merasa tidak puas dengan series ini, bahkan main leadnya – Cho Seungwoo juga menyadari hal tersebut. Namun disisi lain ada Sky Castle yang tidak merencakan untuk memiliki 20 episode lebih, justru dikritik karena episode tambahan yang ditampilkan terlalu sempurna atau terkesan fairy tale.
Dari contoh-contoh ini dan dari beragam drama korea yang saya tonton, lama kelamaan saya tidak terlalu peduli dengan ending dari drama-drama ini. Karena hal-hal seperti ini pada dasarnya disebabkan oleh banyak sekali faktor, yang kita sebagai penonton memang tidak akan pernah tau.
Namun memang alangkah baiknya jika memang tidak ada kepastian kedepannya, setidaknya penonton diberikan open ending yang tidak terlalu membuat penasaran (sehingga terus menagih season baru). Penonton bisa diberikan open ending yang memiliki kesan “nothing to loose“. Salah satu open ending yang saya suka adalah Designated Survivor: 60 Days. Open ending yang digunakan tidak membuat penonton berspekulasi banyak, namun akan sangat make sense jika ada season 2. Jika tidak adapun juga tidak apa-apa karena sudah banyak pertanyaan yang terjawab di season 1.
Apapun kondisinya, saya pribadi memberikan apresiasi sebesar-sebesarnya untuk seluruh tim production Hospital Playlist. Mulai dari senimatografi dan pengambilan gambar, akting dari para pemain, cerita dan moral value yang didapat, dan yang terpenting adalah pilihan lagu di setiap episode yang cocok dengan kisah yang dibawakan, merupakan kombinasi yang sempurna untuk mengemas sebuah drama medis bertema slice of life.
Thank you for creating such a heartwarming drama in this difficult time.