
Al Pacino. Robert de Niro.
Pertama kali saya melihat mereka dalam satu project film yang sama adalah di film The Godfather Part II. Sayangnya karena mereka memerankan peran Ayah-Anak dalam masa yang berbeda, kita tidak bisa melihat keduanya dalam satu frame yang sama. Namun cerita The Godfather yang membekas di hati banyak orang, serta akting luar biasa dari kedua legend ini membuat saya mencari tahu lebih banyak tentang mereka. Ketika membaca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa Al Pacino dan Robert de Niro akan bergabung dalam sebuah film berjudul The Irishman, saya otomatis langsung mencari trailer film ini di Youtube. Setelah menonton trailernya, saya berpikir kalau film ini sepertinya akan memiliki jalan cerita yang menarik.
Lucunya saya nggah ngeh kalau sutradara film ini adalah legend lain di industri film Hollywood. Martin Scorsese.
Diangkat dari kisah nyata, film The Irishman merupakan film yang diadaptasi dari buku I Heard You Paint Houses oleh Charles Brandt. Film ini menceritakan tentang Frank Sheeran (Robert de Niro), seorang supir truk yang bertemu dengan Russell Bufalino (Joe Pesci) dan akhirnya terlibat dalam urusan bisnis/mafianya. Sampai akhirnya juga berurusan dan bahkan menjadi sahabat/orang kepercayaan Jimmy Hoffa (Al Pacino). Jimmy Hoffa merupakan orang yang amat sangat berpengaruh di serikat pekerja pada saat itu.
Kalimat “I Heard You Paint Houses” yang awalnya saya anggap sepele, berhasil diceritakan dengan apik di film berdurasi 3 jam 29 menit ini. Frank Sheeran bercerita mengenai banyak hal yang terjadi di hidupnya dari tahun 1960an, mulai dari ketidaksengajaannya bekerja untuk Russell sampai keterlibatannya dalam hilangnya Jimmy Hoffa, yang masih menjadi misteri hingga hari ini.
Sebagai penonton, dengan project diisi oleh banyak pekerja seni yang handal, semua aspek dari akting, directing, apapun itu memang tidak diragukan lagi. Tapi satu hal yang ingin saya point out adalah akting tiga pemeran utama (Robert de Niro, Al Pacino, & Joe Pesci) yang berhasil memerankan berbagai macam usia dengan sangat mulus. Saya baru sadar ada beberapa scene dimana mereka harus berakting sebagai orang dengan usia yang jauh lebih muda dibanding aslinya. Contohnya, Al Pacino yang saat ini berusia 81 tahun, memiliki scene bersama keluarganya dan harus berakting selayaknya usia 50 tahun. Di dalam The Irishman: In Conversation, diceritakan bahwa hanya untuk berdiri, berbicara, sampai cara menuruni tangga, perlu dilakukan banyak latihan dan take demi menyesuaikan dengan usia yang diperankan.

Para crew film yang berusia seperti yang diperankan oleh para aktor saat itu pun tidak sungkan memberikan saran serta contoh akan bagaimana cara berjalan dan berdiri dari seorang laki-laki berusia 50 tahun.
Selain akting yang mendukung, saya juga tidak menyadari bahwa mereka menggunakan CGI yang membantu membuat wajah pemeran utama terlihat jauh lebih muda. Awalnya saya kira itu hanyalah make up, namun dari behind the scene diperlihatkan bahwa dalam take aslinya, banyak efek CGI yang diimplementasikan dalam pengerjaan film ini. Teknologi ini pun tidak hanya membuat kita sebagai penonton kagum, bahkan aktor dan sutradara senior yang ada di film ini juga tidak menyangka wajahnya akan berubah sebegitu mulusnya dengan bantuan teknologi.
Overall saya (dan Ayah saya) sangat menikmati alur cerita dari film ini. Banyak hal yang membuat film ini semakin menarik seperti gambar dan cinematography yang luar biasa cantiknya, konflik yang sangat beragam didalamnya, hingga nilai-nilai tentang keluarga, persahabatan, bahkan professionalitas yang juga berhasil dikemas dengan baik di film ini.
Saya bukan expert yang bisa memberikan rating penilaian untuk film, but all i can say is saking cantiknya film ini, saya bahkan lupa kalau mereka semua adalah seorang mafia.
But again, kembali ke kalimat pembuka saya dari tulisan ini.
Al Pacino. Robert de Niro.
Ditambah lagi Martin Scorsese. Joe Pesci.
Yakin project mereka bisa gagal?